Keberanian Mengembangkan Nuklir

13/12/2014 00:00
NEGERI ini boleh saja sedang menuju kondisi darurat listrik. Ancaman krisis listrik mungkin tinggal menunggu waktu. Pada saatnya nanti bisa saja seluruh Nusantara gelap permanen karena kondisi itu.

Namun, ironisnya, pemerintah seperti masih belum mau keluar dari tempurung. Sejauh ini, langkah-langkah yang diambil sebagai antisipasi ancaman krisis itu sangat biasa-biasa, miskin terobosan, minim keberanian.

Padahal, angka ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan listrik di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Saat ini kapasitas listrik terpasang hanya sekitar 47 gigawatt, padahal kebutuhan listrik Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 115 gigawatt.

Artinya, ada defisit hampir 70 gigawatt yang mesti kita kejar dalam waktu 10 tahun ke depan. Kalau tidak, negeri ini mungkin saja kembali ke zaman kegelapan. Industri mati, ekonomi mandek, kehidupan masyarakat pun terbengkalai.

Pemerintah mestinya tak lagi terlalu kaku dan terus bertumpu pada sumber energi fosil untuk menghasilkan listrik. Politik energi bangsa ini seharusnya berorientasi jangka panjang untuk bisa lebih mengembangkan listrik dari sumber energi baru dan terbarukan. Listrik dapat dihasilkan dari tenaga air, angin, surya, panas bumi, bahan bakar nabati, hingga nuklir. Semua ada di depan mata, menunggu dimanfaatkan.

Beberapa sumber energi itu memang sudah mulai dikembangkan meskipun masih sangat minimal. Ambil contoh, dari 75 ribu megawatt potensi listrik bertenaga air, baru sekitar 6% yang terpakai. Tenaga panas bumi juga baru sekitar 4% digunakan.

Nuklir bahkan sama sekali belum dimanfaatkan. Padahal, jika melihat tingginya kebutuhan listrik yang amat berbanding terbalik dengan ketersediaannya, pemanfaatan nuklir menjadi keniscayaan. Nuklir paling mungkin dapat diandalkan untuk mengejar defisit listrik karena kemampuannya menghasilkan energi dalam jumlah besar.

Satu pembangkit bertenaga nuklir diperkirakan dapat menyuplai daya listrik 500-1.000 megawatt. Itu jauh lebih besar ketimbang daya yang bisa dihasilkan sumber energi lain. Nuklir juga relatif bersih tanpa emisi gas buang berbahaya, tidak seperti sumber energi fosil yang ampasnya berkontribusi besar merusak atmosfer.

Alasan itu pula yang membuat banyak negara sudah mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sejak lama. Saat ini terdapat tidak kurang dari 435 unit PLTN telah beroperasi di 31 negara, dan ada 72 unit yang sedang dalam proses pembangunan.

Harus diakui, masih ada anggapan di kalangan pemerintah bahwa masyarakat resisten terhadap energi nuklir. Padahal, satu survei independen tahun lalu menunjukkan lebih dari 60% masyarakat Indonesia menerima nuklir sebagai sumber energi.

Berdasarkan sejumlah studi kelayakan, di sejumlah lokasi di Tanah Air seperti di Muria, Jawa Tengah, Banten, dan Bangka sangat aman untuk dibangun PLTN. Kita pun memiliki tenaga ahli hebat di bidang nuklir.

Yang belum kita miliki, sebagaimana terungkap dalam sarasehan Peran Teknologi Nuklir yang digagas harian ini, Kamis (11/12), ialah political will dan keberanian pemerintah untuk dengan lantang mengatakan go nuclear.


Berita Lainnya