Memacu Kesejahteraan Merawat Kepercayaan

22/12/2014 00:00
NEGARA hadir tiada lain untuk menyejahterakan rakyatnya. Bila suatu negara tak memperlihatkan tanda-tanda rakyatnya bakal makmur, eksistensi negara akan kabur. Kesejahteraan secara ekonomi ditunjukkan pertumbuhan dan pemerataan. Bila kesenjangan menganga, jika kekayaan tidak terdistribusi secara merata, sebuah negara tidak bisa dikatakan sejahtera meski pertumbuhan ekonominya membubung.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tengah berjibaku menghadirkan pertumbuhan dan pemerataan. Itu memang bukan tantangan ringan. Pertumbuhan ekonomi 2015 diprediksi tidak terlalu buruk, di atas 5%. Namun, pemerintahan Jokowi-JK telanjur bertekad mencapai pertumbuhan ekonomi 7%. Mereka mau tidak mau harus mewujudkannya agar kepercayaan rakyat tak memudar.

Yang mengkhawatirkan ialah kesenjangan. Indeks Gini ratio kita dewasa ini sebesar 0,43. Itu menunjukkan kesenjangan ekonomi di negeri ini berada pada taraf lampu kuning. Itu artinya tantangan lebih besar bagi Jokow-JK datang dari kenyataan kesenjangan di negeri ini yang makin menganga. Banyak negara sukses memacu pertumbuhan ekonomi, tetapi gagal mendistribusikannya secara merata.

Pemerintahan Jokowi-JK berupaya mencapai pertumbuhan dan pemerataan antara lain dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan baru, terutama di Indonesia Timur. Kita hanya mengingatkan pembangunan sentra-sentra pertumbuhan di kawasan timur Indonesia hendaknya diikuti peningkatan keterampilan masyarakat di sana. Negara-negara yang sukses mendistribusikan pertumbuhan ekonomi ialah mereka yang juga sukses meningkatkan keterampilan rakyat mereka.

Bila kita tak kuasa meningkatkan keterampilan rakyat, tetap saja orang-orang dari kawasan Indonesia Barat, bahkan orang-orang asing, yang bekerja dan menikmati pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru itu. Peningkatan keterampilan rakyat setempat membuat mereka memiliki akses ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sehingga pemerataan pendapatan bisa kita capai.

Pemerintahan Jokowi-JK sesungguhnya memiliki modal sosial untuk menghadirkan kesejahteraan rakyat. Modal sosial itu ialah dukungan rakyat. Survei Cyrus Network terkait dengan 100 hari masa pemerintahan menunjukkan 70% rakyat percaya Jokowi-JK mampu menghadirkan perubahan.

Namun, survei itu juga memperlihatkan data bahwa bila pemilu dilakukan pada hari survei, sekitar 52% rakyat akan memilih Jokowi-JK. Jumlah itu turun sekitar 2% jika dibandingkan dengan perolehan suara Jokowi-JK yang mencapai sekitar 54%. Itu peringatan buat Jokowi-JK.

Dengan begitu, dua data dari survei itu harus dibaca sebagai modal sekaligus peringatan agar Jokowi-JK terus merawat kepercayaan rakyat agar tak terus tergerus. Jokowi-JK harus membuktikan bahwa mereka mampu membuat perubahan, sanggup menghadirkan kesejahteraan, dengan mengubah kemandekan menjadi pertumbuhan, kesenjangan menjadi pemerataan.


Berita Lainnya