Mewujudkan Palestina Merdeka

22/4/2015 00:00
KEMERDEKAAN masih menjadi mimpi bagi Palestina. Bangsa yang ikut mendeklarasikan perang terhadap kolonialisme dan imperialisme saat Konferensi Asia Afrika (KAA) dideklarasikan di Bandung 60 tahun silam itu hingga hari ini masih berjuang meraih kedaulatan. Palestina menjadi satu-satunya negara deklarator yang hingga kini masih dalam belenggu pendudukan. Ironi itu ikut mewarnai suasana peringatan 60 tahun KAA di Jakarta dan Bandung hari-hari terakhir ini. Kita, bersama negara deklarator KAA lainnya, patut bersedih karena  perjuangan dan dukungan terhadap Palestina belum juga membuahkan hasil, yakni tegaknya kedaulatan dan kemerdekaan Palestina sebagai negara.

Sebagai bangsa, kita sesungguhnya berutang dukungan dari saudara-saudara kita di negeri itu. Tercatat dalam sejarah, Palestina-lah bangsa yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Saat Indonesia membutuhkan pengakuan internasional atas deklarasi kemerdekaan, rakyat Palestina-lah yang pertama kali mengakui kedaulatan kita. Bahkan, pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher tercatat ikut menyerahkan tabungan untuk membantu perjuangan kemerdekaan RI ketika itu.

Dalam konteks itu, kita mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo atas nama pemerintah Indonesia yang berniat membangun konsul kehormatan di Ramallah, Palestina. Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah di sela-sela agenda Asian African Business Summit di Jakarta Convention Center, kemarin, Presiden Jokowi menyatakan rencana itu ingin segera ia wujudkan. Presiden juga menyampaikan posisi tegas Indonesia yang memandang Palestina ialah satu-satunya negara yang masih berada dalam penjajahan, dan penjajahan itu mesti diakhiri, sekarang.

Kita terkejut sekaligus bangga atas pernyataan Presiden Jokowi tersebut. Kita tentu saja mendukung sepenuhnya pernyataan Presiden yang mewakili posisi rakyat Indonesia. Selain selaras dengan amanat konstitusi dalam mendukung penghapusan kolonialisme dan imperialisme, pernyataan Presiden juga merupakan bagian dari visi Nawa Cita sekaligus salah satu janji kampanye Jokowi-JK saat Pemilihan Presiden 2014. Menjadi kewajiban Jokowi-JK untuk mengimplementasikan kebijakan itu setelah menjabat sebagai RI-1 dan RI-2.

Meskipun pendirian kantor konsul kehormatan di Ramallah masih satu level di bawah Kantor Kedutaan RI yang saat ini berada di Amman, Yordania, jika diwujudkan segera, tetaplah hal itu merupakan langkah maju. Apalagi jika kelak Presiden meningkatkan status konsul kehormatan di Ramallah tersebut menjadi Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk negara Palestina. Kita mendorong agar pernyataan Presiden itu  ditindaklanjuti dengan implementasi konkret.

Di level diplomasi, kita juga mendorong Kemenlu RI dan pihak terkait penyelenggaraan peringatan 60 tahun KAA untuk menguatkan pesan politik Presiden dalam nota deklarasi. Kita tidak ingin event peringatan 60 tahun KAA hanya menjadi seremoni dan ajang romantisme. Kita mau forum itu menghasilkan dukungan riil yang kuat bagi terwujudnya Palestina merdeka.




Berita Lainnya