Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SERANGAN virus korona jenis anyar atau covid-19 di negeri ini semakin nyata. Seperti yang terjadi di banyak negara, ia sangat berpotensi menjadi masalah luar biasa sehingga sudah saatnya dilakukan upaya-upaya luar biasa untuk menghadapinya.
Serangan virus korona semakin nyata antara lain terbukti dengan semakin bertambahnya orang di Tanah Air yang terpapar. Sejak diumumkan Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3) bahwa untuk kali pertama ada pasien yang positif terjangkit oleh virus menular itu di Indonesia, jumlahnya hingga kemarin membengkak menjadi 34 orang.
Bahkan, virus korona telah merenggut nyawa di Indonesia. Kabar duka itu disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah untuk urusan virus korona, Achmad Yurianto, kemarin. Korban meninggal ialah pasien nomor 25 yang merupakan warga negara asing berusia 53 tahun. Selain positif korona, korban mengidap komplikasi penyakit berat yang mendahuluinya, seperti diabetes, hipertensi, dan paru obstruksi menahun.
Betul bahwa kendati sudah ada yang meninggal, ada pula pasien positif virus korona yang dinyatakan sembuh dan segera pulang setelah lama menjalani perawatan. Selaras dengan fakta global, jumlahnya pun lebih banyak ketimbang yang meninggal dunia.
Meski begitu, kita pantang menganggap biasa saja perkembangan yang terjadi. Semakin bertambahnya jumlah penderita covid-19 dan sudah adanya pasien yang meninggal dunia ialah peringatan nyata, sangat nyata, bagi kita.
Tiada satu pun alasan untuk tidak meningkatkan kewaspadaan. Tiada satu pun dalih untuk tidak melakukan upaya-upaya lebih konkret lagi agar virus korona tak semakin merajalela. Terlebih, dari jumlah penderita, ada satu yang belum jelas tertular dari mana dan dari siapa. Pemerintah menduga pasien nomor 27 itu akibat dari local transmission dan masih terus ditelusuri sumber penularannya.
Sejauh ini pemerintah memang sudah melakukan sejumlah langkah untuk menangkal korona. Langkah itu, misalnya, menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok yang merupakan tempat virus korona berawal dan memulangkan ratusan WNI dari luar negeri. Pemerintah juga melarang wisatawan dari beberapa negara yang marak penderita korona.
Namun, harus kita katakan, semua langkah itu masih jauh dari cukup. Jika menilik perkembangan yang kian mengkhawatirkan, sudah saatnya pemerintah bersikap lebih ekstrem lagi. Bukan waktunya lagi unsur dari pemerintah mengampanyekan bahwa korona tak terlalu berbahaya.
Faktanya, virus korona memang berbahaya. Faktanya, sejumlah negara kini dibuat kelabakan akibat serangan virus yang bermula di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, itu. Faktanya pula, sudah lebih dari 3.000 orang kehilangan nyawa lantaran korona.
Menganggap bahwa virus korona tak perlu terlalu ditakutkan bisa membuat kita terlena dan berakibat fatal. Sudah saatnya anggapan dibalik, bahwa korona memang menakutkan sehingga pemerintah dan masyarakat betul-betul melakukan tindakan nyata untuk mengalahkan ketakutan itu.
Kita tidak ingin bangsa ini terlambat lagi dalam bertindak menghadapi korona yang kian merajalela. Kita tidak ingin bernasib seperti Italia atau Korea Selatan yang kini menjadi jajahan virus korona. Kita ingin seperti Vietnam atau Singapura yang berhasil memenangi perang melawan korona karena tegas bersikap dan sigap bertindak begitu mendapat serangan.
Membuat rakyat tetap tenang memang penting, tetapi memastikan agar korona tidak semakin liar jauh lebih penting. Salah satu yang bisa dilakukan ialah meniadakan berbagai ragam keramaian karena berpotensi menjadi episentrum penularan.
Kebijakan ekstrem boleh jadi membuat kesan bahwa negeri ini sedang genting. Akan tetapi, ia lebih dibutuhkan dalam situasi sekarang agar rakyat Indonesia tidak semakin sengsara akibat ekspansi virus korona. Apalah artinya kesan yang bagus, tetapi menyimpan bencana.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved