Kesaksian Terang Skandal Hambalang

20/8/2014 00:00
IBARAT permainan sepak bola, kasus korupsi proyek Wisma Atlet Hambalang seperti penyerang yang sudah berada di depan mulut gawang lawan yang kosong. Sang penyerang tinggal menyodorkan bola dan menjadikannya gol kemenangan. Begitulah gambaran persidangan kasus yang menurut perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan telah merugikan negara Rp463,66 miliar tersebut.

Dari sidang satu ke sidang lainnya, sejumlah saksi secara terang-benderang menyebut pihak-pihak yang menerima duit hasil patgulipat proyek senilai Rp1,2 triliun itu. Kesaksian paling baru dikemukakan mantan Wakil Direktur Keuangan PT Permai Group Yulianis.

Dalam keterangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (18/8), anak buah mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin itu menyebut anggota Komisi III DPR Fahri Hamzah dan Ketua DPR Marzuki Alie menerima aliran duit Hambalang dari Nazaruddin. Politikus PKS Fahri Hamzah disebut menerima US$25 ribu (sekitar Rp275 juta).

Uang tersebut, kata Yulianis menirukan pernyataan Nazaruddin, digunakan untuk uang muka pembelian mobil. Politikus Demokrat Marzuki Alie disebut Yulianis menerima uang lebih besar, yakni US$1 juta (sekitar Rp11 miliar). Keterangan serupa disampaikan saksi lainnya, mantan tenaga ahli Nazaruddin, Nuril Anwar, yang mengaku menyaksikan sendiri pemberian uang tersebut.

Baik Fahri Hamzah maupun Marzuki Alie membantah menerima uang dari Nazaruddin. Melalui akun Twitter, Fahri bukan cuma membantah telah menerima duit Hambalang, melainkan juga mengaku tidak kenal dengan Yulianis dan Nazaruddin. Kendati pihak-pihak yang disebut saksi membantah, bukan berarti sudah pasti kesaksian mereka boleh diabaikan.

Para saksi itu memberikan keterangan di bawah sumpah di forum lembaga terhormat di pengadilan. Terlalu berat jerat sanksinya jika mereka memberikan keterangan bohong, apalagi jika mereka bersumpah palsu. Karena itu, menjadi tugas penegak hukum untuk menciptakan 'gol-gol' baru berdasarkan sejumlah kesaksian di depan persidangan tersebut. Fakta persidangan yang disampaikan di bawah sumpah jelas bukan ilusi.

Kalaupun ada yang meleset, tentu tidak semua hal dari keterangan itu. Pasti ada peluang kebenaran kendati, misalnya, hanya secuil. Kasus Hambalang, sebagaimana juga kasus Century, merupakan megaskandal yang amat dekat bersinggungan dengan pusat kekuasaan. Ia berada di dalam rumah, bukan di halaman depan, apalagi halaman belakang.

Kasus Hambalang, juga Century, bahkan menjadi pertaruhan amat penting bagi Komisi Pemberantasan Korupsi yang sudah bertekad membabat habis korupsi dari negeri ini. Pertaruhan karena hingga detik ini KPK masih mendapatkan kepercayaan sangat besar dari rakyat.

Rakyat tentu tidak sedang memberikan cek kosong kepada KPK saat menaruh kepercayaan itu. Publik sangat berharap KPK berpacu di jalur cepat dan tanpa pandang bulu mengusut skandal korupsi, lebih-lebih megaskandal yang melibatkan kalangan dekat kekuasaan. Ikan busuk bermula dari kepalanya. Karena itu, nyali KPK tak boleh ciut kendati harus memangkas kepala yang busuk tersebut, apa pun risikonya. 





Berita Lainnya