Rakyat Kita Lebih Dewasa

22/7/2014 00:00
PROSES Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 sudah tiba di gerbang terakhir. Hari ini, Komisi Pemilihan Umum dijadwalkan menetapkan pemenang kontestasi demokrasi yang pemungutannya sudah dilakukan pada 9 Juli lalu.

Tanpa bermaksud mendahului KPU, siapa yang bakal memenangi pilpres kali ini sebenarnya  sudah diketahui gamblang. Selain hasil hitung cepat lembaga kredibel, hasil penghitungan KPU dari jenjang paling bawah hingga tingkat rapat pleno provinsi menunjukkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pemenangnya.

Selisih dengan pasangan Prabowo-Hatta pun signifikan, sekitar 7 juta-8 juta suara. Karena itulah, sebagian elite di kubu yang kalah sudah legawa mengakui pihak yang menang. Sebagian besar masyarakat pendukung kubu yang kalah juga realistis dan menerima kekalahan itu sebagai hal biasa.

Mereka memilih meneruskan hidup sehari-hari, beraktivitas seperti sedia kala, dan berharap tahapan pilpres berakhir damai. Di berbagai media sosial ataupun forum-forum pertemuan antarwarga, kita menyaksikan aksi merajut kembali persaudaraan sesama warga bangsa sudah dilakukan. 'Pertarungan' hebat selama sebulan dilalui dengan tingkat kedewasaan sangat tinggi.

Sayangnya, bagi sebagian elite, menciptakan perasaan legawa menjadi perkara amat sulit. Rupa-rupa dalih diciptakan demi menutupi semboyan 'hanya siap menang, tapi tak mau menerima kekalahan'.

Ketika lembaga survei kredibel mengumumkan hasil hitung cepat, mereka yang biasa mengandalkan hasil hitung cepat sebagai rujukan tiba-tiba menuding lembaga yang tidak memenangkan mereka sebagai bayaran.

Mereka meminta menunggu rapat pleno rekapitulasi secara nasional di KPU besok. Begitu hasil rekapitulasi mengarah ke kemenangan untuk pasangan yang lagi-lagi bukan di kubu yang didukung, mulailah muncul ide desakan menyetop rekapitulasi nasional dan menundanya.

Para elite mestinya paham bahwa pengorbanan rakyat untuk menyukseskan Pilpres 2014 tidak sedikit. Rakyat tidak hanya mengorbankan waktu, tenaga, ataupun pikiran, tapi juga menyokong dengan dana. Karena itu, jangan sia-siakan pengorbanan rakyat. Jangan matikan harapan mereka dengan sikap kerdil tak mau menerima kekalahan kendati semua proses sudah berjalan fair, meski belum sempurna.

Rakyat jelas merindukan munculnya negarawan. Negarawan yang sudah 'selesai' dengan dirinya, yang menjadikan pijakan gerak langkah pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Kita rindu sosok seperti Bung Hatta yang secara politik berbeda dengan Bung Karno, tetapi pada saat-saat terakhir dari hidup Bung Karno, ia tampil sebagai sahabat terdekat. Atau seperti Buya HAMKA, yang dipenjarakan tanpa alasan oleh Bung Karno, tanpa beban apa pun tampil mengimami salat jenazah Bung Karno.

Rakyat sudah dewasa, tapi kapan para elitenya?


Berita Lainnya