Memacu Investasi Pascatsunami

26/12/2014 00:00
TRAGEDI tsunami Aceh, juga Nias, telah satu dekade berlalu. Sudah saatnya rakyat Aceh benar-benar bangkit menyongsong kebangkitan dan mengoptimalkan segala potensi untuk menyejahterakan diri. Benar bahwa tragedi tak terperikan itu tak mungkin hilang dari ingatan sampai kapan pun. Mustahil kita melupakan betapa amuk alam telah merenggut lebih dari 200 ribu nyawa manusia serta meluluhlantakkan ratusan ribu bangunan dan infrastruktur. Itulah bencana superdahyat yang pernah terjadi di kolong langit ini.

Kita memang patut terus mengenang bencana tsunami nan memilukan tersebut. Namun, kita pantang larut di dalamnya, pantang terus-menerus terjebak dalam narasi dukacita. Senantiasa ada blessing in disguise, hikmah tersembunyi di balik setiap musibah. Pun demikian tsunami Aceh yang kemudian menjadi inspirasi perdamaian di  Bumi Serambi Mekah. Tsunami telah membangunkan solidaritas masyarakat dunia.

Akibat tsunami pula, pembangunan di Aceh menggeliat. Namun, harus kita katakan, pembangunan itu masih sangat amat tertatih-tatih jika dibandingan dengan potensi yang tersedia. Meski tsunami telah 10 tahun berlalu, Aceh belum mampu memikat para investor besar untuk menanam-kan modal mereka. Data yang dilansir Bank Indonesia pada November silam memperlihatkan investasi di Aceh justru mengalami perlambatan pada triwulan III 2014, dari 5,6% pada triwulan sebelumnya menjadi 4,8%.

Perlambatan itu juga tecermin dari menurunnya pertumbuhan realisasi investasi modal asing sebesar 23% ketimbang periode yang sama pada 2013. Demikian pula dengan penanamam modal dalam negeri yang merosot 21%. Mantan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto baru-baru ini bahkan menegaskan belum ada satu pun investor besar yang mau masuk ke Tanang Rencong.

Gubernur dengan berbagai latar belakang mulai dari profesor hingga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka silih berganti memimpin Aceh. Hanya saja, belum satu pun dari mereka mampu mengkreasi Aceh sebagai destinasi yang menggiurkan bagi investor. Investor akan tertarik menanamkan uangnya jika suatu daerah bisa menjamin tiga pilar, yakni potensi ekonomi, sosial politik, dan keamanan.

Soal potensi ekonomi, Aceh sejatinya punya segalanya. Provinsi ujung barat Indonesia ini tercipta dengan limpahan sumber daya alam luar biasa mulai dari perikanan, perkebunan, hingga pertambangan. Namun, sekali lagi, seabrek potensi itu tak digarap dengan apik. Faktor sosial politik dan keamanan harus kita katakan masih menjadi hambatan. Sebagai bekas daerah konflik, Aceh masih menyimpan berbagai persoalan rumit di masyarakat. Kontraktor dadakan hingga preman proyek muncul di mana-mana.

Belum lagi, adanya peraturan daerah atau kanun yang kurang bersahabat pada investor. Segala hambatan tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka sudah waktunya diakhiri. Rakyat suatu daerah hanya bisa sejahtera jika ada pembangunan, dan pembangunan hanya bisa lincah bergerak jika ada iklim usaha yang kondusif. Lepas dari dampak yang begitu memilukan, megatsunami pada 26 Desember 2004 silam bisa dipandang sebagai momentum bagi Aceh untuk secepatnya membangun diri. Memacu investasi pun menjadi sebuah kemestian agar Aceh bisa berlari.



Berita Lainnya