Solidaritas Lintas Identitas

18/12/2014 00:00
TIDAK sedikit orang di kolong langit ini yang berasumsi agama itu pangkal kekerasan. Tak terkecuali dalam kasus penyanderaan di Lindt Chocolat Cafe, Martin Place, Sydney, Australia, Senin (15/12).

Awalnya peristiwa penyanderaan itu direka-reka sebagai teror berbalut agama hanya lantaran penyandera kebetulan imigran asal Iran bernama Man Haron Monis.

Itulah sebabnya seluruh penganut Islam di 'Negeri Kanguru' seperti dilanda kekhawatiran akan menjadi sasaran umpatan, bahkan kekerasan fisik sebagai balasan.

Seorang perempuan muslim berjilbab diam-diam melepas jilbabnya ketika hendak turun dari kereta yang ditumpanginya.

Namun, seorang guru bernama Rachel Jacobs yang sebelumnya duduk di sebelah perempuan yang melepas jilbabnya itu mengejarnya dan membujuknya untuk kembali mengenakan jilbab.
Jacobs juga meyakinkan perempuan itu bahwa ia akan berjalan bersamanya.

Jacobs lalu tampil menjadi inspirator dengan membuat suasana di kalangan warga Australia teduh. Melalui kampanye di media sosial, ia menggalang solidaritas dengan tagar #illridewithyou yang diikuti lebih dari 120 ribu kicauan.

Lewat aksinya, Jacobs hendak mengajak warga Australia untuk melindungi kelompok minoritas.

Aksi Jacobs dan warga Australia menyampaikan dua pesan sangat kuat ke seluruh penjuru dunia.

Pertama, orang tidak lagi percaya bahwa agama itu akar kekerasan dan teror. Bila ada kelompok-kelompok yang menebar teror atas nama agama, mereka sebetulnya telah membajak agama.

Tak ada agama yang membenarkan kekerasan. Mereka sekadar mengemas ambisi politik, kekuasaan, dan ekonomi dengan agama. Oleh karena itu, hentikanlah berbagai kekerasan atau teror atas nama agama dan atas nama apa pun.

Kedua, solidaritas di kalangan warga dunia bertumbuh melintas batas-batas identitas. Warga dunia yang berbeda identitas semestinya berjalan beriringan, bukan berseberangan.

Solidaritas itu indah dan menyejukkan. Tengoklah betapa sejuk dan indahnya ketika kita menyaksikan gambar sekelompok muslimah berjilbab memanjatkan doa setelah meletakkan karangan bunga di lokasi penyanderaan. Padahal, dua korban penyanderaan boleh jadi berbeda identitas dengan mereka.

Gerakan Jacobs dan para muslimah yang berbelasungkawa itu memperlihatkan bahwa solidaritas sesungguhnya suatu aksi yang memuliakan manusia dan kemanusiaan. Hilangnya nyawa satu manusia, tak peduli identitasnya, pada hakikatnya ialah hilangnya kemanusiaan.

Di sisi lain, di tengah iklim ketakutan dan ketidakpastian pascainsiden Lindt Cafe, alih-alih membenci, warga Australia justru bersatu menunjukkan solidaritas dan dukungan mereka bagi kalangan muslim di negara itu.

Kita di Indonesia semestinya menangkap dua pesan kuat dari peristiwa di Sydney itu. Dalam konteks Indonesia, kasus di Sydney itu hendaknya menjadi instrospeksi agar kasus-kasus kekerasan atas nama agama dihentikan.

Sebab, kita semestinya tak bakal percaya begitu saja bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu dilandasi agama.

Solidaritas tinggi warga Australia untuk melindungi kalangan minoritas semestinya juga kita galang di negeri ini.

Hentikan berlaku keras dan menista orang lain hanya karena mereka berbeda identitas dengan kita. Apalagi jika perilaku keras itu berlindung di balik jargon agama.



Berita Lainnya