Merajut Harmoni Berantas Korupsi

24/2/2015 00:00
PERANG melawan korupsi di negeri ini ialah perang dengan skala sangat besar. Diperlukan kekuatan teramat besar untuk menghadapinya. Tiada alasan bagi bangsa ini untuk tidak menurunkan kekuatan penuh. Kolaborasi seluruh penegak hukum pun menjadi kemestian. Berulang kali kita suarakan bahwa korupsi telah menjadi salah satu musuh paling mengerikan. Amat sering kita ingatkan bahwa korupsi ialah kejahatan luar biasa yang wajib dilawan dengan kemauan, semangat, dan keberanian luar biasa pula.

Perang melawan korupsi ialah perang sungguhan, bukan perang-perangan. Untuk menjadi pemenang dalam perang itu, bangsa ini jelas tidak boleh setengah-setengah. Totalitas menjadi mutlak. Sinergi seluruh anak bangsa, utamanya penegak hukum sebagai ujung tombak, merupakan syarat yang tak bisa ditawar. Sayangnya, syarat-syarat ideal itu selama ini belum dijalankan. Tiga garda terdepan dalam perang melawan korupsi, yakni Polri, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi, belum sepenuhnya menyatu menjadi sebuah kekuatan dahsyat.

Egoisme institusi mengakar kuat, kadang malah memantik konflik di antara mereka. Ada yang terkesan mentang-mentang, merasa lebih hebat daripada lembaga penegak hukum lain. Di sisi lain, ada lembaga yang komitmen pemberantasan korupsinya diragukan. Kisruh antara KPK dan Polri belakangan ini ialah bukti tak terbantahkan betapa sinergi yang kerap mereka gembar-gemborkan sekadar pemanis bibir. Sulit diingkari bahwa sebenarnya di antara mereka masih bercokol rivalitas yang tak sehat.

Pada konteks itulah kita menyambut baik langkah KPK di bawah komandan Plt Ketua Taufiequrachman Ruki. KPK baru dengan semangat baru, itulah yang hendak ditunjukkan Ruki dan kawan-kawan. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa KPK tak mungkin bekerja sendirian tanpa bekerja sama dengan Polri dan kejaksaan. KPK juga paham, kerja sama itu tak mungkin terajut dengan apik jika komunikasi buruk. Mereka langsung berusaha menjahit kembali hubungan dengan Polri yang sempat terkoyak dengan bertemu pimpinan Polri. Setelah itu, pimpinan KPK bertandang ke Kejaksaan Agung.

Kita lega, amat lega, KPK dan Polri kembali akur. Kita juga senang, amat senang, KPK berinisiatif semakin merekatkan sinergi dengan kejaksaan. Lagi pula, bukankah KPK sebenarnya amat bergantung kepada Polri dan kejaksaan lantaran penyidik sebagian besar berasal dari kedua saudara tua mereka itu? Ibarat orkestra, Polri, kejaksaan, dan KPK harus selaras untuk bisa membuahkan harmoni dalam melawan korupsi. Namun, harmoni akan tercipta bila tidak ada yang mentang-mentang, merasa lebih hebat daripada yang lainnya. Harmoni hanya bisa tercipta dalam kesetaraan.

Itulah modal yang dibutuhkan Republik ini untuk bisa memenangi perang panjang nan melelahkan melawan korupsi. Namun, kita juga perlu mengingatkan, sinergi yang mereka bangun harus murni didasari tekad dan semangat yang sama untuk memberangus para pelancung tanpa pandang bulu. Jangan sampai kolaborasi KPK, Polri, dan kejaksaan menjelma menjadi persekutuan jahat yang justru merupakan langkah mundur dalam perang melawan korupsi.






Berita Lainnya