Bersatu Memacu Pertumbuhan

08/5/2015 00:00
PERTUMBUHAN ekonomi sebuah negara tak mungkin terlepas dari stabil tidaknya politik dan keamanan. Ekonomi hanya bisa tumbuh jika politik dan keamanan stabil, begitu pula sebaliknya. Itulah rumus yang amat sederhana dan sangat gampang dipahami. Namun, di negeri ini, rumus yang begitu simpel terus saja menjadi persoalan pelik. Di satu sisi, kita ingin perekonomian tumbuh pesat, tetapi di sisi lain kita sulit menumbuhkan kestabilan politik sebagai penopang utama.

Kita yakin elite-elite politik di Republik ini sangat memahami pentingnya kestabilan politik demi terciptanya kestabilan ekonomi. Yang jadi soal, pemahaman seperti itu hanya berkutat di tataran pemikiran, tetapi jarang diimplementasikan dalam perilaku dan tindakan. Persatuan hanya ramai diobral lewat ucapan. Faktanya, mereka masih terbelenggu oleh nafsu untuk berpecah belah atas nama rivalitas yang sepertinya tiada ujung.

Elite-elite politik yang seharusnya memelopori ketenangan masih saja gigih memicu kegaduhan. Pada konteks itulah kita menyambut baik pidato Presiden Joko Widodo pada pelantikan pengurus DPP dan Rakernas I Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Rabu (6/5). Jokowi mengingatkan lagi pentingnya persatuan, persaudaraan, dan kerukunan seluruh elite, semua anak bangsa, demi terciptanya stabilitas politik dan keamanan.

"Kalau kita masih ribut sendiri di dalam negeri, ramai terus, tantangan kita makin berat," ujar Presiden yang juga mengapresiasi kehadiran seluruh pemimpin partai anggota Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat dalam acara tersebut. Apa yang disampaikan Presiden sejatinya bukan hal yang baru. Ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk merajut persatuan sudah sering diingatkan banyak kalangan.

Namun, peringatan Jokowi tersebut menemukan relevansinya karena saat ini negara memang sangat membutuhkan itu. Harus kita akui, kita tengah menghadapi tantangan luar biasa berat. Data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2015 hanya 4,71% atau lebih rendah ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar 5,14% tak bisa dipandang main-main.

Jelas bahwa pertumbuhan ekonomi kita melambat, daya beli rakyat pun menurun. Tekanan global yang terus memenetrasi perekonomian dalam negeri juga belum usai. Perlambatan ekonomi tak mungkin terus kita biarkan. Tekanan global mustahil kita hadapi dengan reaksi biasa-biasa saja. Harus ada tekad dan kemauan luar biasa dari seluruh elemen bangsa untuk mengatasi semua persoalan itu.

Sebagai sebuah keniscayaan demi membangkitkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan pun mesti kita ciptakan. Sudah terlalu lama elite-elite negeri ini membuang percuma energi hanya demi memuaskan syahwat persaingan politik sempit yang ujung-ujungnya berimbas buruk bagi pembangunan ekonomi. Setelah pilpres berakhir Juli lalu, rivalitas politik mestinya diarahkan untuk pertarungan memenangkan kepentingan rakyat.

Kalau mau bersaing lagi dalam politik praktis, tunggu saja pilkada serentak Desember nanti atau Pilpres 2019 mendatang. Untuk para pengusaha, berhentilah mengeluh karena keluhan tak mungkin bisa menyelesaikan persoalan. Perlambatan ekonomi memang tak menggembirakan, tetapi itu juga menjadi kesempatan bagi bangsa ini untuk unjuk kreativitas.





Berita Lainnya