Pesan Moral dari Bali

13/10/2018 05:05

PEMBUKAAN Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali, kemarin, dimanfaatkan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan pesan moral. Pesan untuk bersama-sama mengatasi situasi perekonomian global yang tidak kondusif saat ini.

Kondisi tidak kondusif itu ditandai bangkitnya proteksionisme dan kian memanasnya kompetisi negara adikuasa dalam perang dagang.

Pesan yang disampaikan Jokowi terbilang berani, sindiran keras langsung dialamatkan kepada negara-negara penguasa ekonomi dunia. Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok harus diakhiri karena telah membuat gejolak ketidakpastian ekonomi global dan mengancam perekonomian negara-negara berkembang.

Tanpa disadari, jika perselisihan dan kompetisi dagang berlanjut, negara-negara di dunia melupakan hal penting, yakni kondisi ketidakpastian ekonomi global yang lebih berdampak bagi masyarakat dunia. Isu perubahan iklim, penyakit, sampah plastik, dan persoalan lingkungan lainnya seakan dilupakan.

Harus tegas dikatakan bahwa Jokowi punya cara sendiri menyampaikan pesan yang begitu tegas dan keras tanpa menyakiti. Pihak yang dibidik pun tidak merasa dihakimi. Ia membawakan materi pidato dengan ide-ide yang tidak biasa. Metafora yang digunakan Jokowi sangatlah kreatif.

Presiden Jokowi mampu memberikan sindiran keras bagi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi tidak ada yang tersakiti. Pidato Jokowi malah diganjar tepuk tangan meriah dari hadirin yang merupakan pimpinan negara, menteri keuangan, serta gubernur bank sentral. Tidak cukup sekali, sampai dua kali Jokowi mendapatkan standing applause.

Jokowi menganalogikan kondisi dunia saat ini dengan serial Game of Thrones. "Tahun depan kita akan menyaksikan season terakhir dari serial Game of Thrones. Saya bisa perkirakan bagaimana akhir ceritanya. Saya yakin, ceritanya akan berakhir dengan pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan, bukan hanya bagi yang kalah. Namun, juga yang menang," tegas Jokowi.

Selanjutnya Jokowi mengatakan, "Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi, barulah kemudian kedua-duanya sadar bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang selalu hasilnya sama, yaitu dunia yang porak-poranda. Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar, di tengah dunia yang tenggelam."

Pesan moral yang digaungkan itu sangat terang benderang bahwa kalah atau menang dalam perang dagang tidak ada yang untung karena kalah jadi abu menang jadi arang.

Kita menggantungkan harapan di atas pundak peserta pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia sebab mereka ialah pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia. Saat ini dibutuhkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang mampu menyangga dampak dari perang dagang, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian pasar.

Pesan yang dikumandangkan dari Bali sangat tegas bahwa inilah saat yang tepat untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Bukan melanggengkan rivalitas dagang di antara negara maju yang mengakibatkan negara-negara berkembang terjepit, ibarat gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah.



Berita Lainnya