Bukan Kabinet Pemberi Harapan Palsu

27/10/2014 00:00
BANGSA yang pandai merawat harapan ialah bangsa pemilik masa depan. Akan tetapi, bangsa tersebut sungguh-sungguh menjadi pemilik masa depan gemilang bila para pemangku kebijakan mampu memenuhi harapan itu.

Sepanjang sejarah pergantian pemerintahan di negeri ini, sepertinya baru kali ini rakyat secara autentik meletakkan harapan setinggi langit kepada presiden dan wakil presiden terpilih. Rakyat tentu juga menaruh harapan besar kepada kabinet sebab para menteri dalam kabinetlah yang akan membantu presiden dan wakil presiden memenuhi harapan itu.

Menurut konstitusi, menteri adalah pembantu presiden. Akan tetapi, mereka bukan sembarang pembantu.
Setiap menteri memimpin kementerian negara untuk menyelenggarakan urusan tertentu dalam pemerintahan guna mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, para menteri diharapkan memiliki inisiatif berkreasi dan berinovasi dengan tetap memperlihatkan monoloyalitas hanya kepada presiden.

Setelah enam hari dilantik menjadi presiden dan wakil presiden, Jokowi-JK mengumumkan pembentukan kabinet yang disebut Kabinet Kerja yang beranggotakan 34 menteri, kemarin. Kabinet dilantik hari ini dan langsung melaksanakan rapat kabinet.

Para menteri dipilih dan ditetapkan setelah lulus verifikasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Itu artinya dalam diri para menteri tidak terdapat benih kejahatan korupsi. Inilah titik awal bagi kita untuk meyakini bahwa kabinet bisa bekerja memenuhi harapan rakyat.

Para menteri dipilih dari beragam latar belakang profesi dan pengalaman. Ada politikus dan ada pula profesional seperti dosen dan pengusaha. Ada yang berpengalaman di bidang swasta dan ada pula yang berpengalaman di bidang pemerintahan, mulai bekas pedagang ikan sampai bekas menteri.

Profesi dan pengalaman para menteri boleh saja beragam, memang harus beragam. Akan tetapi, mereka wajib bersatu dalam komitmen untuk bekerja jauh lebih keras lagi untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Berhasil atau tidaknya Kabinet Kerja tentu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Presiden Jokowi. Kabinet itu ibarat orkestra dan Jokowi bertindak sebagai konduktor. Setiap menteri yang menjadi pemain harus dipastikan bermain sesuai dengan partitur, taat pada perintah konduktor, dan memainkan alat yang dikuasainya dengan teknik sangat tinggi.

Perjalanan waktu lima tahun ke depan akan membuktikan apakah para menteri memainkan alat yang dikuasainya dengan teknik sangat tinggi. Masyarakat perlu memberi kesempatan 34 menteri untuk bekerja. Mereka dipilih melalui proses transparan dan partisipatif. Berilah kesempatan mereka membuktikan bahwa mereka memiliki sifat kepemimpinan yang kuat, berkompeten, memiliki kemampuan manajerial, dan yang tidak kalah penting ialah bersih dari korupsi.

Tolok ukur secara kualitatif keberhasilan Kabinet Kerja ialah setiap rakyat di seluruh pelosok Tanah Air merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan. Dengan demikian, setiap menteri perlu memegang teguh kredo bahwa mereka dipilih bukan untuk dilayani, melainkan melayani.

Rakyat telanjur membubungkan harapan setinggi langit kepada pemerintahan Jokowi-JK dan kabinet mereka. Namun, kita harus mengingatkan bahwa mulai hari ini rakyat bukan cuma menaruh harapan, melainkan juga mengawal untuk memastikan harapan mereka itu terpenuhi. Oleh karena itu, kabinet harus bekerja keras, sangat keras, demi memenuhi harapan itu. Jangan sampai pemerintah dicap sebagai pemberi harapan palsu.


Berita Lainnya