Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA keberangkatan pasti ada kepulangan. Begitu pun dalam konteks perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia, ada mudik niscaya akan ada balik. Dua hal ini tak bisa dipisahkan, termasuk ketika negara mesti turun tangan mengelolanya. Pengelolaan arus mudik akan selalu berkesinambungan dengan pengelolaan arus balik.
Tahun ini boleh dikatakan spesial. Setelah jeda dua tahun akibat pandemi covid-19, seperti yang sudah diperkirakan, mudik Lebaran kali ini benar-benar membeludak. Hingga H-1 Lebaran, Minggu (1/5), bahkan juga pada H+1 Lebaran, Selasa (3/5), arus mudik masih tinggi.
Ini terutama terlihat dari kepadatan jumlah kendaraan keluar dari Jakarta menuju Jawa Barat sampai Jawa Timur yang melalui Tol Trans-Jawa, Purbaleunyi, maupun Jagorawi. Juga kendaraan yang menuju Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Merak-Bakauheni.
Itu fakta pertama. Fakta kedua, pemerintah sudah menetapkan cuti bersama Lebaran tahun ini sampai 8 Mei 2022. Artinya, sebagian besar pemudik, baik yang sudah bekerja maupun pelajar sekolah, harus sudah kembali beraktivitas pada 9 Mei 2022.
Dua fakta tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa akan terjadi arus balik serentak yang sangat padat dengan puncaknya pada tiga hari terakhir libur (cuti bersama) Lebaran, yaitu 6, 7, dan 8 Mei 2022. Kekhawatiran itu tidak berlebihan, karena jika melihat kebiasaaan di tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar pemudik akan memaksimalkan masa libur mereka dan memilih balik ke Jakarta di pengujung tenggat.
Dari gambaran itu, jelas, tantangan pemerintah untuk mengendalikan arus balik akan lebih berat ketimbang pengelolaan arus mudik. Jika antisipasi dan pengendaliannya tidak tepat, kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi ialah horor kemacetan arus balik yang menyengsarakan.
Sebuah hal yang lumrah kiranya bila Polri, bahkan Presiden Joko Widodo, cepat-cepat mengimbau para pemudik agar tak mengikuti kebiasaan lama mereka dan pulang lebih awal. Adapun bagi yang waktu cutinya cukup, boleh dipertimbangkan untuk memilih waktu pulang setelah 9 Mei demi menghindari penumpukan di tanggal-tanggal puncak tersebut. Tujuannya sangat baik, agar tidak terjadi kemacetan baik di jalan tol, jalan nasional, maupun antrean masuk ke kapal di pelabuhan.
Akan tetapi, imbauan saja tentu belum cukup. Sebelum arus mudik bergerak pekan lalu pun imbauan yang senada, yakni mudik lebih awal, sudah disuarakan langsung oleh Presiden. Hasilnya, tetap saja tidak banyak yang melakukan perjalanan mudik lebih awal karena berbagai pertimbangan.
Kunci pengendalian tetap ada di pengelolaan dan pengaturan oleh negara (pemerintah). Skenario antisipasi termasuk rekayasa lalu lintas ataupun manajemen penyeberangan laut harus disiapkan betul. Harus diakui, meskipun secara umum berlangsung baik, masih ada banyak bolong dari pengelolaan arus mudik tempo hari.
Kemacetan 19 kilometer di Pelabuhan Merak, kemacetan hingga berjam-jam di Tol Cipularang arah Jakarta karena imbas penerapan one way menuju Jawa Tengah di Tol Cikampek, juga kemacetan yang masih terjadi di setiap titik-titik rest area sepanjang jalan tol, adalah sebagian contoh yang bisa menjadi titik tumpu dalam menentukan kebijakan arus balik yang lebih baik.
Di saat arus balik, antisipasi lemah tak boleh terjadi. Selalu berpikirlah untuk kemungkinan yang terburuk sehingga strategi pengendalian yang nantinya dipakai pun siap untuk mengantisipasi hal yang paling buruk sekalipun.
Di satu sisi, kita mesti berikan apresiasi kepada kepolisian dan TNI, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian PU-Pera, juga semua pihak yang telah berkontribusi sehingga prosesi mudik berjalan relatif aman dan lancar. Namun, pada saat yang sama kita pun berharap mereka bekerja lebih ekstra keras demi pengelolaan arus balik yang jauh lebih aman, lebih lancar, dan lebih nyaman.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved