Hari Penentuan

09/7/2014 00:00
SETELAH melewati tahapan kampanye dan seri debat yang panjang, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 memasuki tahapan paling krusial, yakni pemungutan suara, hari ini. Inilah pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung untuk ketiga kalinya sejak Republik ini berdiri.  Jika pada dua pilpres sebelumnya negeri ini benar-benar masih dalam tahap 'mencoba' demokrasi, dalam pilpres kali ini kita mestinya sudah menapaki gerbang sesungguhnya dari demokrasi. Wajar belaka jika kita menyebut hari pemungutan suara kali ini sebagai hari penentuan.

Inilah penentuan apakah Indonesia mampu menapaki era demokrasi yang  sesungguhnya atau tetap berkutat  di masa transisi menuju demokrasi atau justru mundur ke era otoriter.  Gelombang reformasi pada 1998 yang meruntuhkan rezim Orde Baru memang telah mengentaskan bangsa ini dari alam kediktatoran ke alam kebebasan. Namun, sulit dibantah bahwa demokrasi yang sudah 16 tahun dicoba untuk dipraktikkan masih sebatas formalitas.

Demokrasi memang telah membawa perubahan, tetapi belum kunjung membawa kebahagiaan. Padahal, semua modus kekuasaan mestinya diarahkan untuk mengejar kebahagiaan.  Usaha demokrasi guna membawa kebahagiaan yang menuntut penjelmaan 'negara-pelayan' masih jauh dari harapan. Basis legitimasi negara pelayan yang bersumber pada perlindungan, kesejahteraan, pengetahuan, serta keadilan tak kunjung terwujud, terutama karena kita belum memiliki pemimpin autentik.

Elite selama ini mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi yang bermartabat, seperti profesionalitas birokrasi, netralitas aparat, serta berkembangnya politik gagasan lewat gegap gempita pidato, tetapi diam-diam mengingkari pernyataan itu.  Elite bangsa selalu memidatokan pentingnya demokrasi dan kebebasan, pentingnya negara hadir dan bahkan tidak boleh kalah oleh kekerasan, kejahatan, serta mafia, tetapi rakyat nyaris tak terlalu merasakan jejaknya.

Alih-alih memperoleh kebahagiaan dari jalan demokrasi, sebagian rakyat malah sudah frustrasi dengan demokrasi. Lalu muncullah imajinasi untuk mengglorifikasi masa lampau dengan jargon enaknya zaman dulu. Jalan demokrasi yang sudah dirintis dengan luka, darah, dan nyawa hendak dipukul ke belakang sembari memaklumi otoriterisme. Bahasa gampangnya, 'tidak apa-apa otoriter, asal kenyang'.

Padahal, yang salah selama ini bukanlah jalan demokrasi. Para elite  pembajak demokrasilah yang menyebabkan jalan tersebut menyimpang. Negara yang mestinya melindungi warganya dari bahaya, karena ketertiban dam keselamatan sangat esensial bukan hanya bagi kehidupan melainkan juga untuk meraih kebahagiaan, nyatanya malah kerap absen.  Peran pemerintah dalam memfasilitasi kesejahteraan juga masih jauh panggang dari api.

Kelaparan di sejumlah negara bukanlah karena kekurangan makanan, melainkan karena rakyat tak memiliki hak milik dan daya beli sebagai akibat buruknya layanan pemerintahan.  Jalan kebahagiaan rakyat melalui demokrasi yang sesungguhnya juga akan terlihat dari kemampuan serta kemauan negara dan pemimpinnya dalam menegakkan keadilan. Sayangnya, justru penegakan keadilan, yang tidak memandang mayoritas atau minoritas, itulah yang kerap dikeluhkan.

 Pemungutan suara pada pilpres hari ini menjadi saat penting dan menentukan, apakah bangsa ini merelakan demokrasi 'dibajak' dan terus-menerus di jalur transisi? Atau pilpres hari ini kita jadikan wahana untuk memilih pemimpin yang sanggup mengantarkan bangsa menuju jalan demokrasi yang  sesungguhnya?  Mari kita rayakan pilpres hari ini sebagai kegembiraan politik untuk menentukan pemimpin autentik yang akan mengantarkan bangsa ini menuju demokrasi sebagai jalan kesejahteraan.
   
.



Berita Lainnya