Berharap Pertemuan SBY-Jokowi Produktif

28/8/2014 00:00
TRADISI baru yang menyejukkan dirintis Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Untuk kali pertama, presiden dan calon penggantinya punya kebesaran jiwa untuk bertemu secara khusus guna memuluskan proses transisi kekuasaan. Tradisi apik itulah yang diperlihatkan kepada rakyat di Nusa Dua, Bali, tadi malam. Kebesaran jiwa itulah yang selama ini amat minim dimiliki pemimpin-pemimpin kita sebelumnya.

Ketika Bung Karno digantikan Pak Harto, hubungan di antara keduanya memburuk; tatkala Pak Harto digantikan BJ Habibie, tali silaturahim pun terputus. Sama halnya ketika Gus Dur digantikan Megawati Soekar¬noputri. Bahkan, hingga kini hubungan antara Megawati dan penggantinya, Yudhoyono, masih dingin.

Tradisi buruk seperti itu jelas tak patut lagi dipertahankan. Kita pun menaruh hormat kepada Jokowi yang dengan ketulusan hati bersedia menemui Yudhoyono. Kita juga mengapresiasi kesediaan Yudhoyono membuka komunikasi dan menerima Jokowi, juga komitmennya untuk membantu presiden terpilih itu dalam mengemban amanat.

Pertemuan antara presiden dan calon penggantinya seperti yang ditunjukkan Yudhoyono dan Jokowi ialah teladan nyata bagaimana pemimpin harus bersikap. Lewat pertemuan itu pula proses transisi pemerintahan diharapkan bisa berlangsung mulus tanpa riak-riak yang berpotensi mengganggu kesinambungan pembangunan.

Bagaimanapun, selama hampir 10 tahun berkuasa, Yudhoyono paham betul soal peluang dan tantangan bangsa. Itulah yang coba digali Jokowi sehingga ia bersama Jusuf Kalla bisa tancap gas merealisasikan janji-janji. Kita berharap, pertemuan tersebut bukan cuma bunga-bunga demokrasi, bukan sekadar formalitas. Di situlah semestinya terjadi transfer pengalaman guna menghadapi beragam persoalan bangsa.

Harus kita katakan, beban yang mesti diusung pemerintahan Jokowi-JK amatlah berat. Salah satunya terkait dengan subsidi bahan bakar minyak yang dari tahun ke tahun kian melambung. Pada RAPBN 2015, misalnya, besaran subsidi sudah mencapai Rp291 triliun, jauh lebih besar daripada alokasi anggaran untuk infrastruktur, kesehatan, dan peng¬entasan rakyat dari kemiskinan. Fakta terakhir mustahil dibantah bahwa penggelontoran subsidi BBM sudah mencapai titik yang sangat membahayakan.

Kuota premium dan solar sebesar 45 juta kiloliter dalam APBNP terancam habis pada awal atau pertengahan Desember mendatang. Pengetatan pasokan yang dilakukan pemerintah pun tak membuahkan hasil menggembirakan, justru sebaliknya memicu kepanikan di mana-mana.

Berulang kali kita katakan subsidi untuk BBM ibarat kanker ganas yang menggerogoti anggaran negara. Karena itu, tiada alasan subsidi BBM terus dipertahankan. Berlindung di balik kalimat  tidak ingin membebani rakyat  pada hakikatnya hanya menunda rasa sakit berkepanjangan.

Inilah saatnya Yudhoyono menunjukkan diri sebagai pemimpin yang konsisten memperhatikan nasib bangsa jauh ke depan meski ia tak lagi menjadi presiden. Keberanian SBY menaikkan harga BBM bersubsidi, meski langkah itu sangat tidak populer di mata rakyat, sangat kita tunggu.

Pemimpin yang baik pasti tidak meninggalkan banyak beban kepada penggantinya. Kita ingin pertemuan Yudhoyono dan Jokowi produktif, bisa memuluskan transisi kekuasaan, sekaligus menjadi ajang berbagi beban.




Berita Lainnya