Cerita Bersambung Seteru TNI-Polri

20/11/2014 00:00
NILAI-NILAI profesionalitas mulai kehilangan daya gigitnya bila hedonis merajalela. Pandangan yang menganggap kenikmatan materi sebagai tujuan, perlahan tapi pasti, merasuki institusi TNI dan Polri. Profesionalitas TNI dan Polri terus tergerus. Tergerus karena bentrokan antara anggota dua institusi itu terjadi bak cerita bersambung seperti yang terjadinya di Batam, Kepulauan Riau.

Peristiwa teranyar terjadi pada 19 November. Markas Brimob Polda Kepri ditembaki sekelompok anggota TNI dari Yonif 134/Tuah Sakti. Satu personel TNI tewas. Satu bulan sebelumnya, 21 September, bentrokan pecah antara anggota TNI dan Polri menyusul penggerebekan BBM ilegal di Batam. Saat itu empat anggota TNI-AD tertembak.

Bentrokan, ini yang menyedihkan, dipicu urusan perut. Penjelasan resmi pemerintah menyebutkan tragedi Batam tak lepas dari persoalan kesejahteraan prajurit. Akan tetapi, dugaan lain yang berkembang di kalangan anggota legislatif ialah bentrokan dipicu bisnis pengamanan.

Apa pun penyebabnya, apakah soal kesejahteraan ataupun perebutan lahan bisnis pengamanan, ujung-ujungnya kembali ke urusan perut. Terang benderanglah sudah bahwa hedonisme merasuki sekaligus merusak para prajurit. Mereka tidak malu-malu lagi menggadaikan profesionalitas dengan kesenangan sesaat yang sesat pula.

Sebagai alat negara, TNI dan Polri telah absen memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Lebih memalukan lagi, senjata dan peluru yang dibeli dari hasil memeras keringat rakyat lewat pajak justru dipakai untuk saling menembak di antara anggota dua institusi tersebut. Desingan peluru itu telah menimbulkan rasa takut dan trauma yang mendalam di kalangan masyarakat sipil.

Kita mendukung Presiden Joko Widodo yang memerintahkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno segera mencari solusi permanen atas bentrokan TNI dan Polri. Solusi permanen bukan semata-mata meningkatkan kesejahteraan anggota TNI dan Polri. Adalah benar bahwa bentrokan anggota TNI dan Polri selalu berakar pada kesenjangan kesejahteraan.
Ada dua persoalan pokok yang harus segera dicarikan solusi permanen.

Pertama, disiplin yang semakin kendur di kalangan prajurit. Kedua, wibawa komando yang mulai redup. Harus tegas dikatakan bahwa prajurit yang tidak disiplin, apalagi membongkar gudang senjata dan melakukan penembakan, sama saja dengan gerombolan bersenjata yang harus ditumpas.

Pada sisi lain, harus jujur juga dikatakan bahwa aura kepemimpinan pemegang tongkat komando di tingkat pasukan mulai luntur di mata anak buah. Dua kali bentrokan dalam tempo satu bulan mengonfirmasikan hal tersebut. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila pemegang komando TNI dan Polri di Batam harus dimintai pertanggungjawaban.

Kewajiban petinggi TNI dan Polri mencarikan solusi permanen. Para petinggi harus terus menjelaskan kepada anggota mereka tentang tugas dan kewajiban masing-masing. Musuh tentara ialah kekuatan luar, bukan polisi yang semestinya juga dilindungi TNI jika ada serangan dari luar.

Sebaliknya, polisi bertugas melayani masyarakat, termasuk anggota TNI. Karena itulah, TNI dan Polri mestinya selalu berdampingan, bukan berbentrokan. Kita berharap seteru TNI-Polri bukan cerita bersambung tak berujung.


Berita Lainnya