Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA virus korona (covid-19) diibaratkan musuh perang, tidak salah lagi, garda paling depan dalam peperangan itu ialah para tenaga kesehatan. Dari dokter, perawat, pekerja laboratorium, hingga petugas kebersihan, terutama di rumah sakit rujukan, mereka bagaikan prajurit yang dengan segala kebisaan dan kerelaan menjadi ujung tombak dalam melawan, menahan, sekaligus membunuh virus mematikan itu.
Sesungguhnya, dengan posisi tersebut, mereka ialah kelompok yang paling berisiko terpapar covid-19. Mengapa? Karena hanya para petugas paramedis inilah yang setiap hari, bahkan mungkin setiap menit, yang harus berinteraksi langsung dengan pasien. Sekalipun mereka memakai setelan baju pelindung, masker, dan kacamata khusus, hal itu tidak membuat risiko mereka menjadi kecil.
Kerja mereka melampaui kewajaran. Ketika masyarakat diimbau untuk melakukan gerakan menjaga jarak sosial (social distancing), mereka malah tak boleh berjarak dengan pasien covid-19. Ketika masyarakat umum diminta untuk mulai bekerja dari rumah, belajar dari rumah, bahkan beribadah di rumah, itu sama sekali tidak berlaku bagi tim medis yang justru harus terus berada di rumah sakit.
Hebatnya, hampir tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tetap bekerja amat keras dan maksimal di tengah menyebarnya virus korona yang mungkin saja menyerang mereka. Pengabdian, dedikasi mereka untuk kesehatan dan keselamatan rakyat begitu nyata. Bukan kaleng-kaleng, kalau kata anak muda sekarang. Mereka bertaruh nyawa dalam arti yang sebenar-benarnya.
Akan tetapi, ketiadaan suara keluhan itu yang barangkali membuat peran mereka kadang terlupakan publik. Ada kontribusi sangat besar dari para tenaga kesehatan di balik kesembuhan sejumlah pasien positif covid-19, tapi ruang publik saat ini lebih ramai membicarakan penambahan jumlah korban terjangkit dan mati. Ada kerja luar biasa dari tenaga medis dalam penanganan setiap kasus korona yang membuat sebagian mereka mengalami kelelahan fisik dan mental, tetapi publik malah lebih senang membahas beberapa kegagapan pemerintah menghadapi wabah ini.
Ini saatnya kita untuk lebih memberikan perhatian kepada mereka, para pahlawan kesehatan. Dukungan, apresiasi mesti diberikan kepada mereka. Bukan saja dari negara, melainkan juga dari seluruh masyarakat. Mereka tak boleh dibiarkan bergerak sendirian. Tangan-tangan negara dan publik harus segera menjangkau mereka yang entah bakal sampai kapan harus berjibaku melawan penyebaran virus korona tersebut.
Dukungan dan penghargaan bisa dalam bentuk apa saja. Apresiasi dalam bentuk insentif dana seperti yang akan diberikan Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp215.000 per hari dapat menjadi contoh konkret. Kita berharap insentif serupa bisa pula diberikan pemerintah daerah lain dan pemerintah pusat.
Dari masyarakat, gerakan-gerakan untuk mendukung para tenaga medis harus pula dimasifkan. Faktanya, di sejumlah rumah sakit para tenaga kesehatan mulai sulit mengakses makanan bernutrisi serta vitamin untuk kebutuhan mereka sendiri. Padahal, di saat yang sama beban kerja mereka yang berat akan berdampak pada penurunan imunitas. Artinya, salah satu gerakan konkret yang mungkin bisa dilakukan ialah memfasilitasi mereka akses untuk asupan makanan yang bergizi.
Jika gerakan-gerakan seperti itu semakin masif, solidaritas publik secara luas bakal tumbuh dan terpupuk. Solidaritas akan menjadi modal yang amat positif bagi negeri ini dalam menghadapi musuh bersama yang bernama covid-19.
Sekali lagi, tenaga kesehatan ialah garda terdepan. Sudah seharusnyalah kita yang ada di barisan belakang bersama-sama menyokong mereka. 'Peperangan' ini akan bisa kita menangi bila prajurit depan dan pasukan di belakang berjuang sama-sama. Tidak saling menihilkan, tidak pula saling menyalahkan.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved