SKANDAL besar ternyata tidak membuat FIFA merasa kehilangan legalitas dan kredibilitas. FIFA bahkan berupaya menunjukkan betapa seluruh aktivitas sepak bola di mana pun tidak boleh berjalan tanpa restu induk organisasi sepak bola dunia itu.
FIFA tanpa segan-segan mengeluarkan sanksi bagi negara-negara anggota yang dinilai tidak patuh terhadap aturan FIFA. Sanksi terbaru dikeluarkan FIFA, pekan lalu. Seusai menggelar pertemuan darurat Komite Eksekutif di Zurich, Swiss, Sabtu (30/5), FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia karena mereka menganggap ada intervensi pemerintah.
Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke-lah yang meneken surat pemberian sanksi itu dan mengabarkannya kepada Sekjen PSSI Azwan Karim. Melalui sanksi itu, FIFA melarang organisasi sepak bola Indonesia, PSSI, untuk bertanding dalam berbagai turnamen internasional.
Tidak hanya itu, dengan jatuhnya sanksi FIFA terhadap Indonesia tersebut, PSSI tidak diperkenankan menerima berbagai macam bentuk bantuan dari FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia.
Bentuk-bentuk bantuan yang tidak diperkenankan diterima Indonesia itu meliputi bantuan dana, program, dan kursus. Pelarangan untuk menerima bantuan itu baru dihentikan jika syarat-syarat yang ditetapkan FIFA sudah dipenuhi Indonesia.
Sanksi FIFA itu tentu menjadi sebuah pukulan tersendiri bagi persepakbolaan nasional. Kita sangat prihatin dan ikut menyesalkan diterimanya sanksi dari FIFA tersebut.
Tanpa sanksi dari FIFA pun sesungguhnya persoalan dalam dunia persepakbolaan kita sudah sangat berat. Selama puluhan tahun berbagai persoalan yang membelenggu sepak bola kita belum dapat diselesaikan dengan tuntas.
Hal itu tecermin pada buruknya prestasi sepak bola kita di level internasional dari waktu ke waktu.
Akan tetapi, sanksi sudah dijatuhkan FIFA. Kita tentu harus realistis dan menjalani sanksi yang telah dijatuhkan tersebut, suka atau tidak suka. Untuk menghadapi sanksi tersebut, kita pun sependapat dengan sikap Kementerian Pemuda dan Olahraga, yakni tidak perlu terlalu meratapi jatuhnya sanksi.
Pertama, karena sanksi FIFA itu tidak serta-merta mematikan seluruh aktivitas persepakbolaan kita. FIFA, misalnya, masih mengizinkan Indonesia untuk mengikuti turnamen internasional di level Asia Tenggara, khususnya bagi tim U-23. Tim U-23 kita tetap diberi kesempatan untuk dapat berlaga di SEA Games Singapura.
Kedua, seluruh aktivitas di dalam negeri masih tetap bisa diselenggarakan kendati kompetisi tersebut tidak diakui FIFA. Artinya, aktivitas klub dan seluruh event sepak bola masih bisa berlangsung sehingga denyut ekonomi dan sisi hiburan bagi rakyat tetap bisa berjalan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenpora juga sedang berupaya memperbaiki iklim persepakbolaan kita. Melalui keputusan Kemenpora membekukan PSSI dan membentuk Tim Transisi, kita melihat sesungguhnya upaya perbaikan tengah dijalankan.
Karena itu, kita mendorong agar sanksi FIFA itu tidak dianggap sebagai bencana. Bahkan, bisa jadi ia berkah untuk membenahi persepakbolaan nasional. Kita ingin sanksi FIFA itu menjadi momentum pembenahan tata kelola organisasi.
Itu penting agar saat sanksi itu kelak dicabut kembali, PSSI mampu menghasilkan prestasi yang tidak lagi memalukan.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.