PENANGANAN bencana dan dampaknya di negeri ini ibarat anak sekolahan yang terus belajar, tetapi tak kunjung naik kelas. Upaya penanganan bencana selalu kalah cepat daripada datangnya bencana.
Kegiatan pencegahan bencana, terutama banjir, kalah cepat dengan kegiatan perusakan ekologis yang menjadi biang keladi banjir tersebut. Walhasil, kita acap gagap dan keteteran menghadapi bencana. Padahal, sebagai negara yang sangat rawan bencana, kegagapan harus segera bersalin wujud menjadi kesigapan.
Penyebabnya ialah kehadiran politik kebencanaan yang separuh hati, yang ala kadarnya. Politik kebencanaan separuh hati itu bisa dilihat dari, misalnya, minimnya anggaran penanganan banjir.
Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah Indonesia pada 2013 menganggarkan U$730 juta. Bandingkan dengan Jepang yang menganggarkan U$8.610 juta pada tahun yang sama.
Padahal, ancaman banjir di Indonesia, baik dari sisi intensitas maupun cakupannya, pasti lebih hebat jika dibandingkan dengan Jepang. Pemerintah kita malah menurunkan anggaran penanggulan banjir untuk 2014 menjadi hanya U$320 juta.
Minimnya anggaran, salah satunya, menyebabkan dari 3.000 daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi prio ritas untuk ditangani, baru 108 DAS yang dibenahi sejak 2009 hingga 2014, Politik kebencanaan yang separuh hati juga terlihat dari minimnya undang-undang atau peraturan daerah.
Saat ini baru 19 provinsi yang memiliki Perda tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) untuk mengontrol daerah mana yang tidak boleh dibangun. Namun, kalaupun sudah ada undang-undang atau aturan, kita khawatir penerapan atau penegakannya loyo.
Bahkan, atas nama peningkatan pendapatan daerah atau malah pendapatan pribadi pejabat, aturan tentang RTRW itu bisa dinegosiasikan. Maka, berdirilah vila, perumahan, apartemen, atau hotel di daerah aliran sungai atau kawasan resapan air.
Politik kebencanaan yang tidak sepenuh hati itu menyebabkan kegiatan penanggulangan banjir selama bertahuntahun tak mampu mengejar kecepatan banjir itu sendiri. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, bencana tahun 2013 meningkat hampir 300% jika dibandingkan dengan tahun 2012.
Politik kebencanaan kita semakin runyam dengan kacaubalaunya koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota/kabupaten. Silang pendapat antara pemerintah pusat, Pemprov DKI dan Pemkot Depok dalam menangani banjir Jakarta menjadi contohnya.
Sejumlah kalangan mengusulkan konsep kolaborasi untuk menggantikan koordinasi. Namun, ibarat kolaborasi berbagai alat musik dalam sebuah orkestra, penanganan bencana tetap memerlukan seorang konduktor.
Banjir, longsor, erupsi gunung berapi yang bertubi-tubi menyambangi negeri ini semestinya menjadi cemeti yang melecut kesadaran negara ini untuk sepenuh hati menangani bencana.
Itu bila bangsa ini tidak mau lagi disebut sebagai anak sekolahan yang terus tinggal kelas dalam menangani bencana.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.