Memenangi Tantangan 2015

01/1/2015 00:00
TAHUN 2014 baru dalam hitungan jam kita lalui.  Kini, kaki kita sudah
menginjak tahun 2015.  Lazimnya pergantian tahun, selalu ada refleksi
perjalanan yang kita lakukan untuk menentukan resolusi masa depan.

Sayangnya, perjalanan pergantian tahun kali ini mesti kita lalui dengan
kegetiran. Dua musibah besar dalam jeda yang sangat singkat menjadi
catatan kesedihan penutup tahun.

Belum kering air mata kesedihan akibat longsor di Dusun Jemblung,
Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang merenggut lebih dari 100
jiwa, kita kembali harus menangisi tragedi dahsyat yang menimpa anak
bangsa, yakni jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Pesawat yang terbang
dari Bandara Juanda Surabaya tujuan Singapura yang mengangkut 155
penumpang  itu hilang kontak lalu ditemukan jatuh di perairan dekat
Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Kita berduka amat dalam atas traged itu. Kita juga mengapresiasi kerja
tim pencari pesawat yang hilang baik dari Basarnas, TNI, Polri, dan tim
lainnya yang berkat kegigihan mereka jejak pesawat dan korban bisa
ditemukan dalam waktu relative cepat.

Tapi, sebaik-baik duka ialah yang disertai kemampuan untuk memperbaiki
sumber dari tragedi itu. Pada titik itulah, mitigasi  merupakan
keniscayaan.

Dalam hal transportasi udara, tragedi Air Asia mesti melecut para
regulator dan seluruh pemangku kepentingan untuk tak sedikitpun
menoleransi standar tinggi keselamatan penerbangan. Dengan begitu, tahun
2015 mestinya menerbitkan resolusi untuk selamat tinggal tragedi.
Jikapun  harus terjadi, itu bukan karena kelalaian akibat mengabaikan
standar keselamatan atau mitigasi.

Selain dua tragedi penutup tahun itu, sebenarnya perjalanan Republik ini
di 2014 terbilang sangat mulus, khususnya di bidang politik. Dua even
politik, yakni Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden,
berlangsung relatif sukses tanpa gejolak berarti.

Munculnya politik kesukarelaan yang sangat masif membuat wajah
demokrasi di negeri ini makin bersinar. Selain itu, 'pembelahan' pilihan
politik mampu disikapi oleh masyarakat dengan sangat dewasa.

Karena itulah, kekhawatiran bakal munculnya instabilitas yang berpotensi
menciptakan turbulensi ekonomi bisa dihindari. Itu semua menjadi modal
penting memasuki tahun 2015. Tantangannya ialah bagaimana 'pembelahan'
politik sebagai residu kontestasi politik di 2014 tidak berujung pada
upaya terus-menerus merongrong efektivitas pemerintahan.

Jika itu bisa dilakukan, tantangan ekonomi di 2015 yang belum sepenuhnya
reda akibat masih tingginya ancaman defisit transaksi neraca berjalan
bisa diatasi. Apalagi sebagian dari ancaman defisit akibat tingginya
impor minyak dan beban subsidi yang salah sasaran sudah dipecahkan.
Itulah yang dilakukan lewat rupa-rupa kebijakan, di antaranya penaikan
harga bahan bakar minyak dan reformasi tata kelola migas.

Modal positif mengarungi 2015 bertambah setelah salah satu indikator
ekonomi, yakni indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia
ditutup berada di jalur hijau. Bahkan, salama 2014 indeks naik
signifikan, yakni 22,29% jika dibandingkan dengan pembukaan awal tahun
2014.

Namun, tantangan di 2015 tak boleh dianggap enteng. Di bidang politik,
negeri ini masih harus menghadapi 'kegaduhan remeh temeh' yang kerap
menyita perhatian. Perilaku elite politik yang belum sepenuhnya bergerak
menuju pendulum sebagai negarawan bisa juga menjadi batu sandungan.

Di bidang ekonomi, tantangan paling besar ialah mempersiapkan diri
menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN di penghujung 2015. Kita layak sedikit
waswas menghadapi itu karena persiapan kita yang minim bila dibandingan
dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Daya saing sumber daya anak
bangsa masih harus dilecut lagi untuk bisa menyongsong MEA dengan kepala
tegak.

Di tengah rupa-rupa tantangan itulah kita masuki tahun 2015. Namun, para
pendiri Republik ini sudah membekali kita untuk tak takut tantangan.
Sebab, para pemenang ialah mereka yang menjadikan tantangan sebagai
kesempatan emas memenangi pertarungan. Selamat Tahun Baru.


Berita Lainnya