HARGA bahan bakar minyak (BBM) naik lagi per 28 Maret lalu. Keesokan harinya, masyarakat serta-merta harus membayar ongkos angkutan umum perkotaan dengan tarif yang lebih tinggi. Mau tidak mau, masyarakat mesti mengencangkan ikat pinggang.
Tiga hari berselang, konsumen dikagetkan dengan pengakuan Pertamina bahwa harga elpiji 12 kilogram naik lagi. Tidak ada pilihan bagi mereka kecuali menghemat pengeluaran di bagian lain.
Di saat yang sama, terungkap bahwa pemerintah menaikkan tunjangan uang muka mobil bagi pejabat negara nyaris dua kali lipat. Peraturan Presiden No 39 Tahun 2015 menyebutkan tunjangan tersebut menjadi sebesar Rp210,89 juta, dari sebelumnya Rp116,65 juta.
Itu jelas kebijakan yang membuat rakyat terhenyak. Pemerintah berdalih tunjangan uang muka mobil tersebut naik karena menyesuaikan dengan laju inflasi. Tunjangan sebesar Rp116,65 juta yang berlaku sejak lima tahun lalu itu, katanya, tidak lagi mencukupi.
Mari kita berhitung. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2010 inflasi tercatat 6,96%. Kemudian, 2011 sebesar 3,79%, 2012 4,3%, 2013 8,38%, dan tahun lalu sebesar 8,36%. Jika laju inflasi tersebut menjadi patokan, tunjangan uang muka mobil pejabat seharusnya menjadi Rp158,63 juta, bukan Rp210,89 juta. Itu baru ilustrasi tanpa memperhitungkan perasaan rakyat.
Nilai tunjangan uang muka mobil pejabat negara jauh melebihi uang muka kepemilikan rumah bersubsidi bagi rakyat. Bisa dibayangkan seberapa mewah mobil yang menjadi sasaran untuk dibeli.
Bila ditilik lebih jauh lagi, ada kesenjangan yang tercipta. Masyarakat harus mengencangkan ikat pinggang lagi dan lagi, demi menghasilkan ruang fiskal yang longgar di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.
Banyak di antara masyarakat kelompok menengah atas menyadari bahwa subsidi energi sudah terlampau membebani. Mereka tidak ingin egois mengorbankan kepentingan pembangunan.
Di sisi lain, pemerintah pun menggembar-gemborkan penghematan anggaran agar dapat dialihkan untuk sebesar-besarnya ke proyek infrastruktur. Kenyataannya pos belanja subsidi energi saja yang mendapat pemangkasan masif. Belanja birokrasi dibiarkan membesar seiring dengan pembengkakan tunjangan bagi pejabat negara, hanya agar mereka bisa mempertahankan gaya hidup mewah.
Akan lebih baik bila mobil yang menjadi sasaran ialah dari kelompok mobil murah dan ramah lingkungan. Hal itu bukan saja akan menjadikan kebutuhan uang muka lebih rendah, melainkan juga mendukung upaya penghematan BBM.
Jika ingin membuat terobosan, sokong pengembangan transportasi publik dengan menjadi penggunanya. Semua pejabat negara boleh memakai semua jenis angkutan umum dengan gratis, biaya ditanggung negara. Tinggal tunjukkan kartu anggota atau identitas sebagai pejabat negara ke sopir. Beres, kan?
Negara hemat, kualitas transportasi publik pun semakin baik karena para pembuat kebijakan juga merupakan penggunanya. Para pejabat pun bisa merasakan amanat penderitaan rakyat pengguna transportasi publik yang sungguh masih sumpek saat ini.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.