Ancaman Jewer Amien Rais

24/11/2018 05:00

MUHAMMADIYAH tentu saja bukan organisasi politik praktis yang ikut-ikutan mendukung calon presiden dan calon wakil presiden tertentu. Sebagai organisasi keagamaan, Muhammadiyah menjunjung tinggi politik kebangsaan.

Politik adiluhung itulah yang dirawat dan terus dijaga Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Pada berbagai kesempatan Haedar Nashir mengatakan bahwa Muhammadiyah bersikap netral dalam Pemilu 2019.

Sikap yang ditunjukkan Haedar Nashir sangat tegas dan terang benderang, tidak abu-abu. Ia sekuat tenaga menjaga Muhammadiyah tetap bergerak dan berkiprah dalam politik kebangsaan, politik tingkat tinggi, bukan terlibat dalam politik praktis. Sikap itu merujuk pada keputusan Muktamar Muhammadiyah 1971 di Makassar yang menyatakan bahwa organisasi ini tidak terikat dengan partai politik apa pun.

Benar bahwa warga Muhammadiyah, bahkan sebagian elitenya, menjadi pengurus partai tertentu. Akan tetapi, kehadiran warga dan elite organisasi di partai politik tidak serta-merta menyeret Muhammadiyah menjadi pendukung calon presiden dan wakil presiden tertentu.

Harus tegas dikatakan bahwa dalam realitas politik, warga Muhammadiyah ada yang mendukung pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin, ada pula yang mendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Elok nian kala pilihan politik warga Muhammadiyah diserahkan kepada pribadi-pribadi yang memiliki kedekatan emosional dengan pasangan capres-cawapres tanpa harus menyebutkan bahwa itulah pasangan capres-cawapres resmi dari Muhammadiyah. Muhammadiyah telah dijadikan sebagai rumah besar bagi semua anggota yang berbeda-beda partai dan afiliasi politik.

Hampir semua warga dan elite sangat memahami pilihan politik kebangsaan Muhammadiyah. Pilihan politik yang tidak pernah bergeser sejengkal pun sejak diselenggarakan pilpres di era reformasi. Hanya, seorang Amien Rais tampaknya mengambil sikap berbeda.

Amien Rais yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu malah berniat ‘menjewer’ Haedar Nashir bila tidak mengarahkan pilihan warga Muhammadiyah kepada calon presiden tertentu. Amien Rais ialah pendukung calon nomor urut 02.

Pernyataan Amien Rais itu membuat tercengang kawan dan lawan politik. Tercengang karena mereka tidak menyangka Amien Rais bisa berubah total demi kekuasaan. Bukankah Amien Rais yang dulu menulis lima doktrin Muhammadiyah, yang salah satu substansinya bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik kepartaian dan kekuasaan?

Kekuasaan memang menggiurkan. Namun, mengejar kekuasaan dengan menempuh semua cara, termasuk keinginan menceburkan organisasi keagamaan dalam kubangan politik praktis tentu jauh dari sikap bijak. Jika ada elite seperti itu, dia bukanlah seorang bijak bestari alias negarawan.

Bangsa ini akan mengalami kerugian amat besar jika membiarkan Muhammadiyah diceburkan dalam politik praktis. Muhammadiyah merupakan salah satu ormas terbesar di negeri ini, organisasi yang berorientasi keumatan, bukan politik kekuasaan. Bersama Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah bahu-membahu dan berada di garda terdepan dalam membangun peradaban negeri ini.

Ada secercah harapan tatkala warga Muhammadiyah masih jernih merawat kewarasan akal. Kritik terbuka terhadap Amien Rais datang dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pun menganggap ancaman 'jewer' dari Amien Rais sebagai angin lalu.

Publik berharap, sangat berharap, agar Muhammadiyah dan organisasi keagamaan lainnya tetap setia memegang dan menerapkan politik keadaban, bukan malah tersesat di jalan politik praktis. Pemimpin Muhammadiyah tentu saja tidak takut apalagi tunduk pada ancaman 'jewer' yang sekadar angin lalu.

 



Berita Lainnya