Berhijrah Menuju Perubahan

25/10/2014 00:00
HAMPIR semua pemerintahan baru di belahan mana pun memiliki tradisi baru yang dimaksudkan sebagai penanda perubahan. Ia seperti lonceng pembuka yang diharapkan mampu merebut kepercayaan rakyat sehingga jalannya pemerintahan bergerak mulus.

Itu pula yang dilakukan pemerintahan baru di Republik ini, di bawah kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Keduanya memulai tradisi baru pemerintahan dengan membentuk kabinet berintegritas.

Betul bahwa penyusunan kabinet merupakan hak mutlak Presiden Jokowi. Namun, demi memastikan bahwa orang-orang yang ia pilih terbebas dari masalah, Jokowi rela 'berbagi' dalam menentukan calon anggota kabinet bersama Komisi Pemberantasan Korupsi serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Jokowi pun tidak sekadar berbasa-basi ketika melibatkan KPK dan PPATK. Saat kedua lembaga tersebut memberikan tanda-tanda bahwa beberapa calon berpotensi berurusan dengan masalah hukum, Jokowi pun patuh mencoret nama-nama tersebut dari daftar calon menteri.

Jejak perubahan pun ditorehkan Jokowi-JK sejak mula. Perubahan tidak pernah hadir dari situasi diam dan ruang kosong. Jokowi-JK sangat memahami itu.

Maka, di awal pemerintahannya pun komitmen itu ia wujudkan dengan reformasi integritas. Pelibatan KPK dan PPATK jelas demi memastikan bahwa para calon menteri merupakan orang-orang yang bersih.

Hal itu bisa menjadi modal awal karena perubahan tidak bisa dicapai jika sumber daya yang digunakan tidak bersih. Ibarat ingin membangun rumah kukuh, tetapi menggunakan kayu lapuk yang penuh rayap.

Integritas para menteri menjadi hal penting juga karena tidak ada satu pun pemimpin yang mampu berjuang sendirian. Sehebat apa pun integritas dan kompetensi pemimpin, jika ia berjuang sendiri, tak akan mampu membuat perubahan.

Tuntutan perubahan mesti diwujudkan dengan kesadaran dari segenap elemen bangsa untuk ikut bergerak. Semuanya berbagi peran apa yang bisa mereka ambil agar roda perubahan segera menggelinding.

Di masa kini ketika formasi penggerak perubahan harus ditentukan secara cepat, rekam jejak sudah selayak menjadi andalan. Ketika prinsip menelusuri rekam jejak telah dilakukan, yang diperlukan setelah itu ialah kepercayaan terhadap pemimpin dan para pembantunya.

Berikan ruang dan waktu kepada kabinet untuk bisa bekerja cepat. Setelah itu, di sepanjang perjalanan, kita bisa ikut mengevaluasi kinerja mereka.

Momentum perubahan itu kini telah diciptakan, tepat ketika sebagian besar rakyat di negeri ini tengah memasuki Tahun Baru 1436 Hijriah. Tahun Baru Hijriah yang dilatari spirit berhijrah dari hal-hal buruk dan tidak bermanfaat menuju pembaharuan, jelas bisa memberikan peneguhan bahwa kinilah saatnya perubahan bagi bangsa ini telah datang.

Kita juga semestinya bisa mencontoh apa yang dilakukan rakyat Madinah saat peristiwa hijrah, yang ikut berjuang dan bekerja lebih baik untuk tujuan hidup yang lebih baik.

Kita bangga semangat berjuang itu telah ditunjukkan banyak anak bangsa selama pemilu presiden bahkan hingga hari pelantikan. Namun, perjuangan sebenarnya barulah dimulai.

Inilah saatnya ketika perubahan itu benar-benar diuji. Ia bisa bergerak maju, tetapi bisa stagnan atau malah mundur. Seperti sebuah roda, bangsa ini tidak akan mundur jika seluruh rakyat bergerak bersama menuju arah yang lebih baik.


Berita Lainnya