Setara Menangani Bencana

15/2/2014 00:00
SETIAP terjadi erupsi gunung berapi, saban itu pula kita sebetulnya diingatkan bahwa negeri ini memang sangat akrab dengan bencana alam. Dalam sentuhan geologis, Indonesia merupakan negeri di atas bencana.

Indonesia termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire) yang memiliki potensi bencana alam cukup tinggi. Itu karena negeri ini berada di antara wilayah lintasan dua jalur pegunungan, yaitu pegunungan sirkum Pasifik dan sirkum Mediterania yang terdapat banyak gunung berapi.

Maka, ketika Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, meletus dahsyat pada Kamis (13/2) malam lalu, sudah sewajarnya jika kita lebih sigap menyikapinya. Dengan langkah yang cepat dan tepat, korban jiwa bisa diminimalkan.

Hingga detik ini, kita menyaksikan gerak sigap telah dilakukan para pemangku kepentingan dalam penanganan dampak erupsi Gunung Kelud. Pos-pos pengungsian sudah disediakan begitu status Kelud dinaikkan dari aktif normal ke waspada beberapa waktu lalu.

Selain itu, peringatan ihwal area yang harus dikosongkan juga diperluas, dari radius 5 kilometer pada Sinabung menjadi 10 kilometer pada Gunung Kelud. Otoritas di tujuh bandara di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat juga bertindak cepat menutup bandara demi meminimalkan bahaya.

Maklum, erupsi gunung berketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut tersebut bisa memuntahkan lebih dari 200 juta ton meter kubik material padat. Abu vulkanis Kelud pun menyembur hingga ratusan kilometer.

Karena itu, langkah responsif yang ditunjukkan para pemangku kepentingan tersebut patut kita apresiasi. Tentu, itu semua terjadi juga berkat kerja sama dan kemauan masyarakat untuk mengikuti perintah para pemilik otoritas untuk mengosongkan wilayah sekitar Kelud. Tanpa ada kerja sama, kemauan, kepatuhan, dan kepercayaan masyarakat segala aturan dan imbauan sulit dilakukan. Itulah yang terjadi ketika erupsi Gunung Sinabung beberapa pekan lalu.

Cukuplah tragedi sebelumnya sebagai pengingat agar kita tak mengulangi keteledoran dan ketidaksigapan. Negara harus hadir dan dirasakan kehadirannya, apalagi ketika rakyat tengah dirundung kemalangan. Sebaliknya rakyat harus menaati panduan yang sudah diberikan oleh pemegang otoritas dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Bencana juga memberikan pesan penting, ketika negara hadir dan dirasakan kehadirannya, kepercayaan rakyat akan tumbuh. Pada gilirannya, mereka pun akan patuh dan percaya akan apa yang diperingatkan oleh pemangku kebijakan.

Kita juga menuntut penanganan bencana di mana pun di Indonesia punya standar setara agar publik tak curiga ada dusta dan diskriminasi di antara kita. Dengan begitu, erosi kepercayaan publik atas pemerintah yang berada di titik nadir, pelan-pelan akan hilang.


Berita Lainnya