Mempersiapkan Peralihan

18/8/2014 00:00
KETIDAKMULUSAN peralihan telah menjadi fakta tak terbantahkan di negeri ini tatkala sebuah pemerintahan berganti ke pemerintahan berikutnya. Dalam enam kali masa pergantian pemerintahan sejak kemerdekaan RI, enam kali pula peralihan itu tidak berjalan mulus dan harmonis.

Ketidakmulusan itu berlangsung sejak kekuasaan presiden pertama Soekarno beralih ke Soeharto. Ketidakmulusan itu berlanjut ketika pemerintahan beralih dari Soeharto ke BJ Habibie, dari BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, juga dari Abdurrahman Wahid ke Megawati Soekarnoputri.

Ketidakharmonisan terus mewarnai peralihan kekuasaan yang terakhir, dari Megawati kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga hari ini bahkan komunikasi antara mantan Presiden Megawati dan Presiden Yudhoyono belum berjalan baik lazimnya hubungan antara presiden dan mantan presiden di negara-negara demokratis lainnya.  

Dampak peralihan atau transisi yang tidak mulus itu tentu saja ikut dirasakan langsung oleh rakyat. Rakyat dirugikan karena program-program pembangunan dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang baru tidak berkesinambungan. Karena itu, kita menyambut baik dan menghargai inisiatif pembentukan Tim Transisi oleh presiden terpilih Joko Widodo.

Tim yang telah dua pekan ini berjalan merupakan upaya presiden terpilih untuk mempersiapkan diri agar apa yang telah dikemukakan dalam masa kampanye dapat segera diimplementasikan begitu ia kelak mulai memerintah. Pembentukan Tim Transisi juga dapat dilihat sebagai upaya mengakhiri ketidakmulusan dan ketidakharmonisan dalam peralihan kekuasaan yang selama ini terus berlangsung.

Karena itu, kita mendorong pembentukan Tim Transisi yang untuk pertama kalinya diketuai mantan Menperindag Rini Mariani Soemarno Soewandi itu menjadi tradisi baru begitu pergantian pemerintahan akan berlangsung. Ia diharapkan mampu mengakhiri tradisi ketidakharmonisan yang selama ini terus dialami saat pergantian masa pemerintahan.

Kita juga mengapresiasi Presiden Yudhoyono yang bersikap positif atas pembentukan Tim Transisi oleh Joko Widodo. Kita memahami saat Presiden Yudhoyono sempat menyatakan pihaknya merasa tidak etis jika harus bekerja dengan Tim Transisi karena keputusan gugatan hasil pemilihan presiden dari Prabowo-Hatta ke Mahkamah Konstitusi belum final.

Namun, saat menyampaikan nota keuangan RAPBN 2015, Jumat (15/8), SBY secara positif menyebut dan menyambut baik keberadaan Tim Transisi. Dengan adanya Tim Transisi, kita berharap transisi dari pemerintahan SBY-Boediono kepada Jokowi-JK dapat berjalan lancar.

Kita ingin ketidakmulusan dan ketidakharmonisan pergantian pemerintahan sebelumnya diakhiri karena rakyatlah yang lebih banyak dirugikan. Transisi yang buruk juga membuat pemerintahan baru tidak memiliki gambaran mengenai apa yang sebaiknya diteruskan dan apa yang mesti diakhiri.

Transisi yang buruk dapat membuat program pembangunan dari pemerintahan lama ke pemerintahan baru seperti terputus. Padahal, bisa saja program pemerintahan sebelumnya sangat bermanfaat bagi rakyat bila dilanjutkan pemerintahan baru. Sudah saatnya peralihan pemerintahan dijalankan dengan mulus, lancar, dan harmonis. Inilah tugas Tim Transisi yang harus didukung dan diwujudkan.

TEASER:
Sudah saatnya peralihan pemerintahan dijalankan dengan mulus, lancar, dan harmonis. Inilah tugas Tim Transisi yang harus didukung dan diwujudkan



Berita Lainnya