Kesederhanaan Presiden Jokowi

22/10/2014 00:00
KEMERIAHAN penyambutan Presiden Joko Widodo dan syukuran rakyat yang menyertai pelantikannya, Senin (20/10)lalu, seolah memperlihatkan Indonesia seperti  baru kali ini punya seorang presiden. Rakyat begitu bersukacita menyambut presiden mereka, sesuatu yang tak pernah terjadi pada presiden-presiden sebelumnya.

Pangkal penyebabnya salah satunya ialah kesederhanaan dan kedekatan seorang Jokowi dengan rakyatnya. Sudah teramat lama bangsa ini merindukan sosok pemimpin sederhana. Sudah teramat lama pula negeri ini mendambakan pemimpin merakyat. Kini kerinduan itu terobati dengan hadirnya sosok Jokowi. Bersama wakilnya, Jusuf Kalla, dia ialah nakhoda yang bertanggung jawab membawa biduk besar bernama Indonesia menuju pelabuhan kesejahteraan.

Presiden silih berganti memimpin Republik ini. Sepanjang sejarah, Indonesia telah dipimpin tujuh presiden. Namun, harus kita katakan baru kali inilah kita memiliki figur presiden ideal. Dalam dirinya bersumber seabrek keteladanan sikap perilaku. Namun, yang paling istimewa, ya itu tadi, kesederhanaannya.

Ia tak silau dengan kemewahan dan keistimewaan meski sebagai pengusaha dan kini orang nomor satu di negeri ia bisa mendapat-kannya. Ia tetap tampil apa adanya, tetap hidup sederhana, dan tetap dekat dengan rakyat. Kesederhanaan yang menjadi ciri khas Jokowi saat menjabat Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta masih kentara.

Ia, misalnya, tak lantas minta dipayungi saat diarak dengan kereta seusai pelantikan di Gedung MPR menuju Istana Negara. Padahal, ketika itu panas matahari begitu menyengat. Pun, gaya berpakaian Jokowi tetap sederhana. Saat menerima sejumlah tamu negara, ia cukup mengenakan kemeja batik atau kemeja putih berlengan panjang, bukan jas lengkap yang mahal. Saat menyampaikan pidato kerakyatan pada syukuran rakyat di Monas, ia cukup memakai baju putih dan celana hitam.

Ihwal kedekatannya dengan rakyat, bagi Jokowi, prestise sebagai presiden bukanlah sekat untuk tetap dekat dengan rakyat. Ia membolehkan rakyat memasuki Istana lantaran tempat tinggalnya selama lima tahun ke depan itu sesungguhnya istana milik rakyat. Kesederhanaan ialah pangkal dari kejujuran sekaligus benteng tangguh untuk melawan virus kesombongan dan kerakusan.

Tatkala pemimpin mengedepankan kesederhanaan, ada harapan kuat bahwa ia bakal terhindar dari segala penyim¬pangan jabatan demi memuaskan dahaga kemewahan. Itulah penangkal ampuh dari godaan korupsi. Ketika seorang presiden tak terlalu menjaga jarak dengan rakyat, ia bakal menjadi menara air yang selalu ingin menghidupi rakyat, bukan menara gading yang serba-tak terjangkau rakyat.

Kesederhanaan Jokowi ialah teladan mulia yang wajib dicontoh oleh pejabat-pejabat lainnya. Ia harus menjadi gerakan moral dan ditularkan kepada para menteri, gubernur, bupati/wali kota, dan seluruh penyelenggara negara.

Dengan demikian, mereka benar-benar menjadi pelayan dan pengayom rakyat. Begitu besar ekspektasi rakyat kepada Jokowi-JK akan terciptanya perbaikan kehidupan bangsa ini. Namun, kita optimistis, jika Jokowi konsisten dengan sikap dan perilaku hidup sederhana, jika para pejabat lain bertabiat sama, ekspektasi akan kemajuan kehidupan bangsa itu dapat terealisasi.






Berita Lainnya