Gemilang Jadi Tuan Rumah

15/10/2018 05:00

TAHUN ini Indonesia dipercaya komunitas dunia untuk menyelenggarakan tiga agenda internasional sekaligus. Perhelatan kompetisi olahraga se-Asia, Asian Games ke-18, yang berlangsung selama dua pekan, telah menutup kegiatan pada 2 September lalu. Kemudian, dilanjutkan ajang unjuk kemampuan olahraga oleh para atlet disabilitas seantero Asia.

Agenda Asian Para Games 2018 tersebut berakhir Sabtu malam setelah melalui rangkaian pertandingan selama delapan hari. Sehari kemudian, kemarin, agenda ketiga, yaitu Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali pun tuntas terlaksana. Bukan sekadar merampungkan, Indonesia mampu menyelenggarakan ketiga agenda dengan sukses. Ukuran keberhasilan ditunjukkan oleh berbagai indikator.

Pujian mengalir dari pembukaan Asian Games 2018 yang begitu semarak dan kental nuansa budaya Indonesia. Bahkan, acara itu banyak disebut masyarakat internasional bertaraf olimpiade. Kerja bareng pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan beserta Pemerintah Kota Palembang, mendapat dukungan antusiasme warga yang begitu besar.

Tiap hari kompleks arena Asian Games, baik di Jakarta maupun Palembang, dipadati masyarakat. Antusiasme tersebut berlanjut ke ajang Asian Para Games. Bukan hanya atlet Indonesia, atlet warga negara lain pun merasa bergairah mengikuti pertandingan. Apa pasal? Masyarakat yang datang menonton menyemangati semua atlet tanpa memandang dari mana atlet tersebut berasal.

Hasilnya pun sangat memuaskan sekaligus membanggakan. Semua target meleset, ‘meleset ke atas’, kata Presiden Jokowi. Para atlet nasional yang berlaga di Asian Games ataupun Asian Para Games tampil sangat gemilang hingga menorehkan prestasi jauh lebih baik daripada yang diminta pemerintah, baik dari sisi perolehan medali maupun peringkat.

Sungguh tepat bila kemudian pemerintah mengganjar para atlet dengan bonus yang terhitung besar. Malah, ibaratnya sebelum keringat mereka kering, bonus sudah masuk ke rekening para peraih medali. Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia pun tidak kalah sukses kendati sempat menuai kritik yang kebanyakan asal bunyi.

Pidato Presiden Jokowi yang menyentil kemudaratan perang dagang mengundang hingga dua kali standing ovation alias tepuk tangan sambil berdiri dari para delegasi. Dengan memakai analogi perebutan kekuasaan dan pengaruh di serial populer dunia Game of Thrones, Jokowi menunjukkan secara gamblang betapa perang dagang telah mengarah pada kondisi kalah jadi abu menang jadi arang.

Pemenang dan yang kalah sama-sama tidak mendapatkan apa-apa. Pelaksanaan pertemuan bidang finansial terbesar di dunia tersebut diakui sangat sukses oleh para delegasi. Walau digelar cukup megah, pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia tidak mengabaikan suasana duka akibat bencana yang menimpa warga di Lombok dan di Sulawesi Tengah.

Pemerintah pun memenuhi tuntutan agar berhemat dalam penyelenggaraan pertemuan itu. Dari Rp855,5 miliar pagu anggaran yang disepakati dengan DPR, anggaran yang terpakai hanya sekitar Rp567 miliar. Di sisi lain, Indonesia berhasil meraih kesepakatan bisnis dan investasi dengan nilai tidak kurang dari Rp200 triliun.

Tentu patut kita berbangga atas apresiasi dunia yang terus mengalir. Dengan kesuksesan menyelenggarakan tiga agenda internasional tahun ini, Indonesia makin mengukuhkan diri sebagai anggota komunitas global yang layak diperhitungkan dan didengar. Jauh lebih penting lagi, semangat persatuan yang dibangun selama tiga agenda itu digelar tetap bisa dirawat dan dilanjutkan.



Berita Lainnya