Pertobatan Ekologis

23/11/2018 05:00

SAMPAH di laut tidak hanya menyebabkan terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta ekosistem perairan. Jauh lebih berbahaya lagi ialah membahayakan kesehatan manusia.

Disebut membahayakan kesehatan manusia karena akibat pencemaran sampah plastik di laut, telah ditemukan kandungan plastik berukuran mikro dan nano pada biota dan sumber daya laut di perairan Indonesia.

Harus ada upaya menyeluruh untuk mengatasi sampah laut sebab 80% sampah itu berasal dari aktivitas di daratan. Karena itu, berbicara sampah sudah harus dalam paradigma hulu-hilir. Menangani sampah dari sumbernya dan juga mengatasi dampak serta penyelesaian akhirnya.

Kita mengapresiasi pemerintah yang sudah menyiapkan regulasi untuk menangani sampah laut secara menyeluruh. Presiden Joko Widodo pada 17 September 2018 sudah meneken Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Ada target yang jelas untuk menangani sampah plastik di laut sebesar 70% sampai 2025.

Meski ada target yang jelas, kita tentu saja prihatin atas peristiwa mati dan terdamparnya paus jenis sperma di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus sepanjang 9,5 meter itu ditemukan membusuk pada Senin (19/11). Yang menggegerkan ialah di dalam perut paus terdapat sampah plastik dari botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung terpal, dan kantong keresek.

Tegas dikatakan bahwa belum ada penelitian yang dapat mengonfirmasikan matinya paus sperma tersebut akibat memangsa sampah plastik. Akan tetapi, ditemukannya sampah seberat 5,9 kilogram di perut seekor paus tetaplah sebuah fakta yang mengguncang kesadaran kita.

Fakta tersebut tentu menguatkan hipotesis bahwa ekosistem perairan di planet ini semakin tercemar. Namun, kita tidak dapat melompat dan serta-merta menarik kesimpulan betapa pencemaran akibat sampah plastik di perairan laut kita sudah berada di level yang sangat berbahaya.

Paus sperma jelas bukan spesies endemik yang hanya bisa hidup di perairan Wakatobi. Selain di perairan Indonesia, secara umum paus sperma bisa ditemukan di sebagian besar perairan di dunia, dari perairan tropis, subtropis, hingga wilayah Kutub Utara ataupun Kutub Selatan.

Sampah plastik dalam perut paus itu juga belum dapat dipastikan berasal dari daratan Indonesia. Karena itu, mengatasi sampah plastik di laut harus menjadi komitmen seluruh umat manusia.

Sampah plastik telah menjadi persoalan serius semua negara yang tidak bisa dipandang remeh. Pada 2015 ada temuan yang lebih mengenaskan. Ketika itu, sekelompok peneliti menemukan adanya sedotan plastik terisap di lubang hidung kura-kura hidup.

Temuan di perairan Kosta Rika itu didokumentasikan dalam video berdurasi 8 menit. Digambarkan dalam video tersebut, sedotan plastik itu dicabut secara perlahan dari hidung kura-kura yang berdarah.

Kasus paus dan kura-kura itu sepatutnya menjadi penggugah kesadaran kita semua bahwa persoalan sampah plastik sudah saatnya ditingkatkan ke level darurat.

Seluruh pemangku kepentingan, dari individu, keluarga, kelompok, komunitas, masyarakat, hingga negara wajib bahu-membahu meningkatkan kesadaran terhadap bahaya sampah plastik.

Kebijakan insentif bagi industri yang ramah lingkungan dan disinsentif kepada mereka yang abai terhadap pengelolaan sampah plastik perlu terus didorong.

Sampah plastik merupakan komponen yang paling sulit diurai proses alam sehingga berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Saatnya melakukan pertobatan ekologis dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

 



Berita Lainnya