URUSAN memuluskan transisi pemerintahan di negeri ini ternyata bukanlah persoalan mudah. Bahkan, hal yang remeh-temeh sekalipun punya potensi untuk mengganggu suksesnya peralihan pemerintahan tersebut.
Itu pula nuansa yang kita tangkap dari perkembangan proses transisi pemerintahan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuju presiden terpilih Joko Widodo, akhir-akhir ini. Ide tentang transisi yang sesungguhnya merupakan ide bermutu, dan bisa menjadi contoh sejarah penting peralihan pemerintahan, mulai terganggu akibat hal-hal yang tidak substansial.
Kita sebut tidak substansial karena hal itu bermula dari anggapan yang bahkan jauh dari persepsi. Celakanya, anggapan itu diyakini sebagai ihwal mahapenting penentu transisi.
Itulah yang bisa kita saksikan dari pernyataan Yudhoyono yang menanggapi secara serius anggapan adanya pemerintahan bersama dan intervensi oleh calon penggantinya. Saat membuka rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden pada Jumat, 5 September lalu, Presiden Yudhoyono menegaskan saat ini masih merupakan masa pemerintahannya.
Presiden Yudhoyono juga menegaskan tidak ada pemerintahan bersama. Pemerintahan baru beralih ke presiden terpilih pada 20 Oktober mendatang.
''Saya ingin meluruskan anggapan bahwa sekarang ini, boleh dikatakan adalah masa pemerintahan bersama. Itu tidak ada. Jika ada yang menganggap saat ini merupakan pemerintahan bersama, itu adalah sebuah kekeliruan,'' kata Presiden. SBY pun mengaku mendapatkan pesan pendek (SMS) berisi bahwa ada pejabat diundang Tim Transisi Jokowi-JK untuk membahas kebijakan pemerintah.
Sistem koordinasi dan supervisi Tim Transisi Jokowi-JK dan tim pemerintahan sekarang, lanjut Presiden, tidak terjalin dengan baik sehingga muncul kesan bahwa Tim Transisi justru ingin mengintervensi kebijakan pemerintahan saat ini. SBY bahkan meminta kubu Jokowi untuk tidak menyalahkan kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintahan saat ini.
Karena itu, ruang publik pun mulai disesaki wacana gangguan dan 'intervensi' yang dipicu anggapan. Ia bahkan mengalahkan gagasan mulia peralihan pemerintahan yang sangat bermanfaat untuk kemaslahatan bangsa.
Pada titik tersebut, semua pihak mestinya kembali ke maksud mulia transisi yang muasalnya digagas SBY. Semua pihak harus menjadi negarawan yang menanggalkan 'baju-baju' personal, kelompok, dan segala kepentingan di luar kepentingan yang lebih besar bagi kebaikan bangsa di masa depan.
Segala anggapan, persepsi, serta kesalahan kecil dalam melangkah, kalaupun toh ada, bisa diselesaikan di antara kedua tim tanpa harus mengumbarnya di hadapan publik. Ibarat kerikil kecil, ia mestinya sangat mudah untuk disingkirkan.
Keberhasilan proses transisi tentu menjadi keberhasilan semuanya. Ia bukanlah kemenangan satu pihak, sembari membuat pihak lain merasa kehilangan muka.
Bagi pemerintahan SBY, mulusnya masa transisi, selain sebagai bentuk mengantarkan Jokowi-JK ke gerbang pemerintahan baru, menjadi legacy penting yang amat patut diapresiasi. Bagi pemerintahan Jokowi-JK kelak, mulusnya perjalanan peralihan akan memudahkan pemerintahannya untuk tancap gas mengerjakan program-program yang sangat besar manfaatnya bagi rakyat.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.