SETELAH melewati tahapan kampanye dan seri debat yang panjang, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 memasuki tahapan paling krusial, yakni pemungutan suara, hari ini. Inilah pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung untuk ketiga kalinya sejak Republik ini berdiri. Jika pada dua pilpres sebelumnya negeri ini benar-benar masih dalam tahap 'mencoba' demokrasi, dalam pilpres kali ini kita mestinya sudah menapaki gerbang sesungguhnya dari demokrasi. Wajar belaka jika kita menyebut hari pemungutan suara kali ini sebagai hari penentuan.
Inilah penentuan apakah Indonesia mampu menapaki era demokrasi yang sesungguhnya atau tetap berkutat di masa transisi menuju demokrasi atau justru mundur ke era otoriter. Gelombang reformasi pada 1998 yang meruntuhkan rezim Orde Baru memang telah mengentaskan bangsa ini dari alam kediktatoran ke alam kebebasan. Namun, sulit dibantah bahwa demokrasi yang sudah 16 tahun dicoba untuk dipraktikkan masih sebatas formalitas.
Demokrasi memang telah membawa perubahan, tetapi belum kunjung membawa kebahagiaan. Padahal, semua modus kekuasaan mestinya diarahkan untuk mengejar kebahagiaan. Usaha demokrasi guna membawa kebahagiaan yang menuntut penjelmaan 'negara-pelayan' masih jauh dari harapan. Basis legitimasi negara pelayan yang bersumber pada perlindungan, kesejahteraan, pengetahuan, serta keadilan tak kunjung terwujud, terutama karena kita belum memiliki pemimpin autentik.
Elite selama ini mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi yang bermartabat, seperti profesionalitas birokrasi, netralitas aparat, serta berkembangnya politik gagasan lewat gegap gempita pidato, tetapi diam-diam mengingkari pernyataan itu. Elite bangsa selalu memidatokan pentingnya demokrasi dan kebebasan, pentingnya negara hadir dan bahkan tidak boleh kalah oleh kekerasan, kejahatan, serta mafia, tetapi rakyat nyaris tak terlalu merasakan jejaknya.
Alih-alih memperoleh kebahagiaan dari jalan demokrasi, sebagian rakyat malah sudah frustrasi dengan demokrasi. Lalu muncullah imajinasi untuk mengglorifikasi masa lampau dengan jargon enaknya zaman dulu. Jalan demokrasi yang sudah dirintis dengan luka, darah, dan nyawa hendak dipukul ke belakang sembari memaklumi otoriterisme. Bahasa gampangnya, 'tidak apa-apa otoriter, asal kenyang'.
Padahal, yang salah selama ini bukanlah jalan demokrasi. Para elite pembajak demokrasilah yang menyebabkan jalan tersebut menyimpang. Negara yang mestinya melindungi warganya dari bahaya, karena ketertiban dam keselamatan sangat esensial bukan hanya bagi kehidupan melainkan juga untuk meraih kebahagiaan, nyatanya malah kerap absen. Peran pemerintah dalam memfasilitasi kesejahteraan juga masih jauh panggang dari api.
Kelaparan di sejumlah negara bukanlah karena kekurangan makanan, melainkan karena rakyat tak memiliki hak milik dan daya beli sebagai akibat buruknya layanan pemerintahan. Jalan kebahagiaan rakyat melalui demokrasi yang sesungguhnya juga akan terlihat dari kemampuan serta kemauan negara dan pemimpinnya dalam menegakkan keadilan. Sayangnya, justru penegakan keadilan, yang tidak memandang mayoritas atau minoritas, itulah yang kerap dikeluhkan.
Pemungutan suara pada pilpres hari ini menjadi saat penting dan menentukan, apakah bangsa ini merelakan demokrasi 'dibajak' dan terus-menerus di jalur transisi? Atau pilpres hari ini kita jadikan wahana untuk memilih pemimpin yang sanggup mengantarkan bangsa menuju jalan demokrasi yang sesungguhnya? Mari kita rayakan pilpres hari ini sebagai kegembiraan politik untuk menentukan pemimpin autentik yang akan mengantarkan bangsa ini menuju demokrasi sebagai jalan kesejahteraan.
.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.