Jangan Cederai Partisipasi Rakyat

08/7/2014 00:00
PEMILIHAN Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 yang berlangsung besok merupakan pertaruhan bagi demokrasi kita. Di situlah kualitas demokrasi negeri ini diuji, di situ pula masa depan bangsa lima tahun ke depan ditentukan.

Mustahil diingkari, pilpres punya arti penting, amat penting, bagi  kelangsungan bangsa dan negara. Tidak mungkin disangkal, dengan sistem  presidensial yang kita anut, posisi presiden sangatlah vital dalam  menentukan baik-buruknya kehidupan bangsa dan negara.

Oleh karena itu, pilpres kali ini mesti menghasilkan sosok presiden yang baik. Baik tidak hanya dalam tataran rekam jejak, tetapi juga baik dalam hal proses menuju kursi kekuasaan.

Pilpres hanya akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang baik,  yang memang seusai dengan kehendak rakyat, jika berlangsung secara baik. Begitu besar asa rakyat bahwa pilpres kali ini bukan sekadar hura-hura, bukan semata pesta demokrasi, melainkan ajang untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Kita menyaksikan betapa harapan rakyat sungguh membubung. Kita menjadi  saksi betapa rakyat begitu antusias berpartisipasi dalam proses pilpres. Begitu dua pasangan calon presiden dan wakil presiden dideklarasikan, misalnya, relawan pemenangan tiap kandidat tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Rakyat jelata pun tak mau ketinggalan. Mereka secara tulus, bukan karena iming-iming materi, membentuk beragam komunitas demi menyokong dan ikut membuka jalan bagi sang idola menuju istana.

Bahkan untuk kali pertama dalam sejarah demokrasi di Republik ini,  rakyat dengan penuh kerelaan berlomba-lomba menyumbang dana kampanye. Itulah yang terjadi ketika tim Joko Widodo-Jusuf Kalla membuka rekening gotong royong dan mempersilakan publik ikut menyumbang.

Antusiasme rakyat juga terpampang dalam pencoblosan di luar negeri yang  memang lebih dulu diselenggarakan. Di seluruh tempat pemungutan suara, jumlah pemilih meningkat tajam, bahkan ada yang sampai 300%.

Oleh karena itu, kita menyayangkan banyak warga negara kita di Hong Kong yang tak bisa memilih. Adalah bijak jika Komisi Pemilihan Umum menggelar pemilu ulang di sana sebagai bentuk penghargaan atas antusiasme rakyat.

Kenapa rakyat begitu antusias menyambut dan terlibat di pilpres?  Jawabannya cuma satu, yakni mereka ingin perubahan dan perubahan itu layak dititipkan untuk diperjuangkan capres pilihan mereka. Bagi rakyat, pilpres kali ini amat punya gereget.

Oleh sebab itu, menjadi kewajiban negara untuk memastikan pilpres kali  ini sesuai kehendak rakyat. Kehendak yang sangat sederhana, yaitu pilpres berlangsung jujur, adil, lancar dan aman. Agar pilpres lancar dan aman, syaratnya juga sederhana, yakni pastikan perhelatan itu steril dari pelanggaran dan kecurangan.

Melalui forum ini kita tak pernah lelah untuk mengingatkan besarnya ancaman kecurangan dan pelanggaran dalam pilpres sebab kecurangan dan  pelanggaran bukanlah halusinasi. Mobilisasi oleh aparat dan politik uang menjadi modus yang biasa dilakukan untuk memengaruhi atau mengintimidasi pemilih.

Masa tenang yang semestinya menjadi masa-masa perenungan setelah hiruk  pikuk kampanye juga tak luput dari praktik-praktik kotor tersebut. Modus kecurangan berbungkus operasi senyap dengan membagi-bagi uang atau kebutuhan pokok marak di sejumlah daerah.

Kampanye berbungkus sosialisasi Undang-Undang Desa pada masa tenang di Madiun, Jawa Timur, yang dibubarkan Panwaslu, merupakan bukti adanya upaya berbuat curang.

Kecurangan dalam bentuk apa pun dan lewat cara apa pun merupakan bentuk kebiadaban yang menodai demokrasi. Keculasan harus diperangi, apalagi ketika  tingkat partisipasi dan kepedulian rakyat dalam pilpres kali ini sangat tinggi. Kemenangan melalui keculasan akan ditolak rakyat dan bisa mendelegitimasi pilpres.

Inilah saatnya bagi bangsa ini memilih presiden dengan semangat kejujuran karena siapa pun yang menjadi pemenang nanti, ia presiden seluruh rakyat Indonesia.


Berita Lainnya