Menerima Kekalahan

18/7/2014 00:00
PEMILIHAN Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 sebagai ajang berkompetisi dalam demokrasi tentu membutuhkan sportivitas. Sportivitas itu terutama kita harapkan datang dari pemimpin dan calon pemimpin demi keutuhan dan masa depan bangsa.

Sportivitas boleh berarti sifat kesatria atau kebesaran jiwa, sebuah kualitas perilaku yang harus dimiliki negarawan.  Bagi pihak yang memenangi kompetisi, jiwa besar diekspresikan antara lain dengan tidak jemawa dan menistakan lawan tandingnya.

Sebaliknya, bagi pihak yang kalah, sifat kesatria mesti ditunjukkan antara lain dengan mengakui dan menerima kekalahan sekaligus tidak melakukan upaya-upaya provokasi yang dapat membuat siapa pun tersulut melakukan hal-hal yang bertentangan dengan semangat demokrasi.

Kita ingatkan agar semua yang terlibat dalam pilpres kali ini, terutama dua pasangan capres dan cawapres yang bertanding, mau menghargai semua proses dan perkembangan yang terjadi di lapangan. Kita tidak sedang berada di dalam tempurung yang hanya akan terbuka nanti pada 22 Juli ketika KPU mengumumkan penghitungan resmi Pilpres 2014.

Tentu, tahapan penting dari pemilu tersebut harus kita tunggu dan hormati. Akan tetapi, suka tidak suka, saat ini kita berada di era yang serbaterbuka, termasuk demokrasi dengan seluruh prosesnya. Dalam perjalanan proses itu publik secara objektif bisa melihat dari beberapa indikator yang ada, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengungguli Prabowo-Hatta Rajasa.

Bahkan, keunggulan Jokowi-JK itu juga mulai diakui oleh sebagian kubu pendukung Prabowo-Hatta. Tidak hanya dari hasil hitung cepat menurut delapan lembaga kredibel yang angkanya memenangkan Jokowi-JK dengan selisih angka 5%-7%, keunggulan pasangan nomor urut 2 tersebut juga tergambar dari perolehan suara sementara, setidaknya setelah Komisi Pemilihan Umum merampungkan proses penghitungan tingkat kabupaten/kota.

Melalui laman www.kawalpemilu.org yang dikelola secara independen oleh orang-orang nonpartisan, publik dapat melihat pula bahwa Jokowi-JK unggul di setidaknya 314 wilayah (52,82%), sedangkan Prabowo-Hatta menang di 165 wilayah (47,18%).

Kita tentu tidak sedang memaksakan kemenangan untuk salah satu pasangan kandidat.  Biarlah itu menjadi tugas KPU untuk menentukannya. Bagaimanapun, hasil resmi KPU pada 22 Juli yang akan menjadi patokan.Akan tetapi, kita tidak ingin ada pihak-pihak yang terus membutakan dirinya dengan keyakinan-keyakinan yang tak didukung data valid.

 Kita hanya menghendaki semua pihak yang berkompetisi mempersiapkan diri secara psikologis untuk siap menang dan siap kalah. Kita tidak ingin ketidaksiapan menerima kekalahan berlanjut ketika hasil resmi diumumkan sehingga memunculkan gelombang penolakan.

Penolakan atas kekalahan sah-sah saja asalkan disalurkan melalui Mahkamah Konstitusi.  Yang tak boleh dilakukan ialah bila ia diekspresikan lewat pengerahan massa, apalagi jika berujung dengan anarki. Inilah saatnya bagi semua calon pemimpin untuk menunjukkan kenegarawanan mereka.

Bagi seorang negarawan, kemenangan menjadi pemimpin adalah titik awal untuk pengabdian yang lebih besar.  Bagi seorang negarawan, kekalahan bukan berarti kiamat karena begitu banyak ruang untuk mengabdi kepada bangsa dan Tanah Air.




Berita Lainnya