PERKEMBANGAN politik di Tanah Air kian menunjukkan iklim yang makin kondusif. Kendati di sana-sini masih bermunculan suara-suara ketidakpuasan pihak yang kalah, beberapa di antara mereka mulai realistis dengan menunjukkan kelegawaan.
Itulah iklim kondusif yang sangat dibutuhkan publik. Rakyat menghendaki konsolidasi politik berlangsung lancar sehingga mereka tenang dalam beraktivitas.
Seperti yang terjadi di Semarang, kemarin. Ada yang menarik, sangat menarik, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Semarang, kemarin. Rapat itu menyedot perhatian 'kawan dan lawan' karena dihadiri tokoh dua partai yang selama ini bergabung dalam Koalisi Merah Putih.
Kehadiran Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo dan Ketua DPP PAN Tjatur Sapto Edy serta Plt Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Emron Pangkapi disambut tepuk tangan meriah dari peserta rakernas.
Tiga tokoh politik itu pantas disambut dengan tepuk tangan meriah sebab pada pemilu presiden yang lalu, mereka ber gabung dalam Koalisi Merah Putih pendukung calon pre siden Prabowo Subianto (Partai Gerindra) dan calon wakil presiden Hatta Rajasa yang juga Ketua Umum DPP PAN. Anggota koalisi lainnya ialah Partai Gerindra, Partai Golkar, dan PKS.
Tafsiran politik atas ke hadiran tokoh PAN dan PPP di Rakernas PDIP bisa bermacam-macam. Apa lagi, mereka duduk sejajar dengan presiden terpilih Joko Widodo, wakil presiden ra ketua umum partai politik terpilih Jusuf Kalla, dan para ketua umum partai politik pendukung Jokowi-JK seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto.
Duduk dalam satu barisan dengan para ketua umum pendukung Jokowi-JK bisa ditafsirkan bahwa PAN dan PPP bagai anak hilang yang kini kembali. Dua partai itu, sebelum pemilu presiden digelar, sempat menjajaki untuk mendukung Jokowi. Rapimnas PPP malah secara eksplisit menyebut dukungan kepada Jokowi.
Dukungan PAN dan PPP--kita sebut sebagai Pesan Semarang--tentu sangat diharapkan kubu Jokowi-JK karena bisa mengubah peta kekuatan di Senayan, setelah Partai Demokrat dengan 61 kursi di DPR menyatakan diri sebagai partai penyeimbang.
Koalisi Merah Putih menguasai 292 kursi di DPR, sedangkan pendukung Jokowi-JK cuma 207 kursi legislatif. Jika PAN (49 kursi di DPR) dan PPP (39 kursi) beralih dukungan, Jokowi-JK bakal didukung 295 kursi. Itu artinya, Jokowi-JK bakal meraih dukungan 52,67% kursi DPR.
Dukungan 52,67% di legislatif itu bisa dianggap sebagai koalisi pas-terbatas. Disebut pas-terbatas karena koalisi itu bisa menjamin terlaksananya pemerintahan presidensial yang efisien dan efektif. Program kerja Jokowi-JK yang ditawarkan selama kampanye bisa mendapatkan dukungan dari DPR.
Pada sisi lain, koalisi pas-terbatas mampu membangun pemerintahan yang solid, tapi pada saat bersamaan juga memberi ruang gerak pada oposisi yang bergigi.
Pesan Semarang, sejauh ini, masih sebatas simbol kemauan untuk merajut kebersamaan. Substansinya akan dilihat setelah Jokowi-JK resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden dalam 30 hari mendatang. Jangan biarkan Pesan Semarang terkubur dalam simbol, tapi ia harus dihadirkan dalam kenyataan demi kesejahteraan rakyat.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.