Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJATINYA, bukan kali ini saja negeri ini diberi 'ujian' dengan bencana yang datang beruntun. Kita tidak bisa menolak fakta bahwa sebagian besar wilayah di Indonesia, baik karena letak geografis maupun karakter geologinya, memiliki potensi bencana yang tak bisa dianggap sepele.
Bahkan semestinya kita menganggap seluruh negeri ini rawan bencana. Untuk apa? Supaya kewaspadaan dan kesigapan terhadap bencana selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Juga agar penyelenggara negara senantiasa menyiapkan politik kebencanaan yang mumpuni, baik dalam hal mitigasi maupun penanganan pascabencana.
Jika bicara politik kebencanaan, salah satu titik krusial ialah soal anggaran. Harus diakui, anggaran kebencanaan yang minim, terutama di daerah, menjadi salah satu kelemahan Republik ini yang membuat upaya penanggulangan bencana sering kali terlihat gagap. Tak jarang sampai kedodoran.
Dari sisi regulasi, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sejatinya sudah mengamanatkan pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran kebencanaan. Namun, faktanya banyak daerah yang seolah sekadar memenuhi formalitas undang-undang. Rata-rata mereka menyiapkan alokasi anggaran bencana yang terlampau kecil, tak sebanding dengan potensi bencana yang mengintai wilayah tersebut.
Ambil contoh di Pandeglang hari-hari ini. Kabupaten tersebut merupakan wilayah terdampak paling parah dari bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi akhir pekan lalu. Kini apa yang terjadi? Bupatinya mengaku pusing karena dana penanggulangan bencana di kabupaten itu tahun ini hanya dianggarkan Rp4 miliar. Itu pun sudah tidak utuh karena telah digunakan untuk penanganan bencana-bencana lain sebelumnya.
Bisa dibayangkan keruwetannya. Untuk menangani bencana yang mengakibatkan lebih dari 400 orang tewas serta kerusakan ratusan bangunan cukup parah, Kabupaten Pandeglang hanya punya sisa dana Rp200 juta di kas mereka. Akhirnya, mau tidak mau, mereka mesti bergantung pada bantuan pemerintah pusat dan provinsi.
Pandeglang bukan satu-satunya contoh. Kejadian serupa tentu acap pula terjadi di daerah-daerah lain. Kegagapan antisipasi karena minimnya anggaran hampir selalu kita temui setiap kali terjadi bencana. Bahkan sesungguhnya secara nasional hampir sama. Alokasi dana kebencanaan di APBN juga belum mencapai angka ideal menurut Bappenas, yakni 1% dari total anggaran.
Ada beberapa pendapat soal ini. Boleh jadi sebagian pemerintah daerah memang belum memiliki komitmen tinggi untuk menganggarkan dana bencana. Namun, ada pula yang sebenarnya memiliki keinginan kuat menyiapkan dana bencana yang besar, tetapi belum mampu mengkreasikan anggaran.
Mereka terkungkung karena memang ruang gerak anggaran terbatas. Kita tahu lebih dari 70% APBD, juga APBN, habis untuk anggaran rutin. Tak ada lagi uang kalau APBD diminta untuk menyiapkan anggaran khusus, termasuk anggaran penanganan bencana.
Rumit memang. Akan tetapi, kadang-kadang, sesuatu baru bisa berjalan setelah dipaksa. Untuk anggaran pendidikan, misalnya, negara harus dipaksa dengan undang-undang untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Awalnya terasa mustahil, tetapi pada akhirnya bisa dilakukan dan bahkan kini telah menjadi kelaziman.
Penyiapan anggaran bencana pun barangkali perlu pendekatan pemaksaan seperti itu. Pemaksaan penting karena kita tak bisa bermain-main dengan cincin api dan patahan-patahan lempeng aktif yang mengelilingi negeri ini.
Bencana bisa datang sewaktu-waktu. Karena itu, upaya mitigasi, antisipasi, dan penanganan pascabencana menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan. Namun, semua hanya akan jadi cerita bila kita tak memiliki politik anggaran kebencanaan yang kuat.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved