Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MASA kampanye pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2019 telah berjalan lebih dari dua bulan. Yang menyeruak di ranah publik sebatas narasi-narasi sensasional yang nirsubstansi. Bahkan tidak jarang diksi-diksi yang bertebaran mengarah ke hoaks dan politik identitas.
Substansi kampanye yang berbasis pada program, baik dari pasangan calon presiden ataupun partai politik, minim tersajikan, bahkan hampir tidak ada. Karena itu, wacana yang muncul ialah kampanye menjadi ajang saling bantah dan saling serang. Kampanye lebih diwarnai kegaduhan yang tak substantif serta saling serang tanpa berbasis data dan fakta.
Kampanye hanya diisi dengan hal-hal berbau emosional, tidak rasional, isu-isu yang remeh-temeh, tidak bermutu. Sensasi soal tempe setipis kartu ATM, tampang Boyolali bersahutan dengan diksi 99% rakyat hidup susah, dan uang Rp50 ribu enggak bisa buat beli apa-apa.
Belum lagi kembali bertebaran di media sosial makian-makian seperti kafir, antek PKI, aseng/asing, dan tudingan mengkriminalisasi ulama kepada capres 01 Joko Widodo bikin kampanye Pilpres 2019 makin runyam.
Mau tidak mau, narasi yang disampaikan tim kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin juga sepadan. Ketika publik disajikan dengan narasi ketakutan, respons yang muncul menggunakan analogi politik genderuwo dan sontoloyo. Ketika dihantam dengan hoaks, diksi tabok yang dipakai.
Pemilih digiring untuk mengedepankan sisi emosional dalam memilih calon pemimpin jika dibandingkan dengan rasionalitas. Padahal, idealnya, demokrasi langsung yang berkualitas akan terwujud jika rakyat memilih pemimpin dengan rasionalitasnya.
Sebuah ironi, di era yang semakin modern, pendidikan tinggi, mobilitas, serta teknologi canggih, politik primordial masih laris. Itu disebabkan cara seperti itu dinilai paling praktis, murah, dan gampang untuk digunakan merebut simpati rakyat secara emosional.
Meskipun cara semacam ini tidak dilarang aturan pemilu, bukan berarti boleh menggunakan itu dan mengeksploitasinya. Selain rentan menimbulkan perpecahan, itu membuat masyarakat teralihkan dari yang seharusnya melihat kualitas serta program kandidat menjadi sekadar menengok identitas-identitas primordial yang melekat pada diri sang kandidat.
Semestinya para elite politik ini sadar bahwa mereka punya tanggung jawab moral memberikan pendidikan politik yang bermutu bagi pemilih. Dengan demikian, publik mampu lebih mengedepankan rasionalitas mereka dalam menentukan pilihan politik. Lebih mempertimbangkan sisi kualitas serta program yang ditawarkan dalam memilih calon pemimpin mereka ketimbang sentimen emosional semata.
Untuk itulah, semua pihak, tidak terkecuali bagi Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga penyelenggara pemilu, punya tanggung jawab besar untuk mewujudkan demokrasi berkualitas, yang diisi dengan kampanye bermutu, tanpa hoaks.
Tidak berlebihan jika publik menuntut KPU untuk proaktif menyajikan informasi yang benar bagi publik. Tidak keliru jika KPU menyampaikan bahwa semua kandidat yang ditetapkan tidak terikat dengan organisasi terlarang seperti PKI.
Begitu juga dengan Badan Pengawas Pemilu yang wajib menegakkan hukum pemilu untuk memberantas hoaks, bahkan kampanye hitam. Jangan biarkan kampanye berisi wacana bobrok karena hanya akan membuat kualitas demokrasi kita jeblok.
BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia.
PEMERIKSAAN dua menteri dari era Presiden Joko Widodo oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik.
SAMA seperti perang terhadap korupsi, perang melawan narkoba di negeri ini sering dipecundangi dari dalam.
EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik.
BERAGAM cara dapat dipakai rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan, mulai dari sekadar keluh kesah, pengaduan, hingga kritik sosial kepada penguasa.
MANTAN Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan mantan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto telah resmi bebas dari tahanan.
Kebijakan itu berpotensi menciptakan preseden dalam pemberantasan korupsi.
ENTAH karena terlalu banyak pekerjaan, atau justru lagi enggak ada kerjaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memblokir puluhan juta rekening milik masyarakat.
KASUS suap proses pergantian antarwaktu (PAW) untuk kader PDI Perjuangan Harun Masiku ke kursi DPR RI masih jauh dari tutup buku alias belum tuntas.
Intoleransi dalam bentuk apa pun sesungguhnya tidak bisa dibenarkan.
KEPALA Desa ibarat etalase dalam urusan akuntabilitas dan pelayanan publik.
KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar.
NEGERI ini memang penuh ironi. Di saat musim hujan, banjir selalu melanda dan tidak pernah tertangani dengan tuntas. Selepas banjir, muncul kemarau.
Berbagai unsur pemerintah pun sontak berusaha mengklarifikasi keterangan dari AS soal data itu.
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
SEJAK dahulu, koperasi oleh Mohammad Hatta dicita-citakan menjadi soko guru perekonomian Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved