Politik Energi demi Generasi

26/9/2014 00:00
POLITIK energi suatu bangsa semestinya merupakan kebijakan jangka panjang yang seharusnya dijauhkan dari kepentingan sesaat. Celakanya, bangsa ini berpikiran cetek sehingga tak kuasa menghadirkan kebijakan energi jangka panjang yang maslahat bagi rakyat.

Pemberian subsidi ialah contoh paling telanjang politik energi kita yang kedodoran dan berjangka pendek. Ia merupakan kebijakan yang memanjakan rakyat sesaat, tetapi sesungguhnya melupakan masa depan rakyat.

Subsidi membuat penggunaan minyak bumi menjadi semena-mena. Bangsa ini pun jatuh pada kubangan ketergantungan pada minyak bumi. Padahal, kita semua tahu minyak bumi merupakan energi fosil yang bakal habis.

Para pemangku kebijakan seharusnya sudah memikirkan, merencanakan, dan menggunakan energi pengganti minyak bumi sebagai bagian kebijakan energi jangka panjang. Energi pengganti yang tersedia melimpah sekarang ini ialah gas bumi.

Menurut Badan Pusat Statistik pada 2014, cadangan gas kita mencapai 103,2 triliun kaki kubik. Dengan kandungan sebesar itu, Indonesia menjadi negara dengan cadangan gas bumi terbesar ke-14 di dunia.

Bahkan di Asia, cadangan gas bumi kita terbesar kedua setelah Tiongkok. Oleh karena itu, sudah saatnya kita segera beralih ke gas bumi. Kita semestinya mulai menggunakan gas sebagai energi untuk keperluan rumah tangga, kendaraan bermotor, serta industri.
 
Ketika menjadi wakil presiden di periode pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla telah mengintroduksi penggunaan gas elpiji untuk keperluan rumah tangga sebagai pengganti minyak tanah.

Namun, harga elpiji sebagai bahan bakar rumah tangga dirasakan masih mahal oleh rakyat. Salah satu penyebabnya ialah kita masih harus mengimpor 60% hingga 70% keperluan elpiji. Penyebab lain ialah terlalu panjangnya rantai ekonomi yang menyertainya, mulai produksi hingga tiba di tangan konsumen.

Sebaliknya, gas bumi masih tersedia  melimpah sehingga kita tidak perlu mengimpornya. Oleh karena itu, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla semestinya lebih serius lagi dan tidak boleh setengah hati menjalankan program konversi bahan bakar ke gas bumi.

Untuk keperluan rumah tangga, misalnya, pemerintahan Jokowi-JK semestinya menerapkan penggunaan gas bumi melalui jaringan pipa karena  lebih murah dan aman. Pemerintah kelak juga mesti sungguh-sungguh mendorong penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan bermotor.

Itu memerlukan partisipasi industri otomotif untuk memproduksi kendaraan yang memiliki perlengkapan bagi bahan bakar gas atau converter kit. Bila kita telah beralih ke gas bumi, kita tetap harus menyiapkan energi penggantinya kelak.

Bagaimanapun, gas bumi suatu ketika akan habis. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan cadangan gas alam kita bisa digunakan hingga 60 tahun ke depan. Kita semestinya sudah menyiapkan energi baru dan terbarukan.

Kita memiliki ketersediaan energi nuklir, bioenergi, panas bumi, gelombang laut, atau sinar matahari. Hari Pertambangan dan Energi yang jatuh hari ini semestinya melecut bangsa ini untuk melakoni kebijakan energi jangka panjang demi masa depan generasi mendatang.



Berita Lainnya