Berkaca dari Skandal FIFA

29/5/2015 00:00
GEMERLAP sepak bola di muka bumi ini ternyata menyimpan bobrok dalam pengelolaannya. Suap, korupsi, patgulipat penjualan hak siar televisi ataupun pemilihan negara penyelenggara Piala Dunia, dan tudingan pencucian uang yang telah lama menjadi bahan gunjingan di tubuh induk organisasi sepak bola dunia (FIFA) ternyata menemui kebenaran. FIFA yang semestinya menegakkan hukum di dunia sepak bola, FIFA pula yang melanggar aturan-aturan hukum tersebut.

Kotak pandora kejahatan di tubuh FIFA itu diduga telah tersimpan selama lebih dari 24 tahun hingga akhirnya tujuh pejabat senior FIFA ditangkap polisi Swiss, termasuk wakil presiden Jeffrey Webb. Penangkapan tersebut terkait dengan penyelidikan Biro Investigasi Federal AS (FBI) tentang korupsi dan suap yang melibatkan para petinggi FIFA sejak 1990-an hingga saat ini. Termasuk di dalamnya pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 dengan nilai uang dalam pelanggaran itu ditaksir mencapai US$150 juta, hampir Rp2 triliun.

Kasus tersebut mencuat sekaligus meledak hanya berselang dua hari sebelum Kongres ke-65 FIFA memilih presiden, hari ini. Sang incumbent, Sepp Blatter, yang menjadi orang nomor satu di FIFA sejak 1998 atau empat periode, masih tetap mencalonkan diri. Skandal besar di FIFA tersebut jelas mengagetkan meski dugaan bahwa mereka menjadi sarang korupsi bukanlah hal yang baru.

Setiap skandal terbongkar, keprihatinan biasa mengiringi. Begitu pula kali ini, ketika FIFA yang sebenarnya bernapaskan sportivitas nyatanya sarat dengan penyimpangan. Hal itu harus menjadi titik tolak untuk pengelolaan sepak bola yang lebih transparan. Tak salah jika akhirnya Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) meminta penundaan kongres dengan mengutamakan penuntasan kasus terlebih dahulu.

FIFA juga harus membuktikan keseriusannya membongkar mafia yang telah menjadi kanker di tubuhnya. Tragedi korupsi itu tidak boleh terulang lagi. FIFA yang selama ini seperti mempunyai jagatnya sendiri, dengan aturan dan hukum sendiri yang terpisah dari kebijakan pemerintah, ternyata terbukti bobrok. FIFA yang selama ini dianggap sebagai 'tuhan' oleh para anggotanya, termasuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia yang dibekukan pemerintah, nyatanya menjadi sarang mafia.

Bukan tidak mungkin di negara kita juga begitu. Karena itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi tak usah takut, tak usah gentar. Terungkapnya skandal di FIFA harus menjadi penambah semangat bagi pemerintah untuk membenahi persepakbolaan nasional dari masalah serupa. FIFA yang selama ini diagung-agungkan PSSI, bahkan menjadi rujukan tunggal, sesungguhnya menyimpan masalah sangat besar.

Tekad Menpora untuk mewujudkan sepak bola nasional yang ditangani oleh orang-orang yang bersih, kredibel, serta dikelola secara profesional, tidak boleh kendur. Bangsa ini harus sadar, membangkitkan sepak bola nasional harus dimulai dengan memberangus mafia sepak bola. Penegak hukum harus proaktif mencium gelagat buruk dalam pengelolaan olahraga terpopuler sejagat ini.

Begitu juga, jika publik sayang terhadap persepakbolaan Tanah Air, laporkan bentuk kejahatan yang telah menjadi isu lama seperti pengaturan skor atau judi. Toh, pemerintah juga satu semangat untuk mengubah total wajah sepak bola nasional yang selama ini sarat cela. Berkaca dari terungkapnya skandal FIFA, inilah saatnya kita menjadikan sepak bola sebagai arena kebanggaan bangsa.






Berita Lainnya