PROSES Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 sudah tiba di gerbang terakhir. Hari ini, Komisi Pemilihan Umum dijadwalkan menetapkan pemenang kontestasi demokrasi yang pemungutannya sudah dilakukan pada 9 Juli lalu.
Tanpa bermaksud mendahului KPU, siapa yang bakal memenangi pilpres kali ini sebenarnya sudah diketahui gamblang. Selain hasil hitung cepat lembaga kredibel, hasil penghitungan KPU dari jenjang paling bawah hingga tingkat rapat pleno provinsi menunjukkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pemenangnya.
Selisih dengan pasangan Prabowo-Hatta pun signifikan, sekitar 7 juta-8 juta suara. Karena itulah, sebagian elite di kubu yang kalah sudah legawa mengakui pihak yang menang. Sebagian besar masyarakat pendukung kubu yang kalah juga realistis dan menerima kekalahan itu sebagai hal biasa.
Mereka memilih meneruskan hidup sehari-hari, beraktivitas seperti sedia kala, dan berharap tahapan pilpres berakhir damai. Di berbagai media sosial ataupun forum-forum pertemuan antarwarga, kita menyaksikan aksi merajut kembali persaudaraan sesama warga bangsa sudah dilakukan. 'Pertarungan' hebat selama sebulan dilalui dengan tingkat kedewasaan sangat tinggi.
Sayangnya, bagi sebagian elite, menciptakan perasaan legawa menjadi perkara amat sulit. Rupa-rupa dalih diciptakan demi menutupi semboyan 'hanya siap menang, tapi tak mau menerima kekalahan'.
Ketika lembaga survei kredibel mengumumkan hasil hitung cepat, mereka yang biasa mengandalkan hasil hitung cepat sebagai rujukan tiba-tiba menuding lembaga yang tidak memenangkan mereka sebagai bayaran.
Mereka meminta menunggu rapat pleno rekapitulasi secara nasional di KPU besok. Begitu hasil rekapitulasi mengarah ke kemenangan untuk pasangan yang lagi-lagi bukan di kubu yang didukung, mulailah muncul ide desakan menyetop rekapitulasi nasional dan menundanya.
Para elite mestinya paham bahwa pengorbanan rakyat untuk menyukseskan Pilpres 2014 tidak sedikit. Rakyat tidak hanya mengorbankan waktu, tenaga, ataupun pikiran, tapi juga menyokong dengan dana. Karena itu, jangan sia-siakan pengorbanan rakyat. Jangan matikan harapan mereka dengan sikap kerdil tak mau menerima kekalahan kendati semua proses sudah berjalan fair, meski belum sempurna.
Rakyat jelas merindukan munculnya negarawan. Negarawan yang sudah 'selesai' dengan dirinya, yang menjadikan pijakan gerak langkah pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.
Kita rindu sosok seperti Bung Hatta yang secara politik berbeda dengan Bung Karno, tetapi pada saat-saat terakhir dari hidup Bung Karno, ia tampil sebagai sahabat terdekat. Atau seperti Buya HAMKA, yang dipenjarakan tanpa alasan oleh Bung Karno, tanpa beban apa pun tampil mengimami salat jenazah Bung Karno.
Rakyat sudah dewasa, tapi kapan para elitenya?
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.