Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KATA sontoloyo tiba-tiba menjadi populer akhir-akhir ini. Ia menjadi gambaran atas sepak terjang sebagian politikus yang sesat pikir sekaligus sesat jalan karena mabuk keinginan untuk menggapai kekuasaan.
Tak tanggung-tanggung, kata sontoloyo itu diungkapkan Presiden Joko Widodo pada dua kesempatan yang berbeda. Pertama, dia menyampaikannya saat penyerahan sertifikat tanah gratis kepada 5.000 warga DKI Jakarta di Kebayoran Lama, Selasa (23/10). ”Hati-hati. Ada politikus yang baik-baik, tetapi banyak juga politikus sontoloyo,” ujar Presiden Jokowi.
Sehari kemudian seusai membuka Trade Expo Indonesia di Tangerang, Banten, Jokowi kembali mengutarakan kekesalannya terhadap politik sontoloyo. Politik yang dimainkan sebagian politikus dengan cara-cara yang menyimpang dari keadaban.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sontoloyo berarti konyol, tidak beres, atau bodoh. Ia dipakai sebagai kata makian atau umpatan. Dalam konteks inilah pro dan kontra atas penggunaan istilah sontoloyo oleh Jokowi mengemuka. Seakan mendapat amunisi tambahan untuk menyerang, barisan oposisi menyebut bahwa presiden tak patut melontarkan kata sontoloyo.
Boleh jadi, kata sontoloyo memang kurang tepat diucapkan seorang presiden. Jokowi pun dengan kerendahan hati lantas mengakui bahwa dirinya kelepasan melontarkan istilah itu. Namun, substansi pernyataan Jokowi sulit diingkari memang relevan dengan situasi politik saat ini.
Mustahil disangkal, di kala Pemilu dan Pilpres 2019 kian mendekati hari H, perpolitikan di negeri ini semakin kebablasan, bahkan kian liar. Kekuasaan benar-benar membius sebagian orang, sampai-sampai mereka tega menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Deklarasi damai yang diteken kontestan Pemilu dan Pilpres 2019 pada September silam kini menjadi catatan usang. Sebagian dari mereka yang ketika itu bersepakat untuk melaksanakan pemilu sesuai dengan peraturan, tak memolitisasi SARA, dan tidak menyebarkan ujaran kebencian, kini berlaku sebaliknya.
Demi kekuasaan, sebagian politikus melancarkan seabrek jurus untuk memikat suara rakyat, tak peduli apakah jurus itu benar atau sesat. Demi kekuasaan, sebagian politikus tak ragu, tak juga malu, menebarkan kebohongan dan fitnah. Demi kekuasaan pula, sebagian politikus mengabaikan etika dan tata krama.
Yang lebih menjengkelkan, sebagian politikus sampai hati menerapkan strategi busuk semacam devide et impera di era kolonial atau politik pecah belah dan adu domba. Mereka menempatkan kekuasaan sebagai harga mati, tak peduli meski ia harus ditebus dengan terkoyaknya tenun kebangsaan dan persatuan.
Kita prihatin, amat prihatin, pemilu dan pilpres yang semestinya menjadi ajang pesta demokrasi yang menggembirakan masih dicemari dengan cara-cara di luar keadaban. Kita pun khawatir, amat khawatir jika kesesatan itu terus dilanggengkan, pesta demokrasi akan menjelma menjadi petaka demokrasi.
Pada konteks itulah kita mesti menempatkan istilah sontoloyo sebagai alarm bagi seluruh anak bangsa untuk tidak ugal-ugalan dalam berpolitik. Ia ialah pengingat bagi para elite politik untuk tidak terus-terusan memanipulasi sentimen publik dengan cara-cara kotor demi mendapatkan dukungan politik.
Jika pelaku politik masih gemar memolitisasi SARA, menebarkan kebohongan dan virus kebencian, atau memecah belah rakyat sebagai senjata dalam kompetisi demokrasi, mereka memang politikus sontoloyo. Kendati terdengar kasar, istilah itu patut dilekatkan kepada mereka yang memandang kekuasaan di atas segalanya sehingga harus direbut dengan segala cara.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved