Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMUNGUTAN suara Pemilu 2019 sudah dua pekan berlalu, tetapi aroma rivalitas terus menyesaki udara negeri ini. Klaim kemenangan di antara kontestan pun masih terjadi, padahal cuma Komisi Pemilihan Umum yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk menentukan pemenang kontestasi.
Pemilu 2019 yang untuk pertama kalinya menyerentakkan pemilihan presiden dan wakil presiden dengan pemilihan anggota legislatif benar-benar menguras energi bangsa. Selama sekitar delapan bulan masa kampanye, rakyat dihadapkan pada kebisingan narasi sarat sensasi nirsubstansi. Berita bohong, fitnah, ataupun ujaran kebencian dipaksakan oleh sebagian elite memenuhi ruang publik.
Situasi yang menyebalkan itu tadinya diharap sirna setelah rakyat menunjukkan kedaulatan dengan berduyun-duyun mendatangi tempat pemungutan suara pada 17 April untuk menentukan pemimpin yang dikehendaki. Itulah people power yang sebenarnya.
Namun, pemungutan suara ternyata tak serta-merta meredam silang sengketa. Setelah pencoblosan, perselisihan karena perbedaan posisi dan pilihan di antara anak bangsa tetap saja kentara. Hasil hitung cepat oleh seluruh lembaga survei tepercaya disikapi secara berbeda oleh kedua kubu pasangan capres-cawapres.
Sebagai pemenang versi quick count, pasangan 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin tetap bijak bersikap.
Meski kemenangan itu dikuatkan hasil real count lewat Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU, mereka tetap berkomitmen menunggu hasil resmi nanti.
Sebaliknya, kubu 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ogah dianggap sebagai pihak yang kalah. Mereka mengklaim, bahkan kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemenang. Itulah yang membuat suasana pertarungan seperti tak berkesudahan meski pencoblosan sudah dilakukan.
Siap menang siap kalah selalu dilontarkan setiap kontestan, tapi seperti yang sudah-sudah realitasnya tak seindah ucapan. Siap untuk menang memang gampang, tetapi siap untuk kalah amat tak mudah.
Tidaklah elok jika ada pihak yang terus mengklaim kemenangan, padahal tak ada basis kuat yang menopang klaim itu. Lebih tidak elok lagi jika klaim tanpa dasar kemudian dibarengi dengan menebar tuduhan bahwa pemilu diwarnai kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Logikanya, kalau memang sudah merasa menang, kenapa mesti berkoar-koar bahwa pemilu curang?
Demokrasi akan bernilai jika semua pihak menjunjung tinggi fair play, patuh pada mekanisme dan aturan, serta menerima apa pun hasil kompetisi. Berkompetisi dalam pemilu ibarat bermain tinju. Begitu bel berbunyi pertanda pertarungan usai, yang sebenarnya yakin kalah pun biasa mengangkat kedua tangan sambil mengelilingi ring seolah-olah dia yang menang. Namun, tatkala juri telah membuat keputusan, semua harus patuh.
Sama halnya dengan pertandingan di ring pemilu. Akan percuma merasa diri juara karena yang berhak menentukan siapa yang kalah siapa pula yang menang hanyalah KPU. Karena itu, alangkah bermartabatnya jika para elite tak lagi menguar segala klaim kemenangan, apalagi mengumbar tuduhan pemilu sarat kecurangan.
Menunggu hasil rekapitulasi penghitungan suara secara manual yang akan ditetapkan KPU pada 22 Mei nanti ialah sikap paling selaras dengan jiwa demokrasi. Kalau hasilnya menyimpang, masih ada Mahkamah Konstitusi untuk menyalurkan keberatan dan gugatan.
Mematuhi setiap regulasi pemilu ialah wujud penghargaan kepada rakyat yang secara luar biasa menunjukkan kedaulatannya di TPS untuk menentukan masa depan bangsa. Taat pada semua aturan yang disepakati ialah bentuk penghormatan kepada ratusan orang yang gugur saat bertugas menyelenggarakan pemilu.
Itulah sikap yang wajib dikedepankan para elite sehingga ketegangan di antara anak bangsa tak berkepanjangan. Biarkan KPU menyelesaikan tugasnya, lalu kita bersama-sama menikmati hasilnya.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved