Harap Maklum, Pemimpin Sibuk

21/1/2014 00:00

TAHUN ini merupakan tahun supersibuk bagi para pejabat negara. Maklum, ini tahun politik yang ditandai dengan persiapan berkompetisi dan kontestasi menuju panggung kekuasaan periode lima tahun ke depan.

Menjadi bertambah sibuk lagi ketika awal tahun ini ditandai dengan datangnya berbagai bencana di sejumlah wilayah. Ada erupsi Gunung Sinabung yang sudah berlangsung empat bulan, banjir Jakarta dan sekitarnya, banjir dan longsor di Manado, serta sejumlah bencana di berbagai wilayah.

Karena itu, fisik dan pikiran para pejabat negara, khususnya yang berkepentingan dengan kursi kekuasaan atau menjadi elite pemimpin partai, akan benar-benar terforsir untuk kedua urusan tersebut.

Secara fisik, mereka harus siap setiap saat untuk menyapa rakyat sekaligus konstituen atau calon konstituen partai. Secara psikis, pikiran mereka pasti akan banyak tersedot untuk menyusun berbagai strategi mencari solusi, dan yang lebih penting lagi memenangi kompetisi.

Karena itu, mengingat kesibukan yang amat super tersebut, mungkin para elite pemerintah tak perlu terlalu repot-repot untuk mengunjungi wilayah bencana, apakah di Sinabung, Manado, Jakarta, atau sejumlah daerah lainnya.

Toh, selama ini rakyat sudah terbiasa menyelesaikan permasalahan mereka sendiri-sendiri. Bukankah rakyat memang sudah lama yatim piatu?

Lagi pula, masih banyak sesama rakyat yang bermurah hati mengucurkan bantuan demi meringankan penderitaan. Kita juga tidak perlu cemburu dengan rakyat di negara lain yang pemimpinnya sigap mengunjungi tempat-tempat pengungsian saat ditimpa bencana.

Biarlah itu menjadi perbuatan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra yang urung menghadiri KTT APEC di Hawaii dan memilih bersama rakyatnya untuk berkolaborasi menghadapi krisis banjir pada 2011.

Biarkan pula itu menjadi tindakan Presiden Cile Sebastian Pinera yang lebih dari dua bulan memimpin langsung penyelamatan 33 penambang yang terperangkap di bawah tanah. Bukankah lain negara lain pula cara berempati?

Daripada nanti para pejabat berkunjung hanya untuk menumpahkah air mata sejenak, bagi-bagi sembako, lalu lupa mencari solusi seiring dengan keringnya air mata, sebaiknya para pejabat duduk manis di tempat masing-masing. Daripada dituduh sekadar pencitraan, lebih bagus para pejabat memikirkan dan merumuskan strategi menyelesaikan permasalahan bencana untuk skala yang besar dari ruang-ruang kerja mereka.

Gelar rapat sebanyak-banyaknya, di mana pun Anda berada, tapi setelah itu, memang ada penyelesaian atas masalah bencana beserta korbannya. Boleh saja mengambil keputusan di sela-sela kunjungan kerja ke Bali, misalnya, atau dari Karo dan di Manado, yang penting keputusan itu dirasakan rakyat. Gubernur DKI Jokowi dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan toh bisa rapat dan mengambil kesepakatan ihwal penanggulangan banjir DKI di Bendung Katulampa.

Kalau keputusan atau kesepakatan diambil dan kemudian dilaksanakan, siapa tahu setidaknya rakyat masih menyisakan baik sangka kepada Anda. Kalaupun selama ini dibiarkan yatim piatu, siapa tahu rakyat memaafkan kelalaian itu setelah mereka melihat ternyata negara hadir dengan solusi



Berita Lainnya