Harga Mahal Keselamatan Penerbangan

03/1/2015 00:00
DALAM sebuah industri yang menyimpan potensi risiko teramat besar, seperti industri jasa penerbangan, pengabaian terhadap regulasi keselamatan merupakan sebuah kecerobohan luar biasa. Menganggap sepele aturan dan kemudian melaksanakannya tanpa keseriusan tinggi sama artinya dengan mempermainkan nyawa para pengguna jasa dengan sia-sia.

Itulah salah satu pelajaran mahapenting yang bisa kita ambil dari jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501, Minggu (28/12) pagi lalu. Pelajaran iti ialah pentingnya kepatuhan terhadap satu ketentuan dan prosedur keselamatan mesti menjadi prioritas utama para pelaku industri penerbangan dalam menjalankan bisnisnya. Tidak ada ruang untuk bermain-main dengan keselamatan, sesepele apa pun aturan itu.

Dalam kasus tragedi jatuhnya QZ 8501, kotak hitam sebagai pemecah misteri penyebab jatuhnya pesawat jurusan Surabaya-Singapura itu memang belum ditemukan, tetapi fakta bahwa manajemen Airasia telah mengabaikan laporan cuaca BMKG sebelum pesawat lepas landas, sangat mungkin menjadi pemicu awal terjadinya peristiwa tersebut.

Amat aneh dan tidak masuk akal kita ketika untuk pesawat yang terbang pukul 06.00, Airasia baru minta prakiraan cuaca ke BMKG pukul 07.00. Itu pun setelah pesawat hilang kontak. Padahal, sesuai regulasi, laporan cuaca itu menjadi salah satu poin yang mesti dijelaskan pada saat briefing pilot sebelum mereka terbang. Celakanya lagi, briefing pilot kerap tidak dilakukan oleh Flight Operation Officer (FOO), termasuk kepada pilot QZ 8501.

Selain kelalaian manusia dan masalah teknis, cuaca  memang bisa menjadi  penyebab kecelakaan pesawat. Namun, kita tak bisa mengambinghitamkan cuaca bila  kecelakaan disebabkan maskalai menyepelekan laporan cuaca dari pihak berwenang. Kita mesti mencatat kecelakaan itu sebagai akibat kelalaian manusia, bukan keganasan alam.

Kita bukan ingin memberikan kesimpulan dini bahwa faktor pengabaian laporan cuaca itu sebagai satu-satunya penyebab jatuhnya QZ 8501. Tetapi kita ingin fakta itu betul-betul ditelusuri agar tak menjadi spekulasi di saat upaya pencarian penyebab kecelakaan itu tengah dilakukan.

Apalagi, tragedi itu juga menyingkap tabir bahwa selama ini banyak maskapai penerbangan, tak hanya AirAsia, yang ternyata tidak pernah mengambil laporan cuaca untuk penerbangan yang disebut terminal aerodrome forecast (TAF) dari BMKG. Padahal, menurut BMKG, TAF merupakan dokumen penting penerbangan. Isinya tentang prediksi kondisi cuaca di bandara asal, bandara yang dituju, dan alternatif bandara untuk mendarat dalam kondisi darurat.

Karena itu, di sisi lain, kita ingin ke depan pemerintah berlaku tegas terhadap maskapai nakal yang gemar menyepelekan aturan. Bila perlu pemerintah harus berlaku keras. Cabut izin atau pembekuan izin mungkin akan menjadi hukuman setimpal buat maskapai yang masih saja bermain-main dengan aturan keselamatan.

Kita cukup mengapresiasi langkah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang langsung melakukan sidak ke se

Berita Lainnya