TAHUN 2014 baru dalam hitungan jam kita lalui. Kini, kaki kita sudah
menginjak tahun 2015. Lazimnya pergantian tahun, selalu ada refleksi
perjalanan yang kita lakukan untuk menentukan resolusi masa depan.
Sayangnya, perjalanan pergantian tahun kali ini mesti kita lalui dengan
kegetiran. Dua musibah besar dalam jeda yang sangat singkat menjadi
catatan kesedihan penutup tahun.
Belum kering air mata kesedihan akibat longsor di Dusun Jemblung,
Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang merenggut lebih dari 100
jiwa, kita kembali harus menangisi tragedi dahsyat yang menimpa anak
bangsa, yakni jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Pesawat yang terbang
dari Bandara Juanda Surabaya tujuan Singapura yang mengangkut 155
penumpang itu hilang kontak lalu ditemukan jatuh di perairan dekat
Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Kita berduka amat dalam atas traged itu. Kita juga mengapresiasi kerja
tim pencari pesawat yang hilang baik dari Basarnas, TNI, Polri, dan tim
lainnya yang berkat kegigihan mereka jejak pesawat dan korban bisa
ditemukan dalam waktu relative cepat.
Tapi, sebaik-baik duka ialah yang disertai kemampuan untuk memperbaiki
sumber dari tragedi itu. Pada titik itulah, mitigasi merupakan
keniscayaan.
Dalam hal transportasi udara, tragedi Air Asia mesti melecut para
regulator dan seluruh pemangku kepentingan untuk tak sedikitpun
menoleransi standar tinggi keselamatan penerbangan. Dengan begitu, tahun
2015 mestinya menerbitkan resolusi untuk selamat tinggal tragedi.
Jikapun harus terjadi, itu bukan karena kelalaian akibat mengabaikan
standar keselamatan atau mitigasi.
Selain dua tragedi penutup tahun itu, sebenarnya perjalanan Republik ini
di 2014 terbilang sangat mulus, khususnya di bidang politik. Dua even
politik, yakni Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden,
berlangsung relatif sukses tanpa gejolak berarti.
Munculnya politik kesukarelaan yang sangat masif membuat wajah
demokrasi di negeri ini makin bersinar. Selain itu, 'pembelahan' pilihan
politik mampu disikapi oleh masyarakat dengan sangat dewasa.
Karena itulah, kekhawatiran bakal munculnya instabilitas yang berpotensi
menciptakan turbulensi ekonomi bisa dihindari. Itu semua menjadi modal
penting memasuki tahun 2015. Tantangannya ialah bagaimana 'pembelahan'
politik sebagai residu kontestasi politik di 2014 tidak berujung pada
upaya terus-menerus merongrong efektivitas pemerintahan.
Jika itu bisa dilakukan, tantangan ekonomi di 2015 yang belum sepenuhnya
reda akibat masih tingginya ancaman defisit transaksi neraca berjalan
bisa diatasi. Apalagi sebagian dari ancaman defisit akibat tingginya
impor minyak dan beban subsidi yang salah sasaran sudah dipecahkan.
Itulah yang dilakukan lewat rupa-rupa kebijakan, di antaranya penaikan
harga bahan bakar minyak dan reformasi tata kelola migas.
Modal positif mengarungi 2015 bertambah setelah salah satu indikator
ekonomi, yakni indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia
ditutup berada di jalur hijau. Bahkan, salama 2014 indeks naik
signifikan, yakni 22,29% jika dibandingkan dengan pembukaan awal tahun
2014.
Namun, tantangan di 2015 tak boleh dianggap enteng. Di bidang politik,
negeri ini masih harus menghadapi 'kegaduhan remeh temeh' yang kerap
menyita perhatian. Perilaku elite politik yang belum sepenuhnya bergerak
menuju pendulum sebagai negarawan bisa juga menjadi batu sandungan.
Di bidang ekonomi, tantangan paling besar ialah mempersiapkan diri
menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN di penghujung 2015. Kita layak sedikit
waswas menghadapi itu karena persiapan kita yang minim bila dibandingan
dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Daya saing sumber daya anak
bangsa masih harus dilecut lagi untuk bisa menyongsong MEA dengan kepala
tegak.
Di tengah rupa-rupa tantangan itulah kita masuki tahun 2015. Namun, para
pendiri Republik ini sudah membekali kita untuk tak takut tantangan.
Sebab, para pemenang ialah mereka yang menjadikan tantangan sebagai
kesempatan emas memenangi pertarungan. Selamat Tahun Baru.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.