Demi Pembangunan Berkelanjutan

07/7/2014 00:00
PANGAN, energi, dan lingkungan pada hakikatnya berkaitan erat. Sayang, dalam praktik, korelasi ketiganya acap berlaku secara negatif. Demi memenuhi kebutuhan perut, kita menguras energi secara semena-mena sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Demi mencukupi kebutuhan lahan untuk tanaman pangan, orang membuka hutan. Ekosistem hutan pun tergerus. Penggunaan pupuk kimia memperparah kerusakan ekosistem. Konon, pembukaan lahan untuk pertanian merupakan penyumbang terbesar kerusakan bumi.

Untuk mengolah bahan pangan, kita memerlukan energi. Ketika kebutuhan pangan sebagai kebutuhan primer tercukupi, kebutuhan sekunder dan tersier hadir. Kebutuhan energi pun meningkat. Itu artinya pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan energi. Kita tahu penggunaan energi menyumbang polusi. Di sinilah pentingnya penghematan energi. Celakanya, di negeri ini subsidi yang mencapai Rp350 triliun justru menyebabkan konsumsi energi secara besar-besaran.

Karena ketersediaan bahan bakar minyak di dalam negeri terbatas, kita harus mengimpornya. Celakanya, impor minyak  sejak lama direcoki mafia migas. Persoalan lain dalam bidang energi ialah pencurian minyak atau illegal tapping. Menurut SKK Migas, pada masa puncak, kehilangan akibat illegal tapping mencapai 2.000 barel per hari. Berdasarkan investigasi Media Indonesia, illegal tapping melibatkan aparat keamanan. Itu artinya illegal tapping juga merupakan mafia. Kita tahu bahwa untuk mengurangi kerusakan lingkungan, kita butuh strategi di bidang pangan dan energi.

Strategi di bidang pangan, energi, serta lingkungan sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi rakyat mengetahui apakah pemimpin memahami serta memiliki strategi implementasi di ketiga bidang. Itulah sebabnya, Komisi Pemilihan Umum menggelar debat calon presiden dan calon wakil presiden bertema pangan, energi, dan lingkungan. Dari debat, Sabtu (5/7) malam, harus kita katakan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla lebih unggul ketimbang Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

 Di bidang pangan kedua pasangan memiliki visi relatif sama. Namun, di bidang energi, Jokowi-JK lebih tegas menyatakan keseriusan memberantas mafia migas dan mencabut subsidi BBM secara bertahap. Keunggulan Jokowi-JK lainnya diakibatkan kekeliruan yang tidak perlu yang dilakukan Hatta Rajasa. Hatta menyebut Kalpataru sebagai penghargaan bidang lingkungan untuk kota. Padahal, Kalpataru penghargaan untuk individu, sedangkan untuk kota bernama Adipura. Namun, kita mengingatkan Jokowi-JK tak hanya unggul di pentas debat, tetapi mampu mengimplementasikan strategi pangan, energi, dan lingkungan demi pembangunan berkelanjutan jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden kelak.
 
TEASER:
Kita mengingatkan Jokowi-JK tak hanya unggul di pentas debat, tetapi mampu mengimplementasikan strategi pangan, energi, dan lingkungan demi pembangunan berkelanjutan jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden kelak.



Berita Lainnya