PEMILIHAN Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 yang berlangsung besok merupakan pertaruhan bagi demokrasi kita. Di situlah kualitas demokrasi negeri ini diuji, di situ pula masa depan bangsa lima tahun ke depan ditentukan.
Mustahil diingkari, pilpres punya arti penting, amat penting, bagi kelangsungan bangsa dan negara. Tidak mungkin disangkal, dengan sistem presidensial yang kita anut, posisi presiden sangatlah vital dalam menentukan baik-buruknya kehidupan bangsa dan negara.
Oleh karena itu, pilpres kali ini mesti menghasilkan sosok presiden yang baik. Baik tidak hanya dalam tataran rekam jejak, tetapi juga baik dalam hal proses menuju kursi kekuasaan.
Pilpres hanya akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang baik, yang memang seusai dengan kehendak rakyat, jika berlangsung secara baik. Begitu besar asa rakyat bahwa pilpres kali ini bukan sekadar hura-hura, bukan semata pesta demokrasi, melainkan ajang untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar pemimpin.
Kita menyaksikan betapa harapan rakyat sungguh membubung. Kita menjadi saksi betapa rakyat begitu antusias berpartisipasi dalam proses pilpres. Begitu dua pasangan calon presiden dan wakil presiden dideklarasikan, misalnya, relawan pemenangan tiap kandidat tumbuh subur bak jamur di musim hujan.
Rakyat jelata pun tak mau ketinggalan. Mereka secara tulus, bukan karena iming-iming materi, membentuk beragam komunitas demi menyokong dan ikut membuka jalan bagi sang idola menuju istana.
Bahkan untuk kali pertama dalam sejarah demokrasi di Republik ini, rakyat dengan penuh kerelaan berlomba-lomba menyumbang dana kampanye. Itulah yang terjadi ketika tim Joko Widodo-Jusuf Kalla membuka rekening gotong royong dan mempersilakan publik ikut menyumbang.
Antusiasme rakyat juga terpampang dalam pencoblosan di luar negeri yang memang lebih dulu diselenggarakan. Di seluruh tempat pemungutan suara, jumlah pemilih meningkat tajam, bahkan ada yang sampai 300%.
Oleh karena itu, kita menyayangkan banyak warga negara kita di Hong Kong yang tak bisa memilih. Adalah bijak jika Komisi Pemilihan Umum menggelar pemilu ulang di sana sebagai bentuk penghargaan atas antusiasme rakyat.
Kenapa rakyat begitu antusias menyambut dan terlibat di pilpres? Jawabannya cuma satu, yakni mereka ingin perubahan dan perubahan itu layak dititipkan untuk diperjuangkan capres pilihan mereka. Bagi rakyat, pilpres kali ini amat punya gereget.
Oleh sebab itu, menjadi kewajiban negara untuk memastikan pilpres kali ini sesuai kehendak rakyat. Kehendak yang sangat sederhana, yaitu pilpres berlangsung jujur, adil, lancar dan aman. Agar pilpres lancar dan aman, syaratnya juga sederhana, yakni pastikan perhelatan itu steril dari pelanggaran dan kecurangan.
Melalui forum ini kita tak pernah lelah untuk mengingatkan besarnya ancaman kecurangan dan pelanggaran dalam pilpres sebab kecurangan dan pelanggaran bukanlah halusinasi. Mobilisasi oleh aparat dan politik uang menjadi modus yang biasa dilakukan untuk memengaruhi atau mengintimidasi pemilih.
Masa tenang yang semestinya menjadi masa-masa perenungan setelah hiruk pikuk kampanye juga tak luput dari praktik-praktik kotor tersebut. Modus kecurangan berbungkus operasi senyap dengan membagi-bagi uang atau kebutuhan pokok marak di sejumlah daerah.
Kampanye berbungkus sosialisasi Undang-Undang Desa pada masa tenang di Madiun, Jawa Timur, yang dibubarkan Panwaslu, merupakan bukti adanya upaya berbuat curang.
Kecurangan dalam bentuk apa pun dan lewat cara apa pun merupakan bentuk kebiadaban yang menodai demokrasi. Keculasan harus diperangi, apalagi ketika tingkat partisipasi dan kepedulian rakyat dalam pilpres kali ini sangat tinggi. Kemenangan melalui keculasan akan ditolak rakyat dan bisa mendelegitimasi pilpres.
Inilah saatnya bagi bangsa ini memilih presiden dengan semangat kejujuran karena siapa pun yang menjadi pemenang nanti, ia presiden seluruh rakyat Indonesia.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.