Pahlawan di Tengah Krisis Keteladanan

10/11/2018 05:00

BANGSA ini telah memiliki 179 pahlawan nasional. Jumlah yang sebenarnya lebih dari cukup sebagai sumber keteladanan bagi anak bangsa. Namun, elite kini justru lebih senang memamerkan nafsu kekuasaan dan keserakahan ketimbang berlomba-lomba untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa seperti yang ditunjukkan para pahlawan.

Bangsa ini kini hidup di era krisis keteladanan pahlawan. Padahal, semestinya dengan semakin banyak jumlah 'pahlawan resmi' semakin banyak pula pelajaran dan nilai keteladanan yang dapat diserap. Begitu banyak nilai luhur dan semangat heroisme yang mestinya bisa diambil dari para pahlawan itu. Akan tetapi, sekali lagi, para elite tidak juga dapat memetiknya.

Alih-alih mempraktikkan nilai-nilai luhur pengorbanan dan persatuan, kelompok elite malah lebih sering mempertontonkan nilai-nilai buruk keserakahan dan politik kekuasaan. Politik kebangsaan seolah haram tercatat di kamus mereka. Mereka hadir di tengah rakyat hanya ketika butuh dukungan suara, bukan karena panggilan jiwa.

Demi ambisi politik, nilai-nilai persatuan kerap ditanggalkan. Perbedaan justru ditonjolkan. Politik pesimisme yang memancarkan ketakutan, ketidakpastian, dan kebohongan terus-menerus digaungkan. Politik hanya dipandang sebagai alat pragmatis meraih kekuasaan, bukan untuk menyejahterakan bangsa.

Jangankan untuk melahirkan pahlawan, untuk mengambil inspirasi dari pahlawan-pahlawan yang sudah lampau pun mereka abai. Mereka justru bersikap dan berlaku berseberangan dengan nilai-nilai kepahlawanan. Kekuasaan mereka tempatkan di posisi tertinggi, kegaduhan untuk merebutnya pun menjadi kreasi tiada henti.

Namun, di tengah kegaduhan politik yang kian menjadi di Republik ini, hadir pahlawan yang dengan jiwa patriotisme luar biasa membuat nama bangsa semerbak di seantero dunia. Dia ialah Eko Yuli Irawan. Dia bukan politikus, bukan pula bagian dari elite. Dia merupakan atlet angkat besi yang bertubuh kecil, tetapi punya prestasi sangat besar.

Eko Yuli baru saja mempersembahkan prestasi terbaik di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 di Askhabad, Turkmenistan. Dia berjaya di kelas 61 kg dengan total angkatan 317 kg, hasil dari angkatan snatch 143 kg dan clean & jerk 174 kg. Hebatnya lagi, tak cuma menjadi juara dunia, Eko juga mencetat rekor baru dunia.

Eko ialah bukti bahwa pahlawan pada zaman sekarang datang dari kalangan rakyat kebanyakan, bukan dari mereka yang bergelimang harta dan kekuasaan. Nilai perjuangan Eko sejak kanak-kanak, tekun, kerja keras, dan berhasil meraih prestasi tertinggi ialah teladan nyata.

Sosok Eko Yuli menjadi oase di tengah sulitnya menemukan sosok idola dan anutan di kalangan elite. Eko mengajarkan penghargaan pada proses untuk meraih prestasi. Dia tak pernah kehabisan energi dan kekeringan ambisi untuk mengangkat nama negeri. Sebelumnya, bersama sederet atlet lainnya, dia juga mempersembahkan medali emas sehingga Indonesia menorehkan hasil luar biasa di Asian Games 2018.

Eko, juga para atlet yang berlaga di Asian Games ataupun Asian Para Games 2018, ialah inspirasi bagi bangsa ini. Berkat kegigihan mereka, kita mendapatkan pengakuan dunia. Berkat patriotisme mereka, kita mampu menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa besar lainnya.

Jika masih punya malu, elite semestinya mau berkaca dari pahlawan-pahlawan masa kini itu. Kalau enggan meneladani para pahlawan di masa lampau, belajarlah dari mereka tentang nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan patriotisme.

Bangsa ini sudah jenuh dengan kebisingan yang dibuat para elite lantaran sibuk berebut kekuasaan. Bangsa ini butuh keteladan seperti yang ditunjukkan Eko Yuli Irawan dan pahlawan kekinian lainnya.

 



Berita Lainnya