Menantang Gubernur Baru

07/9/2018 05:00

SEMBILAN gubernur dan wakil gubernur, Rabu (5/9), telah mengawali rangkaian pelantikan kepala daerah yang telah ditetapkan sebagai pemenang dalam pilkada serentak 2018 Juni lalu. Usai sudah sorak-sorai dan pesta kemenangan. Mereka harus mulai bekerja untuk melunasi setumpuk janji yang dilontarkan kepada calon pemilih saat kampanye, juga segepok tantangan lain.

Tidak ada argumentasi lain, inilah waktunya mereka berganti baju, memakai pakaian kerja dan menanggalkan baju partai. Baju ialah simbol loyalitas. Itu artinya mulai sekarang mereka tidak boleh lagi menyisakan sedikit pun ruang loyalitas untuk partai politik pendukung ataupun pengusung, dan mesti bersetia kepada rakyat.

Harus diakui, para gubernur itu dihasilkan dari sebuah proses kompetisi demokrasi yang tentu saja di dalamnya terdapat bumbu-bumbu pertikaian ataupun kompromi. Bahkan tak sedikit yang sampai memunculkan polarisasi tajam di masyarakat. Akan tetapi, ketika hal itu sudah dapat dilalui dan kemenangan sudah mereka dapatkan, saat itu juga mereka menjadi milik rakyat, bukan lagi milik partai atau golongan mana pun.

Itulah tantangan terberat para gubernur yang baru dilantik, terutama di awal tugas. Mereka terlebih dahulu harus memenangi 'pertarungan' melawan ego sendiri karena sesungguhnya demokrasi, kata orang bijak, ialah kerelaan untuk mengorbankan separuh keinginan pribadi untuk digantikan dengan separuh kehendak orang lain.

Setelah selesai dengan diri mereka sendiri, para gubernur harus bisa tampil sebagai pemimpin bagi semua. Pemimpin yang tak hanya mengayomi semua kelompok dan golongan, tapi juga mampu menciptakan pemerintahan yang sesuai dengan kehendak rakyat sekaligus menggerakkan partisipasi seluruh rakyat untuk mencapai agenda dan tujuan bersama. Itulah yang disebut pemimpin autentik.

Dari merekalah sesungguhnya bibit pemimpin bangsa yang berwatak negarawan dapat dihasilkan. Sosok Presiden Joko Widodo bolehlah dijadikan satu contoh konkret bahwa pemimpin negara tak melulu harus merupakan hasil godokan politik tingkat pusat, tapi juga bisa menetas dari daerah. Pemimpin yang sudah biasa menggeluti dan ditempa persoalan-persoalan mikro di daerah amat mungkin memiliki kapabilitas dan kualitas yang lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya melihat dari kejauhan di pusat.

Namun, tentu saja kapabilitas dan kualitas itu harus dibuktikan dulu ketika mereka memimpin daerah. Jalan untuk menjadi pemimpin di level yang lebih tinggi akan terbuka lebar ketika mereka bisa menunjukkan kemampuan mengolah asa menjadi kenyataan, merealisasikan gagasan-gagasan brilian, dan yang terpenting mampu membawa daerah mereka bergerak maju. Ikuti saja proses itu.

Sungguh tak elok, kalau belum apa-apa, mereka justru menjadikan posisi kepala daerah hanya sebagai loncatan instan demi target menjadi pemimpin negeri. Karena itu, kiranya kita patut memberikan dukungan sekaligus kesempatan kepada para gubernur yang baru saja dilantik untuk membuktikan. Inilah saatnya mereka bekerja demi rakyat.

Jangan habiskan waktu untuk mematut diri. Jika itu yang dilakukan, Anda akan 'dihabisi' publik dan waktu itu sendiri. Selesaikan problem di daerah, sejahterakan rakyatnya, niscaya negara ini akan menarik Anda dalam tugas, amanat, dan tanggung jawab yang lebih besar.

 



Berita Lainnya