PEMILU Presiden 2014 yang diikuti dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden melegakan sekaligus mencemaskan. Melegakan karena kontestasi di antara kedua pasangan sangat mungkin berlangsung dalam satu putaran. Kita bisa menghemat duit, waktu, dan energi. Namun, pilpres juga mencemaskan lantaran konflik horizontal bisa saja pecah akibat kerasnya persaingan. Karena diikuti hanya dua pasangan, kedua kubu praktis berhadap-hadapan secara diametral.
Kecemasan akan membuncahnya konflik telah menjadi kenyataan. Di Yogyakarta, pecah bentrokan antara massa Gerakan Pemuda Kabah yang berada di bawah Partai Persatuan Pembangunan dan massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Kita tahu, PPP tergabung dalam partai koalisi pendukung Prabowo-Hatta, sedangkan PDIP salah satu parpol pengusung Jokowi-Jusuf Kalla. Kecemasan kita makin memuncak manakala salah satu kubu menghalalkan segala cara terhadap kubu lainnya, misalnya melalui teror, intimidasi, dan kekerasan. Masih di Yogyakarta, sejumlah pendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dilaporkan mengalami kekerasan dan intimidasi.
Di Jakarta, ancaman bahkan dilancarkan oleh mantan aparat. Bekas anggota Tim Mawar, pasukan yang diduga menculik sejumlah aktivis, mengancam akan bergerilya mencari orang-orang yang, dalam istilah mereka, bicaranya tak bertanggung jawab. Ancaman ini muncul setelah mantan Menhankam/Pangab Jenderal (Purn) Wiranto menyatakan Prabowo sebagai inisiator penculikan. Sungguh berbahaya bila ancaman oleh pihak yang punya sisa-sisa pasukan dan keterampilan tempur itu dilaksanakan. Pihak lain dengan kekuatan dan kemampuan yang kurang lebih seimbang tentu akan mempertahankan diri. Bila itu terjadi, rakyat juga yang menjadi korban seperti pelanduk yang mati di tengah-tengah dua gajah yang berkelahi.
Teror atau intimidasi lainnya dilakukan melalui kampanye hitam. Tabloid Obor Rakyat, juga surat panggilan dari Kejaksaan Agung kepada Jokowi dan transkrip percakapan Ketua Umum PDIP Megawati dengan Jaksa Agung Basrief Arief yang ternyata palsu, merupakan bentuk teror dan kekerasan psikologis. Kita mengecam keras cara-cara teror demi mengalahkan kompetitor. Teror, intimidasi, ataupun kekerasan bukanlah cara-cara beradab. Cara-cara kotor itu hanya mencederai demokrasi yang telah kita bangun dengan susah payah.
Siapa pun yang kelak menang dalam kontestasi pilpres melalui cara-cara kotor bukanlah pemimpin terhormat. Apalah artinya hidup sekalipun sebagai pemimpin bila tak punya kehormatan. Siapa pun sesungguhnya bisa menempuh jalan beradab melalui jalur hukum untuk menyelesaikan berbagai perbuatan yang dianggap melanggar aturan. Namun, aparat penegak hukum harus menangani laporan masyarakat dengan penuh kesungguhan. Aparat hukum tidak boleh lelet, tetapi harus proaktif. Tegakkan hukum secara adil, cepat, dan cermat. Aparat semestinya menyelesaikan semua laporan pidana terkait dengan pilpres sebelum 9 Juli 2014. Berlama-lama menyelesaikan perkara akan dianggap berpihak pada salah satu kubu.
Padahal, aparat digaji dengan duit rakyat untuk mengabdi pada rakyat, bukan pada salah satu kandidat. Bila aparat hukum lelet, apalagi gagal menyelesaikannya, masyarakat bisa kehilangan kesabaran. Kita khawatir mereka membalas kekerasan yang mereka alami. Konflik horizontal pun tak terhindarkan. Konflik horizontal yang pecah gara-gara kegagalan aparat hukum merupakan ironi besar dalam perjalanan penegakan hukum di negeri ini. Kita semua mendambakan Pemilu Presiden 2014 berlangsung aman, damai, serta beradab.
Berita Lainnya
-
28/4/2026 05:00
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang sejatinya bertugas mengusut dan memberantas korupsi
-
27/4/2026 05:00
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga bukan tidak menyadari persoalan ini.
-
25/4/2026 05:00
GOOGLE dan Youtube akhirnya tunduk dan manut terhadap aturan main di Indonesia.
-
24/4/2026 05:00
JUTAAN siswa berjuang keras tiap tahun untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik demi meraih masa depan.
-
23/4/2026 05:00
PENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang kemudian disusul penaikan harga elpiji nonsubsidi, memang tak terhindarkan.
-
22/4/2026 05:00
SETELAH penantian panjang, 22 tahun lamanya, akhirnya pekerja rumah tangga (PRT) diakui negara sebagai sebuah profesi.
-
21/4/2026 05:00
PERNYATAAN Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang meminta jajarannya tidak sembarangan menetapkan kepala desa sebagai tersangka, patut dicermati secara jernih
-
20/4/2026 05:00
DUA hari lagi, tepatnya 22 April 2026, kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji Indonesia akan melangkahkan kaki dan bertolak meninggalkan asrama haji menuju Tanah Suci
-
18/4/2026 05:00
KAMPUS seharusnya menjadi ruang aman, menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, dan membangun karakter.
-
17/4/2026 05:00
Kebebasan pers merupakan sebuah wujud kemuliaan yang menjadi nadi dari negara demokrasi.
-
16/4/2026 05:00
AKSI premanisme kembali mengoyak rasa aman publik.
-
15/4/2026 05:00
PRESIDEN Prabowo Subianto kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke daratan Eropa.
-
14/4/2026 05:00
PENANGKAPAN Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, membuka tabir yang teramat menyesakkan dada.
-
13/4/2026 05:00
Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan keniscayaan.
-
11/4/2026 05:00
PROSPEK perdamaian di Timur Tengah mulai tampak, tetapi seperti fatamorgana. Damai itu terlihat dekat, tapi mudah menguap sebelum benar-benar terwujud.
-
10/4/2026 05:00
Kejaksaan tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas langkah yang diambil oleh JPU.