SEPERTI menjadi semacam ritual, setiap peringatan Hari Buruh 1 Mei selalu dipuncaki dengan unjuk rasa buruh. Selama bertahun-tahun, termasuk hari ini, jalanan masih menjadi pilihan utama para buruh untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Tetapi, tahun ini ada sedikit fakta mencerahkan. Sejumlah unsur buruh berencana memanfaatkan peringatan Hari Buruh untuk menumbuhkan embrio pembentukan Partai Buruh. Mulai muncul kesadaran di kalangan buruh bahwa perjuangan untuk menuntut kesejahteraan mesti diartikulasikan lewat jalur politik. Melalui partai, perjuangan dapat digeser dari jalur parlemen jalanan ke jalur parlemen yang sesungguhnya.
Bagaimana pun, gerakan buruh sejatinya memang sebuah gerakan politik. Bukan sekadar gerakan moral. Buruh juga tak semestinya terus-terusan berperan sebagai kelompok penekan pemerintah. Dengan kekuatan yang dipunyai, baik massa maupun organisasi, mereka seharusnya mampu berada di barisan kelompok pemangku kepentingan.
Jika terus memosisikan diri sebagai kelompok penekan, suara buruh akan senantiasa berhadapan dengan tembok. Sekali waktu mungkin berhasil, tapi yang sering terjadi mereka gagal mendobrak tembok harapan yang pada sisi sebaliknya tentu disangga kepentingan-kepentingan lain yang berlawanan dengan kepentingan buruh.
Bila buruh betul-betul ingin memperjuangkan nasib dan kepentingan mereka, mengapa tak memilih jalan taktis dengan masuk sebagai bagian dari pengambil keputusan? Bila ingin suara mereka menjadi titah, mengapa tidak sekalian ikut dalam pertarungan untuk menjadi penguasa, atau setidaknya bagian dari kekuasaan?
Di alam demokrasi, tentu tidak ada yang salah dengan unjuk rasa dan demonstrasi. Selama masih patuh pada koridor hukum yang berlaku, sah-sah saja setiap orang atau kelompok menyuarakan kepentingannya dengan berdemonstrasi. Termasuk buruh dan organisasi buruh.
Namun, kiranya ada pilihan yang jauh lebih cerdas, lebih bermartabat, juga jauh lebih efektif ketimbang terus menerus meneriakkan tuntutan dan gugatan di jalanan. Untuk menempuh pilihan itu, jalan satu-satunya ialah dengan melembagakan kekuatan tersebut dalam bingkai partai politik berbasis buruh.
Hanya dengan wadah parpol, buruh bisa bertarung gagasan dan memperjuangkan kepentingannya di parlemen. Dengan parpol pula buruh punya kesempatan masuk dalam eksekutif sekaligus menjadi penentu kebijakan. Bukankah itu jauh lebih elegan dan efektif?
Benar bahwa untuk menyatukan buruh dalam satu wadah partai politik tidaklah mudah. Setiap buruh dan organisasi yang menaunginya pasti punya kepentingan yang berbeda-beda. Buruh di negeri ini juga pernah punya sejarah kegagalan dalam mengembangkan partai di awal-awal era reformasi. Partai Buruh saat itu layu tanpa sempat berkembang.
Tetapi, itulah yang disebut perjuangan. Tengoklah bagaimana Partai Buruh di Inggris dan Australia yang kini begitu kuat posisi politiknya, mereka pun mengawali dengan susah payah. Kekuatan yang mereka gapai sekarang bukanlah hasil perjuangan instan, melainkan perjalanan panjang menyatukan beragam kepentingan yang menyesakinya.
Forum ini sepakat peringatan Hari Buruh kali ini tak boleh lagi hanya dijejali dengan kampanye persoalan-persoalan normatif perburuhan, tapi menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran politik kaum buruh. Inilah saatnya mereka bangkit. Bukan dengan teriakan dan kepalan tangan, apalagi dengan cara anarkistis, melainkan dengan mengakumulasi serta melembagakan kekuatan yang mereka punya dalam wadah partai politik. Dengan begitu, demokrasi kita juga akan lebih sehat dan dewasa.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.