Agar Pasar tak Gusar

24/10/2014 00:00
ADA satu modal kuat yang digenggam pemerintah baru di bawah kendali duet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla selain kepercayaan rakyat yang teramat besar. Modal itu ialah kepercayaan pasar. Kepercayaan tersebut tentu tidak datang dengan serta-merta. Ia datang dan tumbuh melalui serangkaian ekspektasi positif dari pelaku pasar yang terus mengiringi perjalanan awal pemerintahan baru ini. Kepercayaan pasar juga mengalir kencang setelah Jokowi menggelorakan spirit kerja dalam pemerintahannya.

Seperti halnya rakyat, pasar melihat ada harapan baru, ada spirit lebih segar yang dibawa Jokowi-JK untuk memulai upaya meningkatkan perekonomian. Investor juga percaya Jokowi akan mampu melakukan langkah perbaikan di sejumlah sektor vital, mulai pengurangan beban subsidi, reformasi birokrasi, hingga pembangunan infrastruktur.

Begitu tingginya ekspektasi positif pasar, ia bahkan tak menjadi risau ketika Jokowi membatalkan rencana mengumumkan kabinetnya, Rabu (22/10), karena adanya rekomendasi KPK dan PPATK mengenai sosok-sosok calon menteri yang berpotensi bermasalah. Pada perdagangan kemarin, sehari setelah penundaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) malah tembus ke level psikologis 5.100 setelah naik 29 poin.

Adapun rupiah melemah 40 poin menjadi Rp12.053 karena terseret oleh penguatan dolar AS di pasar global. Ini mengindikasikan pasar dapat memahami dinamika pemilihan kabinet. Pasar bahkan memandang penundaan pengumuman itu sebagai suatu langkah penuh perhitungan dari pemerintah baru untuk menghasilkan struktur kabinet yang berkualitas, bersih, sekaligus ramah bagi perekonomian.

Kecepatan memang dibutuhkan dunia usaha, tetapi kecepatan tanpa kecermatan malah akan menjadi bumerang. Karena itu, pasar tak menuntut Presiden terburu-buru, apalagi grasa-grusu, mengumumkan para pembantunya, dengan harapan nama-nama yang bakal muncul nanti betul-betul dapat mencerminkan ekspektasi pasar.

Meski demikian, duet Jokowi-JK harus memahami betul bahwa pemakluman publik dan pasar terkait dengan pengumuman kabinet tidak bisa berlangsung berlama-lama. Bila Jokowi terlalu lama mengumumkan kabinetnya, bukan tidak mungkin kepercayaan pasar justru akan mengendur. Benar, sesuai undang-undang, presiden memiliki waktu maksimal 14 hari setelah pelantikannya untuk menentukan kabinet. Itu artinya Jokowi sebetulnya punya waktu hingga 3 November untuk menimbang-nimbang calon pembantunya.

Akan tetapi, negara ini, terutama pelaku pasar dan investor, tentu juga butuh kepastian. Modal kepercayaan dari pasar yang amat tinggi di awal mesti dijaga dan dirawat dengan menyodorkan kepastian yang memang mereka butuhkan. Pemerintah beserta kabinetnya juga harus segera bekerja, segera tancap gas, untuk mengejar target besar bangsa ini di tengah tantangan ekonomi global yang kian berat. Seperti kata Jokowi, proses bekerja tak boleh ditunda.

Karena itu, sekali lagi kita ingin mengingatkan Jokowi-JK untuk tak surut langkah ke belakang. Di satu sisi mereka mesti cermat memilih menteri dan jangan pernah mau diintervensi, tapi di sisi lain mereka juga mesti bergerak cepat. Inilah saatnya membuktikan bahwa Anda berdua layak menggenggam kepercayaan pasar dengan tidak berlama-lama mengumumkan komposisi kabinet supaya pasar tidak gusar.




Berita Lainnya