ALASAN utama mengapa asas pemilihan umum ditambah dengan kata jujur, adil, dan demokratis di belakang asas langsung, umum, bebas, dan rahasia ialah demi menjamin pemilu bebas dari kecurangan. Sayangnya, prinsip jujur, adil, dan demokratis itu pulalah yang selalu menjadi persoalan dari pemilihan ke pemilihan. Upaya mewujudkan pemilu yang bersih dari perilaku lancung pun masih jauh panggang dari api.
Yang kerap terjadi justru kerja sama haram antara penyelenggara pemilu dan kontestan demi keuntungan sesaat kedua pihak sembari mengkhianati rakyat. Kasus ditemukannya sejumlah kejanggalan dalam proses rekapitulasi suara yang termaktub di data formulir C-1 yang diunggah di laman Komisi Pemilihan Umum, misalnya, memberi kita sinyal bahwa celah untuk munculnya kemungkinan manipulasi belum sepenuhnya hilang.
Di TPS 17 Kecamatan Cempaka Putih, Kelurahan Rawasari, Jakarta Pusat, ada ketidaksinkronan jumlah dalam formulir C-1 yang diunggah. Suara Prabowo-Hatta sejumlah 497, sedangkan Jokowi-JK 193. Keanehan ada pada jumlah seluruh suara sah yang ditulis seharusnya 680, tetapi tertera 490. Hal serupa juga terjadi di TPS 41 Pulo Gadung, Rawamangun, Jakarta Timur. Prabowo-Hatta memperoleh 289 suara, sedangkan Jokowi-JK memperoleh 231 suara. Namun, jumlah suara sah tertulis 470 suara.
Kita mengapresiasi KPU yang mengunggah formulir C-1 di laman mereka. Itu semua dimaksudkan agar prinsip transparansi terpenuhi, dan dugaan bakal munculnya kecurangan bisa dideteksi sejak dini. Namun, kita juga tidak bisa berharap banyak dari pengunggahan formulir tersebut. Basis sah kemenangan pilpres tetaplah penghitungan suara manual yang dirapatplenokan di kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan ujungnya di KPU.
Karena itu, tugas mengawasi dan mengawal suara masih jauh dari kata selesai. Temuan kejanggalan itu justru menjadi pemandu baik bagi pengawas maupun sukarelawan untuk melipat gandakan kewaspadaan. Temuan itu sekaligus menjadi alarm bagi penyelenggara pemilu untuk tidak main-main dan memain-mainkan suara rakyat. Sekecil apa pun upaya main mata bakal diketahui publik.
Apalagi, KPK sudah siap menjerat penyelenggara dan pengawas pilpres yang lancung. Kita sudah sepakat bahwa transisi demokrasi sudah saatnya diakhiri, lalu kita bersiap memasuki demokrasi sepenuhnya. Jangan sampai gerbang demokrasi yang sudah terbuka ditutup kembali oleh aksi curang demi menuruti syahwat kekuasaan dan uang.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.