Pesan dari Jalan Munir

14/4/2015 00:00
HAKIKAT sesungguhnya melawan ketidakadilan ialah perjuangan melawan lupa. Perjuangan itu membutuhkan kesabaran dan tenaga sangat besar karena inilah negeri yang sering melupakan dan mengabaikan keadilan dalam penegakan hukum. Pengabaian itu dilakukan dengan kesadaran penuh. Kita sadar bahwa negara membiarkan pelaku kejahatan berkeliaran dalam gelap gulita padahal korbannya terang benderang. Tidak ada keinginan serius untuk membuka seterang-terangnya para pelaku kejahatan. Itulah yang terjadi dalam kasus kematian Munir.

Munir Said Thalib tewas dalam penerbangan dari Singapura menuju Amsterdam, Belanda, 17 September 2004. Kematian pejuang hak asasi manusia itu masih diselimuti teka-teki selama 11 tahun ini. Pengusutan, penyelidikan, penyidikan, bahkan pengadilan telah digelar. Namun, siapa yang paling bertanggung jawab atas kasus itu masih menjadi misteri.

Lebih ironis lagi, seiring dengan rezim penguasa negeri yang silih berganti, hingga kini janji pengusutan kasus Munir sebatas pemanis bibir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, pernah berjanji untuk mengungkap dalang pelaku pembunuhan Munir. Kasus Munir, katanya, menjadi ujian sejarah bangsa ini. Ujian sejarah itu masih berjalan dalam gelap hingga berakhir masa kepemimpinan Yudhoyono pada 20 Oktober 2014.

Presiden Joko Widodo, dalam janji kampanyenya, juga ingin menuntaskan kasus pembunuhan aktivis termasuk kasus Munir. Presiden berjanji mengedepankan penghormatan hak asasi manusia dan penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu. Sejauh ini belum ada tanda-tanda untuk merealisasikan janji tersebut.

Sejarah gelap gulita kasus Munir hanya mempertegas fakta bahwa pejuang hak asasi manusia tidak pernah dihargai di negerinya sendiri. Perjuangannya justru dihargai di negeri orang. Bentuk penghormatan atas Munir di negeri orang, antara lain, dengan pengabadian nama almarhum sebagai nama jalan di Kota Den Haag, Belanda.

Jalan itu diberi nama Munirpad: Munir Said Thalib 1965-2004, Indonesische Voorvechter van de Bescherming de Rechten van de Mens. Artinya, Jalan Munir: Munir Said Thalib 1965-2004, Pejuang Hak Asasi Manusia Indonesia. Kita mesti bangga karena nama Munir bersanding dengan pesohor dunia lain. Jalan Munir bersanding di sebuah kompleks dengan nama sejumlah tokoh aktivis kemanusiaan lain seperti Marthin Luther King, Nelson Mandela, Salvador Allende, dan Bunda Theresa.

Langkah Wali Kota Den Haag Jozias van Aartsen itu mengandung pesan moral luhur. Pesan moral tersirat bahwa dunia internasional tetap memantau penyelesaian kasus Munir. Harus tegas dikatakan bahwa tanpa tekanan internasional pun, kasus Munir harus dibuat terang benderang karena ada komitmen yang sangat kuat untuk menghadirkan keadilan.

Jalan Munir memberi pesan yang sangat kuat dan tegas agar negara selalu hadir. Penyelesaian tuntas kasus Munir, termasuk penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehadiran negara untuk melindungi seluruh warga. Kita sangat berharap Presiden Jokowi melaksanakan pesan tersebut. Apalagi, Jokowi berkomitmen kuat menyelesaikan kasus Munir sebagai wujud kehadiran negara meski komitmen itu belum nyata dalam enam bulan pertama pemerintahannya. Kita berharap di tangan Jokowi pengungkapan dan penyelesaian kasus Munir tidak bernasib sama seperti ketika berada di tangan presiden sebelumnya, sekadar janji yang tak kunjung terealisasi.





Berita Lainnya