Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AMUKAN covid-19 di Indonesia kian membuat keder. Peningkatan demi peningkatan kasus pasien terkonfirmasi positif terus terjadi dalam deretan angka yang tak lagi bisa dianggap biasa-biasa saja. Sejumlah titik psikologis sudah berkali-kali dilampaui hingga sekarang bertengger di atas angka 50 ribu penambahan kasus per hari.
Bahkan, penambahan pasien terkonfirmasi positif covid-19 sebanyak 54.517 orang yang dirilis Satgas Covid-19, Kamis (15/7), sangat mungkin belumlah mencerminkan situasi terburuk dari pandemi ini di Tanah Air. Ada proyeksi angka harian covid-19 itu masih akan terus bertambah seiring dengan dilipatgandakannya upaya testing dan tracing dari kontak erat covid-19.
Kalau membaca angkanya saja membuat keder, fakta di lapangan tak kalah memiriskan. Rumah sakit membeludak, krisis obat dan oksigen di banyak tempat, tenaga kesehatan pun sudah teramat kewalahan.
Kini, bahkan banyak pula kematian datang dari pasien-pasien isolasi mandiri (isoman) yang terlambat mendapatkan penanganan ketika kondisi mereka drop dan membutuhkan perawatan.
Dengan melihat fakta-fakta itulah semestinya cara kita memaknai lonjakan angka kasus covid-19 agar tak terjebak dengan frasa-frasa yang bombastis tapi nihil rasa.
Angka bukan sekadar simbol numerik yang seolah akan terlihat keren ketika mencapai rekor tertinggi. Di balik angka itu, ada nyawa yang perlu diselamatkan, ada warga negara yang harus dilindungi.
Pun, cara pandang seperti itulah yang seharusnya menjadi latar belakang pemerintah menyiapkan kebijakan maupun skenario, mulai situasi dengan kegawatan ringan hingga yang terburuk. Tidak sekadar memperindah angka di atas kertas statistik atau menghaluskan kata-kata sehingga seakan-akan situasi selalu terkendali.
Data memang tak seharusnya ditutupi karena data yang akuratlah yang menjadi landasan kita menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika kebijakan atau skenario berangkat dari data dan analisis yang tak jujur, kita sesungguhnya sedang membuang-buang waktu, sedangkan si virus terus bergerak tak pernah menyia-nyiakan waktu.
Temukan akar masalahnya melalui data lapangan yang kredibel. Dari situlah semua mestinya dimulai dan dievaluasi. Dengan dasar itu, kita bisa berharap kepada pemerintah melakukan tindakan luar biasa untuk pengendalian covid-19. Skenario terburuk yang akan disiapkan pemerintah pun idealnya juga didasari data yang tak sekadar angka, tapi juga kejujuran melihat realita di lapangan.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang akan diperpanjang barangkali merupakan kebijakan yang sudah mesti dilakukan bila melihat mata rantai penyebaran virus korona yang tak juga melambat.
Akan tetapi, untuk memperpanjang itu pun pelaksanaan PPKM darurat sekarang ini harus dievalusi menyeluruh agar penerapannya dapat lebih efektif.
Itu di hulu penyebaran. Pada saat yang sama, negara juga mesti membereskan satu per satu masalah di hilir. Kita mendukung pemberian obat gratis untuk pasien isoman, terutama di wilayah-wilayah berisiko tinggi, yang kemarin diluncurkan Presiden.
Namun, tak boleh itu hanya berhenti pada seremoni. Harus ada koordinasi kuat dalam implementasinya dan tak kalah penting ialah pengawasan.
Harus diingat pula, persoalan obat hanya satu dari banyak persoalan di sisi hilir. Persoalan di rumah sakit yang amat kompleks, tentang krisis tenaga kesehatan, tentang pasokan oksigen, serta obat-obatan yang kadang-kadang malah dimain-mainkan para penjahat dagang, tentang para pasien isoman yang bertumbangan, dan berderet persoalan lain.
Akumulasi masalah itulah yang membuat kasus covid-19 di negeri ini melonjak tinggi. Tugas berat pemerintah dan kita semua untuk mengikis masalah itu satu demi satu.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved