Agar Rupiah kembali Bergairah

17/12/2014 00:00
PEMERINTAHAN Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mendapatkan ujian. Setelah menempuh kebijakan tidak populer dengan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi, kini giliran rupiah terkoyak-koyak. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah sejak pekan lalu hingga mendekati posisi terendah sejak 16 tahun terakhir. Kondisi melemah tersebut tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga hampir seluruh mata uang regional. Penyebabnya, penguatan dolar AS.

Penguatan dolar AS didorong kinerja perekonomian ‘Negeri Paman Sam’ yang cemerlang pada November dan diikuti proyeksi penaikan suku bunga acuan setempat. Meski penyebab utamanya merupakan faktor dari luar, bukan berarti perekonomian nasional aman-aman saja. Efek berantai dikhawatirkan akan timbul dan bisa menjerumuskan Indonesia dalam krisis ekonomi. Salah satu yang membuat posisi Indonesia rawan ialah besarnya nilai utang luar negeri swasta dalam bentuk valuta asing.

Nilai rupiah yang terlampau lemah akan memicu kegagalan pihak swasta dalam membayar utang. Itu pula yang menjadi awal krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada 1997-1998 lalu. Peliknya situasi rupiah jangan pula membuat pasar panik. Tugas pemerintah meyakinkan pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama, seperti yang kerap didengungkan otoritas moneter. Di sini pula kreativitas pemerintah diuji. Pelemahan rupiah lebih lanjut harus bisa diredam.

Temukan cara-cara riil untuk mendatangkan pemasukan dalam bentuk dolar AS demi memperkuat cadangan devisa. Pemerintah telah menyebut akan menggenjot ekspor, suatu langkah yang memang seharusnya ditempuh. Nilai rupiah yang lemah membuat produk-produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun, upaya menggenjot ekspor tidak akan maksimal jika pemerintah tidak menyertainya dengan penghapusan hambatan-hambatan ekspor. Lebih jauh lagi, pemerintah mesti gesit memangkas kendala investasi demi menyedot lebih banyak investasi asing.  Dua hal yang tampaknya masih luput untuk dimanfaatkan pemerintah, yakni potensi pariwisata nasional dan libur akhir tahun.

Seluruh dunia tengah menyambut masa liburan tutup tahun 2014. Inilah saatnya berpromosi secara besar-besaran ke seluruh dunia. Paket-paket wisata Indonesia dalam rupiah akan tampak begitu murah bila dikonversi ke dolar AS. Tarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Langkah itu tidak hanya memperkuat cadangan devisa, tetapi juga memacu pergerakan ekonomi rakyat di sekitar daerah destinasi wisata.

Jangan lupa, bukan hanya rupiah yang melemah terhadap dolar AS, melainkan juga ringgit dan baht. Kita bersaing dengan Malaysia dan Thailand dalam memanfaatkan keperkasaan dolar AS untuk menjaring pemasukan devisa, termasuk dari kunjungan wisatawan asing. Demi memenangi persaingan, gencarkan promosi produk Indonesia untuk menyelamatkan rupiah dan perekonomian. Apa pun produk itu layak jual, asal bukan menjual aset nasional.



Berita Lainnya