PANGAN, energi, dan lingkungan pada hakikatnya berkaitan erat. Sayang, dalam praktik, korelasi ketiganya acap berlaku secara negatif. Demi memenuhi kebutuhan perut, kita menguras energi secara semena-mena sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Demi mencukupi kebutuhan lahan untuk tanaman pangan, orang membuka hutan. Ekosistem hutan pun tergerus. Penggunaan pupuk kimia memperparah kerusakan ekosistem. Konon, pembukaan lahan untuk pertanian merupakan penyumbang terbesar kerusakan bumi.
Untuk mengolah bahan pangan, kita memerlukan energi. Ketika kebutuhan pangan sebagai kebutuhan primer tercukupi, kebutuhan sekunder dan tersier hadir. Kebutuhan energi pun meningkat. Itu artinya pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan energi. Kita tahu penggunaan energi menyumbang polusi. Di sinilah pentingnya penghematan energi. Celakanya, di negeri ini subsidi yang mencapai Rp350 triliun justru menyebabkan konsumsi energi secara besar-besaran.
Karena ketersediaan bahan bakar minyak di dalam negeri terbatas, kita harus mengimpornya. Celakanya, impor minyak sejak lama direcoki mafia migas. Persoalan lain dalam bidang energi ialah pencurian minyak atau illegal tapping. Menurut SKK Migas, pada masa puncak, kehilangan akibat illegal tapping mencapai 2.000 barel per hari. Berdasarkan investigasi Media Indonesia, illegal tapping melibatkan aparat keamanan. Itu artinya illegal tapping juga merupakan mafia. Kita tahu bahwa untuk mengurangi kerusakan lingkungan, kita butuh strategi di bidang pangan dan energi.
Strategi di bidang pangan, energi, serta lingkungan sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi rakyat mengetahui apakah pemimpin memahami serta memiliki strategi implementasi di ketiga bidang. Itulah sebabnya, Komisi Pemilihan Umum menggelar debat calon presiden dan calon wakil presiden bertema pangan, energi, dan lingkungan. Dari debat, Sabtu (5/7) malam, harus kita katakan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla lebih unggul ketimbang Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Di bidang pangan kedua pasangan memiliki visi relatif sama. Namun, di bidang energi, Jokowi-JK lebih tegas menyatakan keseriusan memberantas mafia migas dan mencabut subsidi BBM secara bertahap. Keunggulan Jokowi-JK lainnya diakibatkan kekeliruan yang tidak perlu yang dilakukan Hatta Rajasa. Hatta menyebut Kalpataru sebagai penghargaan bidang lingkungan untuk kota. Padahal, Kalpataru penghargaan untuk individu, sedangkan untuk kota bernama Adipura. Namun, kita mengingatkan Jokowi-JK tak hanya unggul di pentas debat, tetapi mampu mengimplementasikan strategi pangan, energi, dan lingkungan demi pembangunan berkelanjutan jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden kelak.
TEASER:
Kita mengingatkan Jokowi-JK tak hanya unggul di pentas debat, tetapi mampu mengimplementasikan strategi pangan, energi, dan lingkungan demi pembangunan berkelanjutan jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden kelak.
Berita Lainnya
-
09/8/2025 05:00
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
-
08/8/2025 05:00
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
-
07/8/2025 05:00
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
-
06/8/2025 05:00
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
-
05/8/2025 05:00
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
-
04/8/2025 05:00
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
-
02/8/2025 05:00
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
-
01/8/2025 05:00
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
-
31/7/2025 05:00
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
-
30/7/2025 05:00
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
-
29/7/2025 05:00
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
-
28/7/2025 05:00
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
-
26/7/2025 05:00
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
-
25/7/2025 05:00
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
-
24/7/2025 05:00
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
-
23/7/2025 05:00
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.